HEADLINEPOLITIK NASIONAL

Maju Dapil Papua, Tommy Soeharto Pertaruhkan Jabatan Ketum dan Nama Partai ?

Kali pertama dalam sejarah kepemiluan di Indonesia, seorang Ketua Umum “nekat” maju ke DPR RI lewat Dapil Papua padahal yang bersangkutan tidak bermukim di Papua, dan juga ada jejak rekam isu HAM yang menyertai jejak langkahnya, Bila Tommy tak lolos ke Senayan, hancurlah sudah nama besar dan marwah Partai Berkarya

Maju dapil Papua, Tommy Soeharto pertaruhkan jabatan Ketum dan nama partai ?, Tampak Berthus Kogoya (Ketua DPW Berkarya Papua), Tommy Soeharto (Ketum DPP Berkarya), dan Ones Pahabol (tokoh Papua pendukung Tommy Soeharto). (Foto : ist/ TIFA Online)Maju dapil Papua, Tommy Soeharto pertaruhkan jabatan Ketum dan nama partai ?, Tampak Berthus Kogoya (Ketua DPW Berkarya Papua), Tommy Soeharto (Ketum DPP Berkarya), dan Ones Pahabol (tokoh Papua pendukung Tommy Soeharto). (Foto : ist/ TIFA Online)

Oleh : Titie Adam / Walhamri Wahid

Nama Tommy Soeharto sebagai “anak emas’ Orde Baru membuat dosa – dosa Orde Baru saat Ayahnya H. M. Soeharto memimpin selalu di kait – kaitkan dengan Tommy, apalagi jelang tahun politik, Pemilu 2019 ini, isu pelanggaran HAM yang pernah terjadi dan diduga Soeharto terlibat di dalamnya kembali mencuat ke permukaan seakan – akan siap menjegal Keluarga Cendana kembali ke lingkaran kekuasaan.

Lewat Partai Berkarya, partai baru besutannya, Tommy Soeharto kembali lagi membawa gerbong dan nama besar Keluarga Cendana muncul ke panggung politik Indonesia, bahkan entah dengan pertimbangan seperti apa dan kalkulasi bagaimana, Tommy Soeharto memilih Papua sebagai Daerah Pemilihan-nya untuk maju ke Senayan.

Padahal Papua adalah salah satu daerah yang ‘masih alergi” dengan isu – isu pelanggaran HAM, karena hingga kini pelanggaran HAM di Tanah Papua masih terus terjadi, demikian juga sejumlah dosa pelanggaran HAM di masa lalu yang sedikit banyak ada menyeret nama Keluarga Cendana hingga kini tidak pernah di tuntaskan.

Meski demikian, Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Berkarya Provinsi Papua sangat optimis jika Ketua Umum DPP Partai Berkarya, Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto mampu mendulang suara banyak di Papua untuk menuju ke Senayan, DPR RI pada Pemilihan Legislatif (Pileg) tahun 2019.

“Kami yakin, mas Tommy Soeharto dapat kami hantarkan menuju Senayan dari Daerah Pemilihan Provinsi Papua”, kata Berthus Kogoya, Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) didampingi DR. Ones Pahabol, SE, MM, kepada sejumlah awak media di Jayapura, Kamis (11/10/2018)

Menurut Berthus Kogoya, DPW Partai Berkarya tidak mau malu jika Tommy Soeharto memilih Papua menjadi Daerah Pemilihannya untuk maju ke Senayan lantaran Tommy Soeharto dianggap sebagai putra seorang negarawan yang pernah memimpin Indonesia hingga 32 tahun, dan tentunya ini menjadi kehormatan bagi Partai Berkarya, Tommy dinilai mampu mendobrak dan tetunya ada perhitungan tersendiri bagi Tommy Soeharto.

“Beliau tidak asal pilih ke Papua. Karena pak Tommy Soeharto sudah punya perencanaan yang matang. Bahkan, Tommy Soeharto ingin Papua maju, termasuk membantu ekonomi dan pembangunan di Papua,“ kata Ones Pahabol menambahkan.

Terkait masalah HAM yang di dengungkan kembali untuk menghadang Tommy Soeharto maju dari Dapil Papua dalam pencalegan DPR RI, Ones Pahabol mengaku jika itu tidak akan mempengaruhi tingkat keterpilihan Tommy Soeharto di Papua.

“Tommy Soeharto ada pada Reformasi bukan Orde Lama atau Orde Baru, beliau pasti akan memajukan pembangunan Papua lebih baik dengan lembaran baru, ini menjadi tugas DPW Partai Berkarya, namun seorang Soeharto lebih banyak bekerja dan orang sukses membangun Indonesia, meski ada negatifnya, tapi juga banyak sisi positifnya di tingkat bawah, karena masyarakat merasakan bagaimana kinerja pemerintahan Soeharto buat rakyat kecil”, katanya menambahkan pihaknya akan berjuang sekuat tenaga untuk memenangkan Tommy Soeharto untuk duduk di DPR RI.

Lanjut Berthus Kogoya yang juga pernah menjabat sebagai Wakil Bupati Lanny Jaya tersebut, Partai Berkarya tidak khawatir jika nama Tommy Soeharto dikait-kaitkan dengan persoalan masa lalu.

“Tommy Soeharto kami yakini dan dipercaya mampu dan mengerti keinginan dan karakteristik orang Papua baik di pegunungan maupun pesisir”, kata Berthus Kogoya lagi.

Menurut Ones Pahabol, yang juga pernah menjabat sebagai Bupati Yahukimo 2 periode, ia sangat mengapreasi Tommy Soeharto yang memilih Dapil Papua untuk maju sebagai caleg DPR RI.

“Ini sejarah. karena dari Pemilu ke Pemilu itu, seorang Ketua Umum Partai itu pasti punya perhitungan gengsi, untung rugi, sehingga mereka tidak memilih Dapil Papua. Tapi, Tommy Soeharto berani, padahal Ketua Partai lain memilih Dapil yang jumlah suaranya banyak”, kata Ones menekankan adanya strategi khusus untuk memenangkan Tommy Soeharto baik di pegunungan maupun pesisir.

“Mas Tommy Soeharto tentu sudah memiliki strategi sendiri. Tapi, rahasianya adalah beliau pasti akan melihat Papua dalam lima tahun, karena pasti ada catatan khusus dan deal-deal politik,“ kata Ones mantap.

Majunya Tommy Soeharto di Dapil Papua yang memperebutkan 10 kursi saja di DPR RI tentu menjadi ‘ancaman’ berat bagi caleg – caleg lainnya yang juga sudah pasti lebih mengetahui dan menguasai ‘medan politik’ di Papua, sehingga di pastikan semua caleg DPR RI akan lebih pasang kuda – kuda tentunya.

Bila Tommy Soeharto berhasil lolos ke Senayan pada Pemilu 2019 mendatang, tentu itu menjadi jawaban atas keraguan dan pesimisme banyak kalangan bahwa isu – isu HAM bisa menjegal Tommy di Dapil Papua.

Tetapi bila nantinya Tommy terjegal dan gagal maju ke Senayan lewat Dapil Papua, tentu konsekuensi nama besar, marwah Partai Berkarya sebagai partai baru yang isinya ‘orang – orang besar dan pemain lama di dunia politik”, sudah pasti akan terciderai, apalagi posisi Tommy sebagai Ketua Umum di partai berlambang pohon beringin dan lingkaran rantai dengan nomor urut 7 itu juga jadi taruhannya.

Terkait majunya Tommy Soeharto dari Dapil Papua di kritisi oleh Yosep Rumaseb, salah satu pemerhati dan pengamat masalah social politik dari Biak, menurutnya secara hukum Tommy Soeharto punya hak politik untuk maju dari partai apa saja dan di dapil mana saja.

“tapi soal kita adalah orang Papua yang akan memilih dia, menurut saya yang harus di kritisi adalah selama ini kita sellau bicara dan perjuangkan isu pelanggaran HAM di Papua yang masih terjadi, bila Tommy terpilih sebagai wakil kita di Papua sebagai wakil orang Papua, kira – kira apa yang bisa kita harapkan dia bicarakan dan perjuangkan soal HAM, karena pada faktanya orang semua tahu yang bersangkutan bagian dari rezim yang pernah melakukan pelanggaran HAM”, kata Yosep Rumaseb beberapa waktu lalu dalam sebuah tulisannya di TIFA Online.

Menurutnya bila orang Papua memilih Tommy adalah sebuah paradoks, ibarat mendukung pemabuk menjadi wakil kita untuk memperjuangkan tuntutan aspirasi penegakkan Perda Anti Miras.

“jika dia terpilih, maka dia dengan energi politik dan keuangannya akan menjadi kekuatan penghalang dalam proses penegakan HAM secara umum di Papua karena beresiko membuat bau busuk peran sejarah rezim Orde Baru pimpinan almarhum ayahnya dalam memoria passionis kita menyebar”, kata Yosef Rumaseb.

Sehingga menurutnya bila sampai Tommy Soeharto terpilih dari Dapil Papua, sama saja rakyat Papua sudah mendeklarasikan untuk melupakan sejarah kelam pelanggaran HAM di Papua.

“Semua pendukung penyelesaian HAM, termasuk di tingkat internasional, akan mengartikan keterpilihan Tommy dari Dapil Papua sebagai pernyataan politik dari rakyat Papua bahwa rakyat Papua sudah melupakan peran keluarga Soeharto dalam sejarah pelanggaran HAM di Tanah Papua”, tegasnya lagi.

Menurutnya memilih Tommy Soeharto artinya orang Papua nyatakan secara politik bahwa orang Papua sudah pulih dari memoria passionis sepanjang sejarah “integrasi”.

“Kita seperti orang yang berdiri kencingi dan beraki pusara yang bernama atau pun pusara yang tak bernama dari ratusan ribu OAP yang jadi korban pelanggaran HAM di mana keluarga Soeharto berkuasa, karena saya yakin, jika dia terpilih mewakili Dapil Papua di Senayan maka yang bersangkutan akan menjadi kekuatan yang berusaha menguburkan sejarah dugaan pelanggaran HAM yang pernah di libatkan rezim Orba”, tegas Yosep Rumaseb lagi. (TIFA Online)

Tinggalkan Balasan