FEATUREHEADLINETANAH PAPUA

RSUD Dok II Jayapura, Rumah Sakit Yang Sekarat ?

RSUD Dok II Jayapura, Rumah Sakit Yang Sekarat ?, tampak Ketua DPRP Yunus Wonda memberikan keterangan pers usai rapat dengan seluruh staff RSUD Dok II Jayapura. (Foto : Arie Bagus /TIFA Online)RSUD Dok II Jayapura, Rumah Sakit Yang Sekarat ?, tampak Ketua DPRP Yunus Wonda memberikan keterangan pers usai rapat dengan seluruh staff RSUD Dok II Jayapura. (Foto : Arie Bagus /TIFA Online)

Dari tahun ke tahun, dari direktur ke direktur, namun persoalan di RSUD Dok II Jayapura seakan tiada henti, ibarat terjangkiti wabah yang sudah akut dan berdampak pada buruknya pelayanan publik, padahal RSUD Dok II termasuk salah satu rumah sakit terbaik di kawasan Pasifik.

Oleh    : Arie Bagus Purnomo / Walhamri Wahid

Persoalan di RSUD Dok II Jayapura, bukan baru kali ini saja, namun sudah terjadi sejak lama, bertahun – tahun lalu, sehingga tumpukan masalah itu sudah kronis dan menjadi akut sehingga di butuhkan keseriusan dan kesungguhan bila ingin mengembalikan performa layanan di di RSUD Dok II sebagai Rumah sakit rujukan dan juga yang di akui sebagai salah satu rumah sakit terbaik di kawasan Pasifik.

“saya pantau pemberitaan media beberapa hari ini, makanya hari ini saya dan Ketua Komisi V turun langsung untuk melihat, mendengar dan coba mencari tahu akar masalah kenapa rumah sakit ini kok ‘sakit”, padahal banyak warga PNG juga berobat ke sini, karena di anggap pelayanannya terbaik, jadi harus kita urai dan tuntaskan semuanya”, kata Yunus Wonda, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Papua (DPRP) usai meninjau kondiis RSUD Dok II Jayapura dan menggelar rapat bersama seluruh staff RSUD Dok II, Senin (27/8/2018) kemarin.

Menurutnya permasalahan yang terjadi di RSUD Dok II ini bukan baru terjadi saat ini saja, tetapi sudah dari dulu dan permasalahannya hanya itu-itu saja dan tidak pernah selesai.

“persoalan tidak adanya transparansi manajemen rumah sakit, kami lihat banyak kepala ruangan melaporkan dan banyak laporan mereka yang tidak bisa diakomodir, sementara mereka inikan buat laporan sesuai dengan apa yang mereka alami dan mereka lihat dan tidak bisa diakomodirnya laporan tersebut menjadi suatu keprihatinan bagi kita semua”, kata Yunus Wonda di damping Yan Permenas Mandenas, Ketua Komisi V DPRP.

Ketua DPRP merasa heran dan menyayangkan, karena hasil temuannya ada keluarga pasien yang rawat inap sampai harus membawa kipas angina sendiri dari rumah.

“Ini sudah tidak benar, masa suruh masyarakat bawa kipas angin ini tidak benar sekali, hal-hal kecil seperti ini tidak bisa diatasi ini sudah sangat salah dan fatal sekali”, kata Yunus Wonda sambil geleng – geleng kepala tanda heran.

Oleh karena itu pihaknya meminta kepada managemen rumah sakit untuk memperhatikan hal-hal tersebut agar pelayanan rumah sakit juga semakin baik dan dapat dipertahankan.

Selain itu dirinya juga menyinggung soal adanya gedung yang belum selesai dikerjakan di Rumah Sakit yang menjadi rumah sakit rujukan provinsi tersebut.

“gedung sebelah ini juga, belum selesai dikerjakan sampai hari ini, saya dengar kalau gedung ini gagal lelang. Ini juga saya mau sampaikan coba untuk selalu fokus, kalau tidak fokus kasian orang banyak jadi korban” kata Ketua DPRP menyayangkan kondisi tersebut.

Diharapkannya setelah anggaran ditetapkan dan didapatkan nanti sekiranya rumah sakit dapat menyusun dan menyiapkan dengan baik.

“sekali lagi, tidak boleh ada kelompok-kelompok di rumah sakit ini. Jangan kita jadikan rumah sakit sebagai lahan objek, tadi saya sudah tegaskan bahwa di rumah sakit ini tidak boleh ada perawat atau siapapun yang bikin perusahaan-perusahaan kecil untuk tender proyek yang ada disini, harus berhenti” tegas Yunus Wonda.

Dirinya mengingatkan kepada seluruh petugas rumah sakit untuk kembali ke panggilannya untuk melayani semua orang yang menjalani perwatan.

Kedepannya, sewaktu direktur melihat hal ini dapat mengatur dan meyiapkan kesejahteraan dokter dan perawat.

“selain itu, kebutuhan dalam rumah sakit ini juga harus dipersiapkan dengan baik agar kedepan jangan lagi muncul masalah di rumah sakit hingga akhirnya orang bilang rumah sakit ini sakit” ujarnya.

Disinggung soal hutang yang ada di rumah sakit tersebut, Ketua DPRP mengatakan, setelah berdiskusi dengan Ketua Komisi V, Yan Permenas Mandenas dirinya mengatakan hutang-hutang yang ada ini lebih banyak kepada pihak ketiga.

Dijelaskannya hal ini kembali kepada persoalan administrasi yang berkentuan bahwa siapapun pihak ketiga harus dibayar sesuai apa yang telah dikerjakan.

“mau 50 persen atau 60 persen ya, harus dibayar sesuai dengan apa yang telah dikerjakan. Nah setelah itu habis ya bayar dengan tender baru. Karena banyak yang sudah menerima proyek dari tahun 2014, jadi perusahaan-perusahaan model begitu harus di blacklist saja” jelas Wonda.

Disinggung soal ruang operasi, Yunus Wonda mngatakan permasalahan yang ada tempat itu seharusnya bisa disusun dari bawah sehingga juga bisa dipersiapkan dengan baik pula.

“kedepan kita berharap kalau ruangan sudah selesai kita bikin yang terbaik dan ruang operasi saat ini sudah sangat luar biasa hanya tinggal menyiapkan fasilitas yang baik saja. Sehingga ketika ada orang dioperasi itu tidak merasa sayatan pisau bedah tapi mersakan nyaman” tambahnya.

Karena menurutnya jika suatu ruangan itu nyaman maka orang pastinya akan merasa nyaman juga, tetapi kalau ruangan berantakan pastinya orang yang di operasi tidak akan nyaman.

“kedepan kita harap semua baik agar orang tidak lagi kemana-mana. Bayangkan, orang dari PNG saja bisa datang berobat kesini itu sangat luar biasa, karena memang RSUD Dok II ini rumah sakit terbagus di Pasifik dan untuk kembali ke posisi itu membutuhkan proses yang luar biasa” tukasnya. (TIFA Online)

Tinggalkan Balasan