HEADLINEOPINI

Kenapa OAP Jarang Sukses Berwirausaha ? Mungkinkah Ini Jawabannya !

"Hiroshima dan Nagasaki hancur karena bom, orang Papua punya bisnis hancur karena bon. Dan kalau ipar yang bon, tidak bisa ditolak!"

Kenapa OAP Jarang Sukses Berwirausaha ? Mungkinkah Ini Jawabannya !, Ini ilustrasi sikap yang mendukung kesuksesan di dunia wiarusaha. (sumber : tagxedo.com)Kenapa OAP Jarang Sukses Berwirausaha ? Mungkinkah Ini Jawabannya !, Ini ilustrasi sikap yang mendukung kesuksesan di dunia wiarusaha. (sumber : tagxedo.com)

Oleh : Yosep Rumaseb*

Saya lumayan beruntung, Senin (10/10/2018) kemarin bisa diskusi dengan beberapa tokoh inspiratif.

Pagi hari antara jam 09.30 -11.30) saya dampingi kakak sekaligus guru saya Wim Fimbay untuk berdiskusi dengan Pansus DPR Provinsi Papua Barat.

Diskusi yang sangat menarik ini membahas rencana Pansus DBH Migas melakukan kunker ke daerah terdampak migas di Bintuni dan Sorsel.

Sesudahnya kami bertemu dan sharing dengan Bupati Fakfak dan lalu dengan Bupati Bintuni. Salah satu sesi sharing menarik lainnya adalah sharing dengan Bapak Susanto, Boss Supermarket Hadi yang supermarketnya menyebar di Biak, Nabire dan Manokwari, dan mempekerjakan sekitar 2.000 pakerja.

Pria yang ramah, penuh pengalaman dan suka bercerita itu membagi pandangannya tentang pengembangan SDM Papua di bidang kewirausahaan.

Menurutnya, ada tiga persoalan utama yang membuat orang Papua sulit berkembang maju di bidang kewirausahaan.

Pertama, orang Papua terlalu baik sehingga tidak bisa menabung (saving).

Kedua, orang Papua memerlukan pendampingan.

Ketiga, masalah etos kerja.

Kesulitan orang Papua untuk menabung dan berdagang diakibatkan dua masalah pokok. Menurutnya, pertama, ajaran agama Kristen untuk mempersembahkan 10% penghasilan di pahami dan di aplikasi secara “keterlaluan”.

Orang Asli Papua (OAP) sudah memberikan perpuluhan, tetapi masih juga memberi berbagai bantuan untuk keluarganya dan siapa saja yang datang meminta bantuan. Terlalu baik !

Dan terutama, ini masalah kedua, orang Papua sangat meninggikan hubungan ipar. Kalau ipar minta bantuan, orang Papua tidak bisa menolak. Kalau orang Papua bikin kios, hanya obat nyamuk yang tidak bisa diberikan kepada ipar sebab obat nyamuk tidak bisa dimakan.

“Hiroshima dan Nagasaki hancur karena bom, orang Papua punya bisnis hancur karena bon. Dan kalau ipar yang bon, tidak bisa ditolak!”.

Menurutnya, kedua hal ini harus dikoreksi. Meninggikan hubungan keluarga itu baik, tetapi jangan terlalu baik. Nanti tidak ada tabungan. Semua bantuan sosial cukup dibatasi 10% dan harus ada tabungan.

OAP harus bisa bikin perencanaan yang baik dan disiplin pada rencana itu. Bantuan dibatasi 10%. Ada investasi termasuk untuk pendidikan. Ada tabungan. Ada untuk konsumsi. Tidak bisa berikan bantuan dan konsumsi tanpa batasan, nanti diri sendiri menderita.

Kedua, orang Papua dapat banyak bantuan modal terutama dari dana Otsus. Tapi tidak banyak yang berhasil. Bantuan modal diberikan tanpa pembinaan dan pendampingan yang baik. Beliau mengaku juga berikan bantuan modal, tapi belum sukses bangun pengusaha Papua.

Akibatnya, bantuan modal baik uang atau barang, tidak dikelola dengan baik lalu mubasir.

“Saya sedang cari orang Papua (suami istri) yang sukses membangun ekonomi keluarga untuk dijadikan icon. Dan akan saya ajak kerja sama sebagai motivator untuk bangun SDM di kampung-kampung di Biak melalui yayasan kami. Tapi sampai hari ini saya belum dapat”, kata Pak Susanto, Boss Supermarket Hadi lagi.

Kesulitannya, dia dianggap sebagai pendatang. Jika dia atau orang pendatang lain memberikan motivasi untuk bangun SDM Papua, sulit untuk diterima karena orang Papua sulit percaya kepada orang pendatang. Jadi perlu icon orang Papua sendiri yang jadi komunikator dan motivator.

Tapi tidak untuk tujuan politik, misalnya bicara bangun SDM Papua karena mau jadi anggota legislatif atau mau kejar jabatan politik. Icon itu harus murni hadir, bicara dengan rakyat sesuai pengalaman hidupnya dan jadi contoh untuk bangun motivasi dan dampingi rakyat.

Masalah ketiga, masalah etos kerja. OAP banyak yang mau hidup enak tetapi tidak mau kerja keras dan tidak disiplin.

Pak Susanto pekerjakan sekitar 2.000 pekerja dan sedikit sekali orang Papua. Sebab orang Papua tidak disiplin katanya.

“Saya pernah PHK banyak orang Papua dengan berbagai kasus. Juga di Manokwari. Banyak yang sudah jadi karyawan saya lalu pergi lamar jadi PNS”, kata Susanto.

Menurut Boss Supermarket Hadi itu, karyawan OPA yang di-PHK protes. Mereka bilang, Otsus lindungi orang Papua. Jadi harus pekerjakan orang Papua. Saya bilang kepada mereka bahwa saya bangun bisnis saya dengan modal uang sendiri. Ini bukan modal uang Otsus dan saya tidak mau rugi.

Kasus ini dilaporkan kepada Bupati. Bupati panggil dirinya dan tegur dia. Lalu dia jelaskan berbagai latar belakang masalah ini. Lalu dia bilang kepada Bupati, “Bapak coba pikir. Ini seperti orang tunangan. Bertahun-tahun kita pacaran. Sampai sudah tunangan, tiba-tiba dia pergi kawin dengan orang lain lalu minta saya tetap tunangan dengan dia. Enak sekali. Tidak bisa begitu. Dia harus pilih, mau jadi PNS atau karyawan saya. Karena dia pilih jadi PNS, saya pecat dia. Bupati tertawa dan bilang itu benar.

“Orang Papua banyak yang tidak tahan bekerja di perusahaan saya. Saya tidak bisa lihat orang kerja santai dan tidak setia”, kata Susanto.

Masih banyak topik menarik. Lain waktu saya bagikan. Tapi intinya, jika kita orang Papua mau maju maka kita perlu belajar dari mereka yang sudah duluan maju.

Bahkan dari kritik pedas sekalipun. Seperti minum obat malaria, pahit tapi menyembuhkan. Di ujung rotan ada emas, pepatah tua. *(Penulis adalah Anak Kampung dari Biak, pemerhati dan pengamat masalah social politik di Tanah Papua)

Tinggalkan Balasan