FEATUREHEADLINEPILKADA

Pilot Pertama Suku Mee, Akhirnya Sah ‘Piloti’ Paniai Lima Tahun Kedepan

Pilot pertama suku Mee, akhirnya sah ‘Piloti’ Paniai lima tahun kedepan, Meki Nawipa semasa masih aktif sebagai pilot. (Foto : dok. papuatoday.com)Pilot pertama suku Mee, akhirnya sah ‘Piloti’ Paniai lima tahun kedepan, Meki Nawipa semasa masih aktif sebagai pilot. (Foto : dok. papuatoday.com)

Lima belas tahun lebih dia mengendalikan ‘burung besi’ di langit seantero Papua. Tahun 2018 ini, pilot pertama dari suku Mee itu memutuskan untuk mencalonkan diri sebagai Bupati Kabupaten Paniai, dan kemarin, setelah ada putusan MK, akhirnya KPU Papua menetapkan dirinya sebagai Bupati Paniai periode 2018 – 2023. Akankah kepiawaiannya jadi pilot ‘burung besi’, mumpuni untuk jadi ‘pilot’ bagi Paniai ?

Oleh    : Titie Adam / Walhamri Wahid

Lelaki kelahiran Enarotali, 6 November 1978 itu tidak dapat menyembunyikan suka citanya usai penetapan dirinya bersama pasangannya, Oktopianus Gobai sebagai Bupati – Wakil Bupati Paniai terpilih periode 2018 – 2023, kini tinggal satu langkah lagi, pelantikan maka pasangan calon Meki Nawipa – Oktopianus Gobai resmi menjadi “pilot” dan “co pilot” bagi Kabupaten Paniai dalam lima tahun ke depan.

“ini hal yang baru di luar dari pengalaman saya selama 15 tahun di dunia penerbangan, tapi saya dan Wakil saya optimis atas pertolongan dan bimbingan Tuhan, dan dilandasi hati kami yang bersih dan tulus ingin bangun daerah, pasti semua akan di mudahkan untuk emban amanah yang maha berat ini”, kata Meki Nawipa, usai penetapan dirinya sebagai Bupati Paniai terpilih di salah satu hotel di kawasan Abepura, Rabu (19/9/2018) kemarin.

Menurut Meki Nawipa, sudah lama rakyat Paniai merindukan sosok pemimpin yang bersih dan sungguh – sungguh mau bangun Paniai, dan ia merasa karena pertolongan dan kehendak Tuhan yang adil sehingga mereka terpilih dan diberikan kesempatan untuk pimpin Paniai lima tahun ke depan.

Untuk itu ia berpesan kepada seluruh masyarakat Paniai, baik pendukungnya maupun yang mendukung pasangan calon lainnya, bahwasanya Pilkada sudah usai, sehingga ia meminta semua pihak bisa berbesar hati menerima hasilnya, dan semua harus gandeng tangan bersama – sama bangun Paniai.

“Sebagai senior kami, dengan senyum perjuangan kami harap Bapa Hengky Kayame, timses dan pendukungnya mau bersama-sama dengan kami untuk bangun Paniai kedepan, karena Pilkada sudah usai”, kata Meki Nawipa menegaskan sesuai dengan visi misi mereka selama kampanye yang menegaskan bahwa Paniai Untuk Semua, dan Semua Untuk Paniai.

Menurut Meki Nawipa, siapapun dia mari bangun Paniai bersama dengan aman, damai berkomunikasi dan kerjasama dengan baik agar Paniai kedepan lebih baik.

“tidak perlu lagi kita menonjolkan keegoisan atau merasa paling benar, tapi ke depan ini sama – sama kita harus kesampngkan perbedaan untuk Paniai”, kata Meki Nawipa lagi.

Pada kesempatan itu juga ia dan Wakilnya, Oktopianus Gobai mengucapkan terima kasih kepada seluruh partai politik, Timses, simpatisan dan pendukung yang sudah bekerja keras memenangkan keduanya.

“terima kasih juga untuk seluruh masyarakat Paniai, yang pilih kami maupun yang tidak, karena kita sudah sama – sama sukseskan pesta demokrasi kemarin, demokrasi Paniai menujukkan pembelajaran bagi Papua bahkan tidak ada sesuatu hal yang harus terus diselesaikan dengan konflik, semua bisa di komunikasikan, negosiasikandan bicara dengan baik saja”, kata Meki Nawipa.

Pleno penetapan Bupati dan Wakil Bupati Paniai terpilih sedianya di laksanakan Rabu (19/9/2018) pagi bersama dengan penetapan Bupati – Wakil Bupati Mimika, namun karena pasangan calon yang berhasil mendulang suara sebesar 71.072 suara pada Pilkada Kabupaten Paniai 25 Juli 2018 lalu itu masih dalam perjalanan menuju Jayapura, sehingga terpaksa di undur hingga 7 jam.

Meki Nawipa yang semasa kecil sudah bercita – cita menjadi seorang ‘Pilot”, dan Tuhan telah memberikannya jalan menjadi Pilot pertama dari suku Mee, namun di tahun 2018 ini, kembali Tuhan dan rakyat Paniai memberikan kepercayaan lagi untuk jadi ‘Pilot” bagi Paniai.

Anak dari pasangan Yahya Nawipa yang seorang guru dengan Ruth Gobay ini kepada TIFA Online dalam sebuah kesempatan di Jakarta menuturkan bahwa sejak kecil dirinya sudah bercita – cita menjadi Pilot

“sejak SD sudah suka penerbangan, apalagi kalau ada pesawat mendarat di Enarotali itu, saya sudah cita – cita kuat memang harus bisa terbangkan pesawat terbang”, kata Meki Nawipa.

Karena impian menerbangkan pesawat itulah ia rajin belajar, lulus SD YPPGI Kebo di Paniai pada tahun 1990, Meki melanjutkan pendidikan ke SMP Negeri Komopa di Paniai dan berhasil lulus pada tahun 1993, kemudian lanjut ke SM 5 Jayapura dan lulus tiga tahun kemudian, 1996.

Nasib dan jalan hidupnya untuk menjadi pilot, tidak mulus – mulus amat, penuh dengan onak dan duri juga, bahkan karena terkendala biaya, Meki Nawipa remaja sempat menguburkan sejenak impiannya menjadi Pilot dan banting setir kuliah di Institut Pertanian Bogor (IPB) Fakultas Peternakan, Ilmu Produksi Ternak selama 2 tahun (1996 – 1998).

Cita – cita jadi pilot tidak pernah padam, sambil kuliah Meki Nawipa mengaku terus bergerilya mencari sponsor dan donatur untuk mewujudkan impiannya itu, bisa bergabung ke sekolah penerbang.

Karena keinginan dan kemauan yang kuat, Tuhan akhirnya memberikan Meki Nawipa jalan, ia berhasil di terima pada Deraya Flying School di Bandara Halim Perdana Kusuma Jakarta dengan beasiswa dan dukungan dari Lembaga Pengembangan Masyarakat Irian Jaya (LPMI), kini Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (LPMAK-Red) yang ketika di mengelola dana CSR dari PT. Freeport Indonesia.

Tahun 2000, ia berhasil menyelesaikan pendidikan dan lulus dengan sertifikasi sebagai Private Pilot LIcence (PPL). Tidak puas dengan ilmu, pada tahun 2004 ia kembali melanjutkan studi penerbangannya di Bible College of Victoria (BCV) di Melbourne – Australia.

Meki Nawipa berhasil menuntaskan program ini dalam dua tahap yaitu tahap CPL pada tahun 2006 dan ME-IR pada 2007.

Kepiawaiannya berkomunikasi dengan bahasa Inggris ia peroleh ketika mengikuti kursus pada English Education Center (EEC) di Jakarta dan kemudian ia memperdalaminya di Boxil-Australia pada tahun 2003.

Sebelum menjadi pilot pada salah satu pesawat komersil yang melayani beberapa rute di Papua, Meki Nawipa sempat bekerja sebagai pilot pada Mission Aviation Fellowship (MAF) di Papua Neuw Guinea (PNG), pada tahun 2003, dan pada tahun 2008 barulah ia berhasil membuktikan impian dan cita – citanya membawa pesawat menjangkau daerah – daerah pedalaman di Papua dengan bekerja pada maskapai Susi Air, hingga dirinya memutuskan maju pada Pilkada 2018 ini. (TIFAOnline)

Tinggalkan Balasan