HEADLINEOPINI

“Dandenong”, Interfaith Religion, Hate Speech dan Toilet

Di masyarakat Fak Fak, Kaimana, Raja Ampat, Wamena, Jayawijaya, hidup subur paham PKI (Protestan, Katolik, Islam) dalam rumpun keluarga dengan marga yang sama, tolong menolong, kasih mengasihi dijadikan pedoman untuk saling menjaga ketentraman hidup bersama. Dapatkah kita menahan diri untuk tidak membesarkan perbedaan, mengumbar ujaran kebencian dikhalayak ramai, sebagaimana kita menahan diri untuk tidak menceritakan apa saja yang telah kita kerjakan di dalam bilik toilet ?

“Dandenong”, Interfaith Religion, Hate Speech dan Toilet. Oleh : Ade Yamin

Oleh : Ade Yamin*

Perjalanan nasib dan takdir yang Tuhan (Allah SWT) telah gariskan, mengantar saya pada muhibah pada negeri yang nama-Nya jarang kita jumpai mengangkasa melalui gema panggilan pengeras suara.

Disini para hamba yang percaya pada-Nya, melagukan kemuliaan-Nya pada sebahagian tingkah laku kehidupan yang menghargai karunia waktu dengan tidak menyiakannya untuk hal-hal yang remeh-temeh.

Disini yang Esa terejawantahkan oleh komitmen penghormatan kepada berlalunya siang dan malam dalam kehidupan, dan ingat! Dinegeri ini, kita tidak akan dengarkan peringatan dari para penyeru serta pengajak penghambaan kepada-Nya tentang Al Ashr (Demi Waktu), Wal Ashr, Innal insaana lafii husr, Illallazina aamanu Waamilushoalihaati, Watawashoubil haq, Watawa shaubis shabr

Di sini tak akan kita dengarkan toa bersahutan di lima waktu yang berbeda untuk mengingatkan orang dari kelenaan dunia dengan menghamba pada tubuh insania atau membangunkan orang akan keasyikan mati yang singkat (tidur), namun itu tidak berarti bahwa sang maha Rahim akan meniadakan kasih sayangnya.

Disini, simbol kebesaran dan kemuliaan-Nya tak dilarang untuk dikibar kumandangkan, ditegak berdirikan, sebab ia disadari ada dalam hati, pikiran dan perkataan para pencinta-Nya, bukan pada kehebohan seremonial dan simbolisasi kebesarannya, yang melahirkan suatu pembiasaan seakan-akan kemuliaan haruslah sejalan dengan penyimbolan, kebesaran haruslah beriringan dengan penyimbolan, atau bahkan keyakinan yang berdasar pada penyimbolan.

Sementara itu, di tanah tumpah darah saya, tanah dimana abunya telah menjadi bahagian tulang, daging dan darah saya, orang-orang masih sibuk saling menyalahkan tentang siapa yang paling pertama memuja-Nya, siapa yang paling berhak memuliakan nama-Nya, seakan diri-Nya hanya ada untuk sekelompok ciptaan-Nya, dan tak berlaku bagi mereka, yang menyebut nama-Nya dengan kemesraan yang berbeda, nama yang berbeda, ritual yang berbeda, atau simbol yang berbeda.

Mereka-mereka yang memproklamirkan diri paling mengenal-Nya berlomba-lomba mengajukan klaim bahwa merekalah yang paling berhak menjadi penyambung lidah Yang Maha Kuasa, sehingga hanya merekalah yang boleh hidup di wilayah tertentu, dengan simbol yang yang harus di dominasi oleh kelompoknya saja, yang berbeda harus ditentangi, yang “menyimpang” harus dibabati, yang baru tumbuh dan mencoba mencari matahari harus dipangkasi bahkan dicerabut dari buminya, karena mengganggu adikuasa yang sudah terlebih dahulu ada.

Sungguh cara berpikir seperti itu, sesungguhnya telah memasukan kemanusiaan pada keranda kematian dan menegasi apa yang dituntunkan oleh kitab suci yang mereka yakini dan saya juga yakini, yang pastinya mengajarkan kepada kita untuk memuliakan manusia sebagaimana sang pencipta memuliakan dan menunjuk manusia sebagai wakil di bumi ciptaan-Nya ini.

Ah rasanya pendapat saya ini terlalu absurd, mengawang, bertele-tele, banyak sayap dan tidak langsung pada tujuan. Tapi rasanya itu adalah kebiasaan yang kita sukai saat ini.

Actually, keseluruhan pendapat yang saya tulis diatas berujung pada satu pertanyaan, mengapa mereka yang seakan tidak mengenal Sang Pencipta lewat simbol, seakan lebih tepat mengimplementasikan anjuran dan larangan-Nya dibanding kita yang merasa paling mengenal, cinta dan dekat pada-Nya?.

Jawaban pertanyaan ini biarkan saja ada dalam benak kita masing-masing, karena tentunya ia dapat menjelma menjadi anarkisme bentuk baru jika kita harus saling bersahutan untuk menyuarakan yang paling paham dan mengerti.

Tuturan ini akan saya lanjuti saja dengan membagi dua pengalaman unik hari ini, lewat keberuntungan ziarah akademik dan agama di Melbourne Australia.

Kisah pertama adalah berjumpa dengan salah satu cerdik pandai milik negeri leluhurku Indonesia yang lebih memilih mengabdikan kecerdasannya bagi Kampus di Australia Gus Nadir Husein karena beberapa alasan.

Pertama, Disini ia dihormati, dihargai, dan ditempatkan pada posisi saat ini bukan karena ia memproklamirkan diri paling mengenal Tuhan, atau karena memiliki relasi dengan kekuasaan seperti yang lazimnya terjadi dinegeri kita.

Kedua, disini cerdik pandai dihargai dan dihormati tidak melebihi kapasitasnya sebagai seseorang yang terus belajar, sehingga kesombongan akan keunggulan terhadap bidang tertentu tidak menjadi jubah kebesaran sehari-hari yang dibangun sebagai dinding pemisah diri dengan orang lain.

Disini sepertinya semua orang sadar bahwa peradaban yang baik akan tercipta jika terjadi kerjasama seluruh pengetahuan dan pada muaranya akan melahirkan masyarakat Madani, bukan saling sikut dan saling sepak dalam periuk yang sama seperti lazim juga terjadi dinegeri kita.

Ketiga, kehausan akan ilmu pengetahuan yang tidak berfokus pada hasil akhir (buah), tetapi penghayatan pada proses akan memampukan setiap kita tangguh menghadapi tantangan zaman, petarung ulung dan tentu saja akan menjadi pribadi pemberi solusi bukan pembuat keonaran. Pribadi yang lebih dihargai bukan karena kerabat yang mulia penguasa, tetapi karena produksi pengetahuan berkelanjutan yang terus dikreasikan.

Keempat, disini dikampus, seseorang mencapai posisi tertentu bukan karena berhasil membanting orang lain, menyikut kolega, memburukkan sahabat, menyimpuh dikaki kuasa, memuji dan menjilati singgasana sang rektor. Disini seseorang menempati posisi tertentu karena ia memang memiliki kapasitas menduduki posisi itu, memiliki rasa “malu”, jika kurang memahami sesuatu yang memicunya untuk mencari tahu, belajar dan bertanya, bukan justru berusaha mencari pembenaran sendiri dengan men-daku perbedaan.

Bahagian kedua dari cerita ini adalah perjumpaan saya dengan biksu dan candinya, masjid dan sekolahnya, serta pastor dan biaranya di Dandenong, salah satu kota kecil di pinggiran Melbourne.
Menegaskan bahwa Tuhan itu memang punya banyak nama, sehingga gontok-gontokkan, bunuh-bunuhan, fitnah-memfitnah, klaim-mengklaim yang paling tahu, mengerti, paham, cinta pada-Nya mungkin saja adalah sebuah kekeliruan fatal yang dilakukan oleh manusia.

Dandenong menampakkan satu wajah baru bagaimana seharusnya agama yang dicipta, bukan untuk saling memusuhi, tapi saling melengkapi dengan tidak saling bercampur dalam memuliakan nama Tuhan, tapi bersatu dalam perbedaan menyebut nama-Nya.

Di Dandenong Biara, Masjid, dan kapel dibangun sebelah menyebelah oleh para penyembah Tuhan dengan tidak mengandalkan tangan kuasa negara, tetapi kesadaran para pencinta Tuhan akan pentingnya implementasi kecintaan itu lewat kerja bersama dalam jalan masing masing dengan tidak saling mematahkan, tapi saling bergandeng tangan dan bahu-membahu.

Di Dandenong saya mencoba memaknai satu gambaran harmoni kehidupan tentang indah dan pentingnya untuk saling memahami.

Saya berpendapat, pintu kuil tidak akan runtuh karena dikunjungi oleh mereka yang menggantungkan rosario dilehernya, kubah masjid tidak akan porak poranda jika didalamnya bersimpuh biksu dan kasayanya, demikian pula salib-salib suci dipuncak gereja dan procase pada dinding, langit-langit serta altar pemujaan akan kehilangan pesonanya ketika mereka yang berhijab dan bersorban mengetuk pintu utuk lebih mengenalnya.

Saya sangat yakin, kemuliaan Tuhan (Allah SWT) tidak akan pernah berkurang jika menyebut nama-Nya dengan berbeda-beda di saat bersamaan.

Jauh dari Dandenong ke arah utara, melintasi Laut Arafura, harmoni yang sama juga saya temukan tercipta dengan indahnya.

Di masyarakat Fak-fak, Kaimana dan Raja Ampat, Papua Barat, Hidup dengan subur paham PKI (Protestan, Katolik, Islam) dalam sebuah rumpun keluarga dengan marga yang sama, tolong menolong, kasih mengasihi terus dijadikan pedoman untuk saling menjaga ketentraman hidup bersama dan disimbolisasi menjadi satu slogan hidup bersama, “satu tungku tiga batu”.

Berbelok kearah timur masih di Pulau Papua, negeri kita Indonesia harmoni yang sama juga terus disemai, bahkan sampai pada kelompok keluarga batih.

Di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, PKI secara nyata bukan hanya ada dalam sebuah marga, tetapi tumbuh dan hidup dalam satu keluarga inti, yang dengan sangat toleran terhadap pilihan dalam ber’agama yang diyakini, tanpa harus takut teralienasi, terkotak-kotak dalam afiliasi-afiliasi ke-aku-an hak kesulungan dalam beragama.

Memang, ancaman terhadap harmoni ini terus dihembuskan oleh mereka yang merasa paling berkuasa atas agama, entah siapa yang telah memberi kekuasaan tersebut, sehingga tentu saja menjadi tugas kita bersama untuk memikirkan bagaimana menjaga kesinambungan harmoni yang sudah ada ini tetap lestari dan menjadi pilihan terakhir yang seharusnya didorong oleh kelompok manapun yang merasa paling mengenal Tuhan dengan sebutan yang ia yakini, dengan selayaknya bersepakat, bahwa tujuan utama dalam hidup bersama dalam perbedaan agama adalah dengan memposisikan manusia selayaknya manusia.

Sebab sesusungguhnya manusia yang baik adalah manusia yang dapat memberi kemanfaatan bagi manusia yang lain dan seluruh elemen kehidupan disekelilingnya.

Kini, sampailah saya pada akhir cerita dalam kegenitan pikiran lewat tuturan ringkas ini, yang saya sebutkan dikata pembuka tulisan ini mengenai Interfaith Religion, Hate Speech dan Toilet, tiga realitas hidup yang pasti kita alami dalam kehidupan sehari-hari.

Seperti cerita PKI yang saya kemukakan diatas, dari Miangas sampai pulau Rote, dan dari Merauke sampai Sabang, bangsa Indonesia sudah tak asing lagi dengan namanya kemajemukan agama, budaya, manusia, bahkan aliran pemikiran, bahkan ia telah ada jauh sebelum para pendiri negara bersepakat untuk mendirikan sebuah bangsa yang dinamai Indonesia.

Yang juga seharusnya menjadi perlambang bagi berakhirnya ego keakuan kepada setiap entitas etnis, agama, kepercayaan, atau apapun sebutan bagi yang menyebabkan kita berbeda, kita adalah Indonesia yang telah bersepakat meluruhkan batas-batas primordial ataupun batas-batas ke-aku-an.

Sayangnya, itu hanyalah idealitas bukan realitas kekinian. Lihatlah keseluruh pelosok negeri, ke-daku-an menjadi monster menakutkan bagi turunan hibrid dan mix seperti anak saya, semua wilayah bersepakat menyatakan ke’asli’an sebagai rujukan utama untuk semua kebijakan yang diberlakukan negara, harus ada afirmasi bagi yang “asli” sehingga seakan ada keturunan palsu (tak asli) dari manusia yang diciptakan Tuhan, dan menjadi masyarakat golongan kelas dua.

Yang lebih memilukan dari pengingkaran terhadap yang hibrid ini adalah, produksi dan reproduksi hate speech diruang-ruang publik, telah meruntuhkan empati, simpati dan kebijaksanaan sebagai sesama manusia. hilangnya nilai humanis ini makin mendapatkan kasih sayang oleh framing media dan jempol para penghamba media sosial.

Kebencian, permusuhan, ketidaksukaan, seakan sudah menjadi hal yang biasa untuk diumbar dan ditularkan lewat jargon #teruskan atau #sebarkan atau bahkan sekedar meneruskan sebuah berita, klaim, ataupun peristiwa yang kebenarannya secara kuantitatif 99 % salah, dari seseorang kepada ribuan manusia yang lain. Dan tak ada lagi rasa sungkan dalam hati, untuk terus melakukan hal itu.

Tuntunan agama, nilai dan norma sosial dengan sangat cepatnya tergerus oleh nilai individu yang menampakkan kesan kuat akulah yang paling.

Memang gejala seperti ini telah diprediksi oleh para pemikir sosial kemasyarakatan, yang meramalkan dimasa seperti sekarang ini (masyarakat Industri) sifat individualis akan menjelma menjadi agama baru yang dipedomani oleh setiap orang.

Kemanusiaan, kesopanan, integritas, dan berbagai nilai hidup bersama akan diukur dengan takaran keuntungan dan kemanfaatan secara ekonomis (kapitalisme).

Lalu apa hubungan antara penjelasan harmoni dalam interfaith religion, kebiasaan hate speech yang makin menakutkan dengan toilet dalam tulisan ini?.

bacalah baik-baik (menduplikasi gaya versi Ali Mukhtar Ngabalin); tiga entitas ini adalah kebiasaan, dan praktek yang terus dilakoni dan dan dialami oleh setiap manusia, tetapi secara naluriah dan akal sehat, sepertinya semua orang pasti sepakat bahwa toilet adalah entitas tunggal kebutuhan manusia yang tidak akan pernah tergerus oleh paham apa pun juga yang akan lahir baik dari masa lalu, masa kini maupun masa akan datang.

Toilet pada sisi bentuk, dapat saja terus berubah, sesuai dengan keadaan ekonomi, alam, lingkungan atau keadaban suatu masyarakat, namun toilet tidak pernah mengeluh, meski ia terus dijadikan pelampiasan terakhir bagi hasrat ragawi manusia, toilet tak pernah kecewa, meskipun beribu kotoran terus ditimpukkan padanya.

Disaat bersamaan setiap orang yang menggunakan toilet, tidak akan pernah dengan gembira menceritakan apa yang telah dikerjakannya dalam bilik-bilik toilet, bahkan sedapat mungkin setiap orang menyembunyikan apa yang baru saja dilakukannya tempat pembuangan tersebut, apa yang keluar dari dalam diri setiap orang pastilah akan disimpan untuk dirinya sendiri saja, karena tanpa diceritakanpun semua orang sadar bahwa apa yang terjadi dalam toilet tersebut adalah sebuah upaya untuk melepaskan kotoran dari dalam diri tanpa harus menyatakannya secara terang benderang dimuka publik.

Remeh temeh kata yang saya parodikan di atas menggiring saya pada sebuah kesimpulan atau barangkali pertanyaan sederhana; dapatkah kita menahan diri untuk tidak membesarkan perbedaan, mengumbar ujaran kebencian dikhalayak ramai, sebagaimana kita mampu menahan diri untuk tidak menceritakan apa saja yang telah kita lakukan di sebuah bilik toilet? Wallahu alam ! (Penulis adalah Antropolog, pemerhati masalah social politik dari Papua yang tengah menempuh pendidikan di Australia)

Tinggalkan Balasan