EKBIS NASIONALHEADLINE

Ini Penyebab Harga Telur Bikin Geger Indonesia

salah satu peterak ayam petelur di Boyolali. (Foto : doc. detikfinance.com)salah satu peterak ayam petelur di Boyolali. (Foto : doc. detikfinance.com)

TIFA Online, JAKARTA— Sebulan terakhir ini harga telur sedang jadi trending topic di seantero negeri, karena di luar kelaziman, tiba – tiba harga telur naik di pasaran, bahkan di beberpaa pasar tradisional stok telur tidak tersedia.

Seperti di lansir Merdeka.com, Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita, menyebut bahwa kenaikan harga telur karena adanya kenaikan harga pakan, sehingga biaya produksi tinggi dan dampaknya para distributor telur ikut serta menaikkan harga ke pedagang.

Beberapa peternak seperti di lansir detikfinance.com, menjelaskan ada beberapa factor yang menyebabkan terjadinya kenaikan harga telur dalam sebulan terakhir ini.

Pengakuan Tukinu, salah satu peternak ayam kepada detikfinance.com , salah satu penyebabnya adalah bangkrutnya peternak kecil dan ternak ayam yang di serang penyakit sehingga produksi mereka menurun.

“Mengapa harga telur bisa naik, ada beberapa faktor. Satu, ada kemungkinan peternak-peternak kecil tidak bisa bertahan. Karena waktu harga telur itu Rp 17.000 – Rp 18.000/kg, peternak dengan jumlah ternak 1.000 atau 2.000 ekor atau peternak home industri banyak yang tidak tahan,” kata Tukinu di Boyolali, Selasa (10/7/2018), dikutip dari detikfinance.com.

Penyebab kedua menurutnya akhir-akhir ini banyak ternak ayam petelur yang diserang penyakit sehingga produksi telur tidak maksimal atau mengalami penurunan.

Harga telur di tingkat peternak di Boyolali, mencapai Rp 24.000/kg. Jumlah peternak ayam petelur di Boyolali, terangnya, saat ini sekitar 45 peternak. Jumlah produksi mencapai sekitar 25 ton. Selain untuk mencukupi kebutuhan Boyolali dan sekitarnya, telur dari peternak di Boyolali juga dikirim ke Jakarta.

Dikemukakan dia, peternak tidak bisa menahan telur itu berlama-lama karena berisiko rusak. Produksi telur harus segera dilempar ke pasar dalam waktu satu sampai dua hari setelah panen. Pasalnya, daya tahan telur hanya sampai sekitar 10 hari.

Kepala Bidang Kesehatan Hewan (Keswan) Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakan) Boyolali, Afiany Rifdania, dikonfirmasi membenarkan bahwa akhir-akhir ini banyak ternak unggas yang terserang penyakit. Penyakit itu berupa virus.

“Sub tipe avian influenza H9N2 yang low patogenic (tidak menular ke manusia). Bukan mutasi virus tetapi strain baru yang ditemukan pada virus AI selain H5N1,” jelas Afi, sapaan akrabnya ditemui usai mengikuti rapat paripurna DPRD di gedung DPRD Boyolali, Selasa (10/7/2018), dikutip dari detikfinance.com.

Ketua Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) Petelur Nasional Feri mengungkapkan salah satu penyebab mahalnya harga telur juga disebabkan oleh larangan pemerintah terhadap pemakaian Antibiotic Growth Promotor (AGP),karena AGP membuat pasokan ayam berkurang yang berimbas rendahnya pasokan telur di pasar dan berdampak kenaikan harga.

Adapun larangan memakai AGP diatur dalam Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) 14 Tahun 2017 tentang Klasifikasi Obat Hewan. Beleid ini berlaku sejak 12 Mei 2017, tetapi pengawasan pelaksanaannya dimulai 1 Januari 2018. Pelarangan ini sendiri dimaksudkan membuat kualitas ternak ayam lebih baik dan tak mengandung obat-obatan.

“AGP itu bahan imbuhan dalam pakan agar ayam tetap sehat, tapi diduga punya residu dan bahaya bagi manusia. Pemerintah larang itu sekarang dan itu langkah yang baik. Konsekuensinya berdampak pada kesehatan ayam, lebih rentan sakit. Tapi itu tidak apa karena kita ingin produksi telur yang sehat, nutrisi untuk bangsa,” paparnya di Kementerian Perdagangan, Jakarta, Senin (16/7/2018), dikutip dari okezone.com.

Feri menyebutkan, kondisi ini pasokan membuat ayam petelur berkurang 10% karena penyakit. “Saat ini (pasokan ayam petelur) turun 5%-10% karena penyakit,” katanya.

Di sisi lain, kebutuhan yang tinggi saat Ramadan terlebih pada Lebaran terhadap ayam, menjadi kesempatan peternak menjual ayam petelur yang afkir atau tak produktif lagi. Hal ini menjadi biasa tiap kali menjelang Lebaran. Hal ini membuat total ayam petelur berkurang 20% sepanjang Lebaran hingga saat ini.

“Selebihnya karena afkir, yang normal jelang Lebaran. Itu kita potong karena karakteristik ayam petelur yang dagingnya keras dan dicari untuk opor, pasti carinya ayam petelur atau ayam kampung. Jadi setiap tahun jelang Lebaran pasti kita afkir,” paparnya.

Sementara, Ketua Umum Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (Gopan) Heri Dermawan menambahkan, pelarangan AGP membuat kualitas ayam menjadi mudah terserang penyakit atau pun kerdil, hal ini mengganggu produktivitas.

“Kalau saya pelihara ayam 1.000, biasanya bisa panen 950 ekor, yang 50 ekor afkir. Sekarang ini kalau saya pelihara ayam 1.000 paling hanya bisa panen 800 ekor, yang 200 kerdil, enggak layak jual,” jelasnya.

Di sisi lain, pengurangan suplai telur di dorong libur panjang Lebaran. Pasalnya, pekerja yang libur membuat kegiatan memproduksi ayam petelur tak dapat dilakukan, maka pasca libur peternak hanya mengandalkan stok ayam petelur lama.

Kondisi berkurangnya pasokan ayam ini, membuat produksi telur pun berkurang. Sehingga permintaan yang melonjak tak dibarengi dengan pasokan yang cukup membuat harga telur meningkat. (walhamri wahid/ dikutip dari beberapa sumber)

Tinggalkan Balasan