EDITORIALHEADLINE

Skandal Dunia Pendidikan dan Mental Korup Pejabat

ilustrasi

Pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk mengubah dunia (Nelson Mandela, 16 Juli 2003), itulah kata – kata salah seorang pemimpin dunia yang benar – benar telah membuktikan dirinya mampu mengubah dunia.

Di setiap hajatan politik di negeri ini kita tidak pernah di lepaskan dari dugaan ‘kasus ijazah palsu”, dan setumpuk ‘gelar akademik hasil beli’ yang melibatkan sejumlah calon pemimpin di Indonesia, bukan hanya di Papua yang bisa dikatakan indicator pendidikannya masih tertinggal dengan daerah lainnya di Indonesia, di belahan provinsi lainnya juga kasus serupa masih nyaring terdengar.

Semua yang di pertontonkan oleh para elite – elite politik kita saat ini tentu bukanlah sebuah kasus yang berdiri sendiri, namun bisa dikatakan sebagai sebuah perselingkuhan yang nyata dengan dunia pendidikan khususnya lembaga pendidikan itu sendiri yang di harapkan bisa mengajarkan dan menularkan nilai – nilai luhur, justru cenderung menjadi ‘agen dan calo” bagi mencetak para pemimpin yang tidak jujur dan rela menipu diri sendiri dan juga menipu orang banyak demi gelar muka belakang yang mentereng, namun sebenarnya isinya kosong melompong.

Apakah ini karena jargon kampanye yang selalu di dengungkan oleh elite – elite politik dalam setiap hajatan politik, kampanye soal pendidikan gratis adalah selalu menjadi menu utama yang di sodorkan ke publik, sehingga pendidikan tidak ubahnya dari selembar kertas bernama ijazah yang bisa di rekayasa demi pemenuhan hasrat ketamakan akan kekuasaan dan jabatan ?

Dalam praktek globalisasi dan kapitalisasi dunia pendidikan jelas berlaku hukum pasar, tidak akan mungkin ada permintaan pasar bila tidak ada supplier produknya, siapa yang menjadi supplier dalam sejumlah kasus ‘dugaan ijazah palsu’ ataupun ‘gelar hasil beli’, sudah pasti lembaga pendidikan, hal itu terbukti dengan maraknya iklan – iklan berseliweran di ranah public tentang penawaran kuliah cepat, tidak pake belajar, bayar uang kuliah sesuai jumlah semester, sekalipun hadir kuliah hanya sekali seumur hidup pun kita bisa mendapatkan gelar akademik.

Jadi kita tidak bisa serta merta menyalahkan bila ada individu – individu yang tidak bermoral dan tidak memiliki harga diri memilih jalur cepat ingin menyandang gelar mentereng, agar terlihat hebat di mata orang banyak lalu tergiur dalam jebakan komersialisasi dunia pendidikan baik secara terbuka maupun terselubung dengan judul cara cepat dapat gelar akademik dan ijazah, karena lembaga pendidikan sendiri sudah melupakan fungsi utama dari keberadaan mereka.

Bagaimana kita berharap banyak lembaga pendidikan mampu mencetak insan – insan jujur, bermoral, bila pada prakteknya lembaga pendidikan di negeri ini ibaratnya justru menjadi sarang mencetak para penyamun.

Seolah – olah ijazah tidak lebih dari persoalan selembar kertas belaka, yang tidak memiliki multi effect bagi dekadensi moral bangsa yang di pertontonkan ke public secara terang benderang, sehingga pesan yang diterima oleh anak bangsa adalah, tidak penting apa pendidikanmu, yang penting berapa banyak uangmu, maka setumpuk gelar bisa kita dapatkan, jadi ngapain habiskan waktu dengan belajar dan belajar, karena untuk mengubah dunia tidak butuh orang berilmu yang telah melalui proses pendidikan sekian tahun, tetapi cukup berduit untuk membayar setumpuk gelar muka belakang agar terlihat mentereng.

Mungkin negeri ini sedang sakit ! (Redaksi)

Tinggalkan Balasan