HEADLINEOPINI

“Tikus Mati di Lumbung Padi’, Satire Impoten di Tanah Papua

Satire "tikus mati di lumbung padi" menyiratkan si tikus sebagai subjek yang bodoh dan mati karena kebodohannya atau karena diperbodoh. Itulah yang terjadi di tanah kita dengan masyarakat adat kita. Sudah mayoritasnya masih dalam "kebodohan" masih pula keseluruhannya dibodoh-bodohi.

Ilustrasi “Tikus Mati di Lumbung Padi’, satire impoten di Tanah Papua (sumber : kontakbanten.co.id)Ilustrasi “Tikus Mati di Lumbung Padi’, satire impoten di Tanah Papua (sumber : kontakbanten.co.id)

Oleh : Yosef Rumaseb*

Satire adalah gaya bahasa untuk menyatakan sindiran terhadap suatu keadaan atau seseorang. Satire biasanya disampaikan dalam bentuk ironi, sarkasme, atau parodi. Istilah ini berasal dari frasa bahasa latin satira atau satura (campuran makanan).

Seharusnya satire yang dinyatakan di publik ketika mengkritisi suatu keadaan bisa menimbulkan efek positif mendorong perubahan cara pandang yang mendorong perubahan pola tindak (paradigma) baru.

Tapi kadang tidak demikian. Kadang kedigdayaan suatu satire untuk merubah keadaan sudah impoten.

Impotensi adalah salah satu disfungsi seksual yang menjadi momok bagi para laki-laki. Satire yang impoten ibarat lelaki yang kelelakiannya sudah disfungsi. Seperti anjing yang jago menyalak tapi orang tahu dia tidak berbahaya lagi sebab dia tidak bisa menggigit.

—××××—

Satu contoh satire yang impoten di Tanah Papua adalah satire “tikus mati di dalam lumbung padi”.

Satire ini sejak Indonesia masuk tanah Papua sampai detik ini selalu berkumandang. Rakyat asli, masyarakat adat memiliki tanah, hutan, gunung, lembah, sungai, dll yang kaya raya tapi kesejahteraan masyarakatnya bukan hanya biasa-biasa saja tetapi malah terbalik dari itu. Miskin, malnutrisi, terusir dari tanah leluhur tanpa masa depan yang baik.

Dan ketika mereka memperjuangkan perubahan maka mereka dicap melanggar hukum, separatis atau malah ditembak dan berbuah pelanggaran HAM.

Ini kisah sehari-hari di tanah kita. Satire ini yang menemani obrolan saat Pace Mace bangun pagi dan berpapasan waktu mau buang hajat di belakang rumah, waktu orang makan pinang di pinggiran jalan, di ruang-ruang AC kaum cendikiawan dan bahkan di ruang pejabat asli Papua yang tertinggi.

Gubernur Papua Barat mengungkapkan satire itu dengan kalimat halus “kekayaan tanah ini luar biasa tetapi kesejahteraan masyarakatnya biasa-biasa saja”.

Satire ini hidup dalam kosa kata rakyat paling jelata hingga pejabat paling berkuasa yang berasal dari Tanah Papua.

Tapi satire ini sudah jadi satire yang impoten. Satire yang tidak berdampak positif untuk merubah paradigma di level atas. Impotensi satire itu terjadi mungkin karena dominan hati nurani decision makers yang mati dan tumpul terhadap suasana rakyat.

Mungkin sebab penguasa dan pengusaha sudah menyatu dan menempel di tubuh masyarakat dan menghisap hingga sum-sum.

Mungkin pula masyarakat adatnya yang terlalu lugu dan menyerah percaya seolah benalu itu orang suci dengan niat suci meski sesungguhnya serigala berbulu domba.

Satire “tikus mati di lumbung padi” menyiratkan si tikus sebagai subjek yang bodoh dan mati karena kebodohannya atau karena diperbodoh.

Itulah yang terjadi di tanah kita dengan masyarakat adat kita. Sudah mayoritasnya masih dalam “kebodohan” masih pula keseluruhannya dibodoh-bodohi.

Itulah sebabnya Gubernur Papua menolak skema pembagian saham PT Inalum dengan mengatakan “Jangan bodohi kami !”

—×××—

Kalau satire itu sudah impoten lalu bagaimana cara mengembalikan keperkasaannya?

Ini pergumulan kita sebab hakekat dari satire itu adalah untuk mendorong hadirnya paradigma baru untuk merangsang perubahan lebih baik.

Ada tiga model respon masyarakat adat Papua dalam merespon kondisi “tikus mati di atas lumbung padi”.

Tipikal saudara-saudara di pegunungan tengah di mana ada tambang emas adalah pengungkapan satire itu disertai pemberontakan. Konflik. Angkat perang.

Tipikal saudara-saudara kita di sekitar tambang migas sejak NNGPM Belanda hingga hari ini adalah satire tetap satire.

Dan tipikal saudara-saudara kita di Teluk Bintuni yang mendahulukan dialog dan diikuti aksi palang memalang fasilitas investor atau pemerintah.

Pada dua minggu terakhir kita menyaksikan dua aksi di Tanah Papua untuk memperkasakan kembali hakekat perubahan yang diperjuangkan dalam melawan satire “tikus mati di lumbung padi”.

Di Provinsi Papua, Gubernur Papua menolak skema divestasi saham 10% untuk Papua dan dampak gebrakan itu bukan hanya sampai level menteri malah hingga direspon oleh Presiden Jokowi dengan mengundang Gubernur Enembe membahas skema kepemilikan saham 10% di istana.

Enembe memperjuangkan hak masyarakat adat untuk mendapatkan saham. Sementara di Provinsi Papua Barat, terjadi puncak dari lebih dari 30 kali pertemuan untuk membahas Perdasus DBH Migas dan kemarin 28 November 2018 adalah puncak pertemuan –meski informal– antara masyarakat adat dengan Pimpinan MRP PB dan dengan Gubernur PB sesudah sebelumnya dengan DPR PB hingga menghasilkan Pansus Penanganan Persoalan DBH Migas.

Pada kasus DBH Migas di Provinsi Papua Barat, pengungkapan satire secara dialogis sudah melampaui batas dialogis hingga di titik di mana muncul early warning di bidang security untuk melakukan demo bahkan muncul early warning untuk memalang proyek investasi migas di daerah ini.

Meski Gubernur PB mengingatkan masyarakat adat untuk jaga situasi kondusif bagi investasi, respon masyarakat adat bisa tidak mendukung ketika manajemen hasil investasi itu tidak merubah realita dari kondisi yang diungkapkan dalam satire “tikus mati di dalam lumbung padi”.

—-×××—-

Perkenankan saya menutup tulisan singkat ini dengan mengutip peringatan keras Pendeta Trevor Christian Johnson, seorang missionaris Amerika dalam suratnya tertanggal 27 April 2018.

Trevor 12 tahun hidup dan melayani pembangunan kerohanian, pendidikan dan kesehatan suku terasing Korowai.

Pada tahun 2017, muncul tambang emas ilegal di wilayah suku Korowai. Banyak emas dibawa pergi secara ilegal di atas kemiskinan, sakit penyakit, kebodohan suku Korowai.

Penambang ilegal itu mencemari sungai dengan racun mercuri bahkan merusak hutan. Perjuangan Pendeta Trevor berhasil mempengaruhi seluruh level kekuatan kritis terkait dan mendorong tambang ilegal itu ditutup dan pengusahanya ditangkap.

Hal terpenting dari perjuangan Pendeta Trevor adalah khotbahnya yang keras berisi peringatan dari TUHAN yang kita perlu renungkan dalam semua issue yang terungkap dalam satire “tikus mati di lumbung padi” di Tanah Papua.

Berikut ini peringatan keras Pendeta Trevor dalam suratnya tertanggal 27 April 2018 :

Murka Tuhan akan jatuh dengan KERAS pada semua orang yang menindas orang miskin. Penghakiman Tuhan yang paling kejam akan menimpa orang-orang yang menindas kaum lemah dan yang membutuhkan.

Amsal 14:31 mengatakan, “Siapa menindas satu orang yang lemah, menghina Penciptanya, tetapi siapa menaruh belas kasihan kepada orang miskin, memuliakan Dia.”

Siapa yang menindas sesama akan membuat murka Penciptanya. Tuhan marah pada Anda saat ini.

Amsal 6:16-19 mengatakan kepada kita bahwa Tuhan MEMBENCI hati yang merencanakan kejahatan. Sementara Amsal 11:1 mengatakan Pemakaian neraca yang tidak benar untuk menipu orang adalah kutukan Tuhan.

Yesaya 10:1-3 berkata, “Celakalah bagi mereka yang mencabut orang-orang dari keadilan dan merampok orang miskin … sekarang apa yang akan Anda lakukan di Hari Penghakiman! Kepada siapa Anda akan melarikan diri untuk bantuan. Kepada siapa kamu akan meninggalkan kekayaanmu!”

Bagi Anda yang mengambil keuntungan dan menjadi kaya dengan cara memasuki tanah si miskin dan merampok kekayaan tanah orang lain sehingga si miskin semakin miskin dan sekarat kelaparan, Anda akan dihukum api neraka.

Namun Tuhan adalah baik, penuh kasih dan pengampunan. Ia akan menerima Anda bahkan saat ini juga jika Anda bertobat dan menghentikan kejahatan Anda. Saya mohon, bertobatlah hari ini.” *(Penulis adalah Anak Kampung dari Biak, pemerhati dan pengamat masalah social politik di Tanah Papua)

Tinggalkan Balasan