HEADLINEHUKUM & HAM

Ada Nama Kadinas Kehutanan Dalam Dugaan Uang Panjar Suap Rp. 500 Juta ?

Ada nama Kadinas Kehutanan dalam dugaan uang panjar suap Rp. 500 Juta ?, tampak Kadinas Kehutanan Papua dalam suatu kesempatan. (Foto : dok. Warta Plus/Andi Riri)Ada nama Kadinas Kehutanan dalam dugaan uang panjar suap Rp. 500 Juta ?, tampak Kadinas Kehutanan Papua dalam suatu kesempatan. (Foto : dok. Warta Plus/Andi Riri)

TIFAOnline, JAYAPURA— Nama Kadinas Kehutanan Provinsi Papua, Jan Jap Ormuseray disebut – sebut sebagai salah satu pejabat kehutanan yang terkait dana sebesar Rp. 500 juta rupiah, uang panjar dari seorang pengusaha kayu berinisial P yang di titipkan kepada rekan pengusaha kayu lainnya berinisial FT yang mengaku ‘orang dekat’ Kadinas Kehutanan Papua, Jan Jap Ormuseray.

Dimana dari dana sebesar Rp. 500 juta yang di amankan Tim Satuan Tugas Sapu Bersih Pungutan Liar (Satgas Saber Pungli) Provinsi Papua di kantor perusahaan kayu, PT. SDT yang beralamat di Jl. Asrama Haji, Kotaraja, Rabu (7/11/2018) pukul 14.00 WIT kemarin, menurut pengakuan FT merupakan uang panjar dari ‘uang damai’ yang di sepakati sebesar Rp. 2,5 miliar.

Terkait namanya di kait – kaitan dengan panjar uang suap Rp. 500 juta, Kadinas Kehutanan Provinsi Papua, Yan Jap Ormuseray yang dikonfirmasi TIFA Online, Kamis (8/11/2018) sore beberapa kali melalui SMS, tidak membantah ataupun membenarkan hingga berita ini di naikkan, padahal pesan yang di kirimkan oleh TIFA Online sudah ada laporan terbaca.

Demikian juga ketika TIFAOnline mencoba menelpon langsung beberapa kali, tetapi Kadinas enggan mengangkat telepon TIFAOnline hingga berita ini di naikkan.

Sebagaimana keterangan pers yang dilakukan Direskrimsus Polda Papua, Kombes (Pol) Edy Swasono di Mapolda Papua, Kamis (8/11/2018) siang, dua orang oknum pengusaha kayu berinsial FT dan P, terciduk Tim Satgas Saber Pungli Provinsi Papua di kantor PT SDT  Jl  Asrama Haji, Kotaraja, Rabu (7/11/2018) siang sekitar pukul 14.00 WIT.

Keduanya di duga tengah melakukan transaksi suap untuk memuluskan perkara ilegal loging di Kabupaten Jayapura yang menjerat pengusaha P yang saat ini tengah ditangani oleh Penyidik PNS Dinas Kehutanan Provinsi Papua.

“Satgas Siber Pungli menyita 2 unit HP, uang tunai Rp 500 juta yang terdiri dari 300 lembar uang Rp 100 ribuan, dan 400 lembar uang Rp 50 ribuan”, kata Direskrimsus Polda Papua kepada awak media, Kamis (8/11/2018).

Menurut Direskrimsus, dari pengakuan FT uang tunai tersebut merupakan uang panjar untuk menyelesaikan kasus ilegal loging yang menjerat P yang saat ini sedang ditangani oleh Penyidik PNS Dinas Kehutanan Provinsi Papua. FT juga menyebut beberapa nama yang salah satunya adalah Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Papua, Yan Jap Ormuserai.

“Jadi uang ini adalah panjar dari total kesepakatan mereka sebesar Rp 2,5 Miliar untuk menyelesaikan kasus ilegal loging yang saat ini sedang ditangani,” kata Kombes (Pol) Edy Swasono.

Menurut Direskrimsus pengusaha FT mengaku dekat dengan Kadinas Kehutanan Provinsi Papua dan memberikan jaminan kepada P, tersangka ilegal loging yang juga adalah rekannya sendiri bahwa dapat menyelesaikan kasus tersebut lantaran dekat dengan orang dinas Kehutanan.

“jadi selama ini pengakuan korban, dia yakin memberikan dana tersebut kepada FT lantaran FT mengaku bahwa dia adalah suruhan dari  Dinas Kehutanan,” kata Direskrimsus lagi.

Dari hasil pemeriksaan awal, juga terungkap bahwa awalnya FT meminta dana penyelesaian sebesar Rp 500 Miliar, namun setelah dilakukan negosiasi sehingga kesepakatan dana penyelesaiannya hanya Rp 2,5 miliar.

“Nah yang Rp. 500 juta yang di OTT kemarin itu baru pembayaran awal saja”, kata Direskrimsus lagi.

Menurutnya pasal yang dikenakan kepada keduanya adalah pasal 368 dan 372 KUHP dan  Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi terkait masalah suap yakni pasal 5 dan 11 UU Nomor 31 Tahun 1999 Jo UU Nomor 20 Tahun 2001 dengan ancaman maksimal hukuman 5 tahun dan seumur hidup.

“Saat ini kita masih mendalami kasus ini, dan akan diproses untuk membongkar siapakan ASN yang terlibat dibelakang kasus ini”, kata Direskrimsus lagi.

Sedangkan pengusaha FT yang coba di konfirmasi oleh TIFA Online melalui WhatsApp sejak Kamis (8/11/2018) sore hingga berita ini di naikkan belum bisa di konfirmasi, karena WhatsApp-nya terpantau aktif terakhir kali Rabu (7/11/2018) sekitar pukul 20.38, pesan WhatsApp yang di kirimkan TIFA Online juga masih centang satu hingga berita ini di publish. (titie adam/r1)

Tinggalkan Balasan