FEATUREHEADLINEPROFIL

Sponsored Prihatin Dengan Penyakit Masyarakat, Doddy Iskandar, SE Pilih PSI Untuk Tawarkan Solusinya

Aktivis di beberapa organisasi di level Kota Jayapura maupun Provinsi ini risau melihat setumpuk persoalan social, ekonomi yang bermuara pada maraknya penyakit masyarakat di tengah – tengah masyarakat, terpanggil untuk berkontribusi memberikan solusi untuk persoalan tersebut, Doddy Iskandar, SE memilih partainya anak muda sebagai kendaraan politiknya menuju ke DPRD Kota Jayapura, lantas apa saja yang jadi visi misi dan agenda perjuangannya bila terpilih di DPRD Kota kelak.

Prihatin dengan penyakit masyarakat, Doddy Iskandar, SE pilih PSI untuk tawarkan solusinya. (Foto : dok. Dody)Prihatin dengan penyakit masyarakat, Doddy Iskandar, SE pilih PSI untuk tawarkan solusinya. (Foto : dok. Dody)

Berikut wawancara TIFA Online (TO) dengan Dody Iskandar (DI) Caleg PSI nomor urut 2 untuk DPRD Kota dari Dapil 2 Jayapura Utara ini,

TIFAOnline (TO) : Apa motivasi Bro’ sehingga ingin maju jadi Caleg pada Pemilu 2019 mendatang ?

Dodi Iskandar (DI) : Selama ini saya berkecimpung di organisasi, jadi intuisi sy terasah di organisasi, sehingga hati dan pikiran saya tergerak melihat sejumlah persoalan dan masalah – masalah sosial yang terjadi di Papua, khususnya di Kota Jayapura, yang ujungnya bermuara ke kriminalitas, dan akar masalahnya bersumber dari kesulitan hidup dan himpitan ekonomi, sehingga saya merasa terpanggil untuk urun rembug memberikan ide, pemikiran dan gagasan untuk atasi masalah tersebut.

Selain itu juga ada dukungan dari teman – teman sesama aktivis organisasi, yang mendorong saya untuk maju caleg, sehingga ada kepercayaan diri saya untuk berjuang bersama PSI berkontribusi untuk membantu pemerintah atasi sejumlah persoalan yang ada ke depannya.

TO : Lantas, mengapa Bro’ memilih maju lewat PSI, bukannya ada pengalaman di salah satu partai pada Pileg lima tahun lalu ?

DI : Ini kali kedua saya maju sebagai caleg, di periode lalu pernah maju juga dari salah satu partai, tapi sejak PSI muncul, saya melihat ada sesuatu yang berbeda di partai ini, dari taglinenya saja sebagai Partai-nya Anak Muda, saya pikir ini adalah wadah yang pas dan cocok buat saya dibanding di partai sebelumnya, saya kepincut dengan Trilogi Perjuangan PSI, yakni Menebar Kebajikan, Merawat Keragaman dan Mengukuhkan Solidaritas, saya pikir semangat itulah yang di butuhkan Indonesia saat ini, dan saya pikir kami anak – anak muda harus menyuarakan hal itu, di sisi lain juga saya pikir ‘rumah lama’ yang pernah saya tinggali dulu sudah tidak kondusif lagi.

TO : Kembali ke persoalan masalah – masalah social tadi, khususnya di Kota Jayapura, seperti apa ?

DI : Ada satu pemandangan yang buat saya miris, anak – anak usia sekolah yang berkeliaran dengan kaleng – kaleng aibon dalam baju mereka yang selalu di hirup, belum lagi saya lihat belakangan ini mulai bermunculan anak – anak Papua yang mulai meminta – minta, saya pikir ini bukan kebiasaan orang Papua mengemis seperti di Jawa sana, belum lagi pemuda – pemuda yang tiap pagi tertidur di tempat yang tidak pantas karena mabuk, angka kriminalitas jambret, copet, saya pikir ini semua bukanlah masalah yang berdiri sendiri, tapi pasti ada pemicunya, dan itu lazim di kota besar yang kompetitif, dan Jayapura sedang menuju kearah itu, kalau tidak kita persiapkan dan cegah lebih awal, ke depan masalah – masalah social ini bisa meledak dan menimbulkan persoalan yang lebih kompleks.

TO : Bukannya selama ini sudah ada Pemerintah maupun SKPD juga yang coba atasi masalah tersebut ?

DI : Benar sekali, kalau terpilih sebagai Dewan, tentu salah satu visi saya adalah bagaimana mendorong upaya – upaya yang sudah di lakukan oleh Pemerintah saat ini bisa lebih konsisten dan berkesinambungan lagi, sehingga hasilnya bisa lebih signifikan dan berkesinambungan, karena masalah – masalah social ini tidak cukup dengan penanganan insidentil dan parsial, tetapi harus integral dan lintas sektoral tentunya, dan sejauh ini saya melihat isu – isu ini dan persoalan ini kurang di suarakan oleh wakil rakyat kita, mestinya harus ada sebuah regulasi yang jelas dan tegas bagaimana pemerintah memberikan jaminan kesejahteraan dan memastikan jangan sampai ada OAP yang terjerumus dalam penyakit social yang saya sebutkan tadi.

TO : Bro’ sendiri apa punya solusi kongkritnya ?

DI : Ini masih pemikiran dan ide gila saya saja yah, tentu sebagai legislative kita bukan eksekutor nantinya, tapi paling tidak kita bisa suarakan atau mendorong hadirnya perangkat regulasi yang memberikan jaminan hidup dan kesejahteraan agar warga yang berpotensi terjerumus dalam penyakit social tadi bisa di tangani lebih baik, intens, berkesinambungan dan tuntas.

Untuk anak – anak aibon ini saya berpikir, pasti ada masalah di dalam keluarga mereka, jadi memang tidak cukup kita hanya berteriak, harus ada penanganan menyeluruh bagaimana kita bisa menuntaskan masalah mereka, karena kita larang mereka isap aibon, kalau penyebabnya tidak kita atasi sama saja bohong, makanya perlu pendalaman keluarganya dahulu, pembinaan ke keluarga, bisa lewat gereja, atau PKK, atau SKPD lainnya yang ada di Pemerintah, tapi untuk penanganan jangka pendek, bila mereka punya keluarga tidak utuh lagi, saya pikir Pemkot harus memikirkan perlunya semacam Panti Rehabilitas pecandu aibon dan miras, khusus bagi anak – anak dan remaja, sehingga mereka bisa tertangani secara baik, utuh, dan berkelanjutan.

Penyakit – penyakit masyarakat ini kan muncul karena pergaulan yang salah, kehidupan ekonomi yang morat – marit, atau keluarga yang berantakan, semestinya Pemerintah bisa hadir sebagai orang tua buat mereka ini.

TO : Kalau soal miras dan dampaknya bagi generasi muda, Bro’ punya solusi atau apa tanggapan Bro’ atas kondisi yang ada sata ini?

DI : Ini persoalan pelik, bukan hanya di Papua saja yah, saya pikir di banyak daerah ini juga jadi momok, jadi memang tidak cukup kalau kita bahas satu hari, hehehehehe, tapi untuk Papua saya pikir yang jadi masalah dan persoalan adalah ‘tindakan atau perilaku’nya, bukan soal mirasnya. Yang selalu jadi buah bibir dan masalah adalah dimana kegiatan miras ini dilakukan di area publik yang berpotensi menimbulkan keonaran dan gangguan kamtibmas, karena kalau kita bicara soal setop miras saja, tidak akan merubah keadaan, karena miras pabrik di larang jual, masih ada miras local, bahkan bila kita melarang segala macam miras, para pecandu ini masih saja punya cara lain untuk mabuk, dengan miras oplosan, yang akibatnya bisa fatal sampai banyak yang meninggal.

Jadi kalau kita mau larang sama sekali peredaran miras rasanya mustahil selama UU di atas Perda masih membolehkan penjualannya, bahkan di banyak tempat menjadi sumber PAD, jadi selain perlu adanya pembatasan penjualan, juga perlu adanya tindakan pembinaan dan penegakan hukum bagi yang mengkonsumsi miras di tempat yang tidak sepatutnya.

Selain itu saya juga ingin kita melihat dari aspek yang lain untuk atasi masalah ini, khususnya di kalangan anak muda, mengapa mereka bisa terjerumus ke dalam pergaulan yang suka miras, karena anak muda yang memiliki energy dan kreatifitas berlebih ini kurang mendapat penyaluran, khususnya yang positif, sehingga mereka menyalurkan secara negative.

Itu yang saya bilang penanganan persoalan – persoalan social khususnya yang melanda anak muda di Kota Jayapura ini tidak bisa pendekatan hukum saja, atau pendekatan social saja, harus integral dan berkesinambungan, kita larang generasi muda miras, kita harus pikirkan lapangan kerja buat mereka, kita harus pikirkan sarana dan prasarana utk mereka salurkan minat, bakat dan kreatifitasnya, kita harus pikirkan regulasi yang adil untuk semua dan benar – benar di tegakkan dengan pendekatan pembinaan, sehingga ibarat orang sakit, kita harus diagnosis baik secara kasuistis, barulah kita berikan obat yang tepat.

TO : Bro’ backgroundnya kan ekonomi yah, bagaimana implementasi keilmuan yang Bro’ miliki untuk persoalan – persoalan social tadi ?

DI : Setuju sekali, justru akar dari semua penyakit masyarakat dan persoalan social lainnya adalah faktor ekonomi, kita tidak bisa langsung seketika merubah dan selesaikan masalah yang ada saat ini, tetapi kalau kita mulai meletakkan pondasinya dari generasi muda saat ini, paling tidak ke depan kehidupan mereka akan lebih baik di banding generasi saat ini.

Kaitannya dengan ekonomi dalam penyelesaian persoalan – persoalan penyakit masyarakat tadi jelas ada hubungannya, bila kita bisa menumbuhkan ekonomi, adanya lapangan kerja, peningkatan pendapatan, tentunya penyakit masyarakat juga akan berkurang, karena meningkatnya kesejahteraan masyarakat. (walhamri wahid/ TIFAOnline)

Tinggalkan Balasan