EKBIS LOKAL

Dinas Perindag PB Segera Aktifkan Gudang Penyimpanan Hortikultura di Pegaf Dengan Teknologi CAS

Dinas Perindag PB Segera Aktifkan Gudang Penyimpanan Hortikultura di Pegaf Dengan Teknologi CAS, tampak Kadinas Perindag Papua Barat, George Yarangga (kanan) di dampingi staffnya saat memberikan keterangan pers. (Foto : Adrian / TIFA Online)Dinas Perindag PB Segera Aktifkan Gudang Penyimpanan Hortikultura di Pegaf Dengan Teknologi CAS, tampak Kadinas Perindag Papua Barat, George Yarangga (kanan) di dampingi staffnya saat memberikan keterangan pers. (Foto : Adrian / TIFA Online)

TIFAOnline, MANOKWARI— Untuk mencegah hasil produk pertanian, sayur mayor dari Kabupaten Pegunungan Arfak tidak cepat rusak sehingga dapat di pasarkan ke beberapa kabupaten lainnya di Provinsi Papua Barat, maka Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Papua Barat tengah mempersiapkan gudang penyimpanan hasil holtikultura di daerah Minyambou, Pegunungan Arfak (Pegaf) dengan teknologi Controlled Asmosphere Storage (CAS).

“terobosan ini kita buat untuk lebih mendorong sektor perdagangan, khususnya produk pertanian, dengan mengembangkan teknologi pasca panen dan pengolahan hasil holtikultura sehingga bisa lebih tahan lama dan bisa di distribusikan ke daerah lainnya”, kata George Yarangga, A.Pi, MM, Kadinas Perindag Provinsi Papua Barat kepada TIFA Online di ruang kerjanya, Selasa (11/9/2018).

Menurutnya Kabupaten Pegaf memiliki potensi pertanian yang cukup besar namun terkendala di distribusi dan pemasaran karena kendala transportasi, dan juga tidak ada tempat penampungan untuk menjaga kualitas dan kesegaran hasil holtikultura para petani sebelum di bawa ke pasar.

“melihat potensi itu, makanya kita mencoba membuat semacam gudang penyimpanan hasil holtikultura untuk menyokong pertumbuhan sektor perdagangan di bidang pertanian, dan kita mulai dari Kabupaten Pegunungan Arfak (Pegaf)”, kata George Yarangga.

Dengan teknologi ini maka karakteristik produk sayuran dan buah-buahan yang mudah rusak, busuk dan susut bisa di minimalisir dengan teknologi, dimana di dalamnya mencakup penanganan pada saat panen, pasca panen, pengolahan, penyimpanan, sortasi, packaging dan lainnya bisa mulai di lakukan di tingkat kabupaten.

George menjelaskan setiap panen, hasil pertanian perkebunan milik maayarakat di Pegunungan Arfak itu produksi melimpah, jadi solusi penanganan surplusnya harus dengan cara diolah menjadi produk turunan, atau disimpan dan atau di ekspor.

“Kegiatan hilirisasi produk hortikultura ini mesti dibangun di pedesaan. dampaknya pasti akan menciptakan nilai tambah, mensejahterakan petani, ini sejalan dengan kebijakan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman”, katanya lagi.

Berkaitan dengan prasarana penyimpanan, George mengatakan gudang penyimpanan hortikultura yang siap dihibahkan kepada Pemda Pegaf  itu berdiri di atas tanah seluas 400 m2 yang dibeli seharga Rp. 200 juta.

Biaya bangunan gedung menelan anggaran sebesar Rp. 834,5 juta, dan Cold Storage Rp.300 juta, sesuai anggaran tahun 2016/2017 pada OPD Disperindag Papua Barat dan mampu menampung sekira 3 – 4 ton hasil pertanian perkebunan seperti sayur mayur dan buah – buahan, untuk kemudian di kirim ke daerah kabupaten lain seperti Manokwari, Mansel, dan Teluk Bintuni.

Untuk itu, dia berharap ketika sudah diserahkan ke Pemerintah Pegaf nanti, intansi terkait di Pegaf bisa melanjutkan penganggaran kebutuhan biaya listriknya.

Selain itu dengan pola ini, maka bisa mengurangi beban masyarakat Pegaf bila harus menjual sendiri semua hasil kebunnya setelah selesai panen ke Kota Manokwari misalnya.

“Bayangkan saja uang mobil mereka turun ke kota per kepala dari Pegaf Rp.500 ribu, gunakan mobil double cabin 4×4, padahal belum tentu sayur atau buah yang di bawa itu laku terjual. Sehingga melalui pola ini juga, Pemda Pegaf segera bentuk Perussahaan Daerah atau BUMD untuk kelola pemanfaatan gudang hortikultura itu dengan sistem koperasi”, tambahnya. (adrian kauripan / walhamri wahid)

Tinggalkan Balasan