FEATUREHEADLINESOSIAL KEMASYARAKATAN

Taman Kali Acai, Kini Tak Cantik Lagi !

Sampah dan botol plastik terlihat menumpuk di beberapa titik, lampion warna – warni yang baru setahun lalu di resmikan Walikota dan Wakil Walikota terlihat menghitam warnanya, beberapa lampu penerang jalan juga sudah kelap – kelip malu – malu memancarkan sinarnya, sehingga menjadi tempat favorit bagi para pemabuk untuk pesta miras, di malam hari. Taman di sepanjang Kali Acai kini sudah tak indah lagi !

Taman Kali Acai, Kini Tak Cantik Lagi ! tampak salah satu lampion yang mulai kusa dan koyak di bantaran Kali Acai. (Foto : Asham / TIFAOnline)Taman Kali Acai, Kini Tak Cantik Lagi ! tampak salah satu lampion yang mulai kusa dan koyak di bantaran Kali Acai. (Foto : Asham / TIFAOnline)

Oleh : Asham / Walhamri Wahid

Beberapa lampion terlihat berdebu dan menghitam tergantung berjajar di atas bentangan kali, sementara di bagian bawah terlihat banyak tumpukan sampah pada beberapa titik yang menghiasi hitam dan keruhnya Kali Acai, belum lagi aroma tak sedap yang di bawa oleh hembusan angin dikarenakan beberapa home industry yang berada di bantaran Kali Acai menjadikannya sebagai Tempat Pembuangan Akhir (TPA) limbah cair mereka.

Kondisi saat ini tentu sangat jauh berbeda dengan setahun lalu, Sabtu, (2/12/2017) ketika Walikota Jayapura, DR. Benhur Tomi Mano di damping Wakil Walikota, Ir. Rustam Saru meresmikan pemasangan lampion Natal di sepanjang Kali Acai di GOR Wiguna yang lokasinya tidak jauh dari bantaran Kali Acai.

Lampion, itulah sebutan kerennya. Lampu warna-warni yang terbentang sepanjang Kali Acai itu, kini mulai memudar. Cahayanya pun kian meredup.

Alat penerang terbuat dari rangka bambu dan kain flannel berwarna – warni itu kini mulai berubah warna menjadi kehitam-hitam.

Lampu yang identik dengan negeri tirai bambu tersebut, mulai beradaptasi mengikuti arus sungai yang keruh dan mengalirkan gumpalan-gumpalan hitam hasil endapan limbah di bawahnya.

Lampion yang di pasang dengan tujuan memperindah taman sepanjang bantaran Kali Acai itu kini tak terurus lagi, tak hanya alat penerangnya. Taman-taman sepanjang sungai pun kian terbengkalai. Bunga-bunga dan rerumputan mulai menjalar ke trotoar.

Pada tanggal 2 Desember tahun lalu, Pemerintah Kota Jayapura setidaknya memasang sebanyak 200 buah lampion guna mempercantik kawasan sepanjang sungai dari jembatan Pasar Lama hingga jembatan Teluk Yotefa.

Belum genap setahun, lampion yang membentang di atas kali Acai, kurang lebih ada 40 bentangan tersebut sudah mulai berkurang. Dari pantauan TIFA Online, dari 200 buah lampion yang awalnya di pasang, kini tersisa 191 buah, itupun hanya sekitar 103 lampion saja yang masih menyala di kala malam, yang lainnya enggan lagi mempercantik Kali Acai yang juga kian kumuh dan penuh sampah.

Lampion yang dulunya cerah dengan warna – warni merah, kuning, hijau, biru, dan ungu itu mulai pudar dan berbalut debu yang tebal bahkan sebagian bentuknya tak bulat lagi, sebab reotnya bambu yang terbungkus kain flannel.

Selain lampion, Penerangan Jalan Umum Light Emitting Diode (PJU LED) bertenaga surya yang berjajar rapi di sekitar Kali Acai dan diharapkan mampu memperindah dan menerangi kawasan bantaran Kali Acai di malam hari kini pun terkesan ogah memandarkan cahayanya

Dimana dari 87 tiang PJU LED yang ada, tersisa 8 buah lampu saja yang masih setia memancarkan cahaya remang – remang di malam hari, menambah indah pemandangan. Namun sayang, yang menyumbang cahaya bagi pengguna jalan hanya 8 buah lampu dari sebanyak 87 PJU LED yang terpasang.

“Lampu-lampu itu, kadang nyala kadang mati. Kedip-kedip begitu. Tidak tahu kalau sekitar sana hidup atau tidak, jarang perhatikan sih. tapi kalau yang lampu seberang jalan itu seringnya gelap”, kata Ibu Rosmiati, kepada TIFA Online, di Kali Acai, Kamis, (27/9/2018).

Upaya Pemkot Atasi Limbah

Pemerintah Kota Jayapura yang sudah menyabet penghargaan Adipura sebanyak 5 kali untuk mengatasi persoalan sampah dan limbah di kawasan Kali Acai tak pernah surut, berbagai kegiatan dan sosialisasi sudah pernah dilakukan guna mencegah Kali Acai menjadi sasaran sampah, limbah pabrik dan lainnya.

Pemerintah sudah sering lakukan sosialisasi dan menghimbau warga untuk tidak membuang limbah ke sungai, namun bisa jadi karena kesadaran warga yang rendah di tambah kurang dan tidak konsistensinya pengawasan dari pemerintah, yang terkesan panas – panas tahi ayam, apabila ada event atau moment tertentu saja baru aktif setelah itu lupa membuat Kali Acai kembali mulai jadi kubangan sampah dan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah dan limbah warga yang bermukim di sekitarnya.

“Iya, Pemkot biasa sosialisasi ke kami, Ini limbah tempe airnya jernih kok, tidak seperti limbah tahu”, kata Suradi, salah satu pemilik home industry tempe di sekitar Kali Acai, saat TIFA Online menyambangi tempat usahanya.

Satu – satunya upaya pemerintah untuk menghimbau dan mengajak warga sekitar menjaga kebersihan dan keindahan kawasan Kali Acai selama 24 jam melalui papan pengumuman Program Kota Sehat yang di pasang di salah satu sudut bantaran kali.

“Program Kota Sehat ; Pace, Mace, Kaka, Ade !!!, Kalau Ko’ Tidak Buang Sampah ke Sungai Brarti Ko’ Hebat. Jagalah Kebersihan”, itulah bunyi papan himbauan yang terpasang di salah satu sudut bantaran Kali Acai pada sebuah pokok pohon.

Mungkin saking kumuh dan tak terurusnya kawasan Kali Acai, papan himbauan tersebut pun kini sudah tidak terbaca baik dan sudah mulai memudar tulisannya karena kotor dan berdebu.

Minimnya Kesadaran Masyarakat Sepanjang Kali Acai

Faktor minimnya masyarakat dalam membuang sampah pada tempatnya juga menjadi penyebab menumpuknya sampah terutama sampah berupa botol plastik yang banyak terapung di Kali Acai.

Selain itu, perilaku warga sekitar pinggir kali menambah kesan kumuh dengan membuat tempat-tempat duduk ala kadarnya, yang tiang peyangganya menjulang ke dalam aliran sungai, begitu juga atap dan dindingnya yang terbuat dari karton-karton bekas dan seng.

Kemudian selokan yang terhubung ke sungai juga menyumbang limbah rumah tangga, feses manusia, limbah industri, pabrik dan lainya, yang semakin lama akan menambah keruh dan hitam aliran air di Kali Acai.

Meskipun begitu, cahaya lampion yang mulai meredup tetap setia menerangi sampah dan limbah yang terus mengalir ke Teluk Yotefa.

Cahaya yang remang-remang akibat tak berfungsinya PJU LED. Tak hanya dimanfaatkan warga untuk bersantai. Akan tetapi, para pecandu minuman keras juga kerap menghabiskan malam di taman bunga dan tempat duduk yang tersedia sepanjang Kali Acai.

Pemerintah sudah membangun fasilitas Taman Kota di sepanjang Kali Acai, tetapi nampaknya rasa memiliki dan semangat untuk menjaga atau memelihara atas fasilitas yang sudah di bangun Pemerintah Kota di kawasan tersebut kurang terlihat di antara para warga sekitar Kali Acai, ataukah di butuhkan petugas khusus yang harus membersihkan dan mengawasi rutin kawasan tersebut, agar peruntukkannya tidak berubah dan sesuai saat pertama kali di resmikan oleh Walikota dan Wakil Walikota 10 bulan lalu ? (TIFA Online)

Tinggalkan Balasan