HEADLINEPERISTIWA

Nilai Biaya SPP Mahal, Mahasiswa Uncen Palang Kampus, Ini Tanggapan Rektor

Nilai biaya SPP mahal, mahasiswa Uncen palang kampus, ini tanggapan Rektor, tampak mahasiswa yang berdemo dan Rektor Uncen (inzert). (Foto : Ist/ TIFAOnline)Nilai biaya SPP mahal, mahasiswa Uncen palang kampus, ini tanggapan Rektor, tampak mahasiswa yang berdemo dan Rektor Uncen (inzert). (Foto : Ist/ TIFAOnline)

TIFAOnline, JAYAPURA— Hingga hari ini, Selasa (6/11/20180 kampus di Universitas Cenderawasih (Uncen) masih di palang oleh sejumlah mahasiswa yang sehari sebelumnya melakukan aksi demo damai memprotes kenaikan uang SPP di beberapa Fakultas yang ada di Uncen yang menurut mereka mahal sehingga memberatkan mahasiswa.

“Hari ini ini kampus kita masih dipalang oleh mahasiswa dengan tuntutan SPP diturunkan”, kata Dr. Ir. Apolo Safanpo, S.T., M.T, Rektor Uncen kepada TIFAOnline melalui pesan WhatsApp, Selasa (6/11/2018).

Rektor Uncen menyayangkan aksi pemalangan kampus yang justru merugikan diri mahasiswa itu sendiri, karena aktifitas pelayanan pendidikan juga tidak berjalan baik.

“kami setiap hari ada di kampus, sehingga hendaknya mahasiswa dapat menyampaikan aspirasi tersebut secara baik kepada pimpinan, demonstrasi tidak dilarang, demonstrasi bisa dilakukan untuk menyampaikan aspirasi, tapi memalang kampus dan menghentikan semua aktifitas dan proses perkuliahan bisa dikategorikan melanggar HAM mahasiswa yang sedang belajar”, kata Rektor Uncen lagi.

Terkait tuntutan mahasiswa pendemo soal tingginya biaya SPP, Rektor Uncen menjelaskan bahwa perhitungan besaran dana tersebut ditentukan berdasar pada Uang Kuliah Tunggal (UKT) di Perguruan Tinggi Negeri yang telah diberlakukan sejak tahun 2012 / 2013.

Dimana besaran UKT dihitung oleh Program Studi (Prodi) berdasarkan total kebutuhan biaya yang dibutuhkan oleh seorang mahasiswa mulai dari masuk kuliah hingga di wisuda.

“total kebutuhan biaya inilah yang selanjutnya dibagi dengan jumlah semester yang ditempuh dari sejak masuk sampai diwisuda, dan hasilnya adalah besaran UKT,” kata Apolo Safanpo menjelaskan bahwa Rektor hanya meneruskan usulan besaran UKT ke Menteri berdasarkan perhitungan dan usulan dari Prodi.

Menurutnya, setiap Prodi dalam satu Fakultas bisa memiliki besaran UKT berbeda-beda berdasarkan perhitung masing – masing Prodi.

Rektor merincikan, UKT Uncen dalam satu semester bervariasi mulai dari Rp.2.000.000 hingga Rp. 3.000.000 per semester, sementara kelas kerjasama dengan Pemerintah Daerah besaran UKT sebesar Rp.3.500.000 – Rp.3.750.000 per semester.

“kecuali Fakultas Kedokteran (FK) Rp. 10 Juta per semester dan SPP FK Uncen ini masih jauh di bawah SPP FK di universitas lain”, kata Apolo Safanpo menambahkan bahwa dirinya akan melakukan pertemuan dengan para Dekan untuk meminta masukan dan pertimbangan ulang terkait besaran biaya tersebut.

Sehari sebelumnya, ratusan mahasiwa berbagai jurusan menuntut penurunan biaya SPP yang dinilai terlalu tinggi.

“kami minta pimpinan Uncen menurunkan SPP, orang tua kami tidak mampu bayar SPP”, kata Franis Wasini Koordinator Lapangan, ia berharap kebijakan uang SPP tersebut harus di tinjau kembali dengan memperhatikan perekonomian keluarga dari mahasiswa.

Para pemdemo juga membeberkan jumlah uang SPP di 9 Fakultas, dimana untuk Fakultas Ekonomi dan Bisnis awalnya hanya membayar SPP Rp 2 juta naik jadi Rp 3,5 juta di Tahun 2018.

Dimana menurut mereka, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) mengalami kenaikan hingga Rp. 2,6 juta per semester, Fakultas Kedokteran sebelumnya hanya membayar SPP Rp. 5 juta naik 50 persen menjadi Rp. 10 juta per semesternya.

Ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa Fakultas (DPMF)  FISIP Uncen, Mesias Sama meminta Rektor Uncen agar memberikan jawaban dan alasan terkait kenaikan nilai SPP dan mengancam akan mogok kuliah dan akan palang kampus jika pihak Rektorat tidak memberikan kepastian terkait SPP tersebut.

“Kita tidak akan masuk kampus kalau tidak ada tanggapan, kami akan palang kampus selama sebulan bahkan sampai satu tahun”, kata Mesias Sama lagi. (titie adam / walhamri wahid)

Tinggalkan Balasan