HEADLINESOSIAL KEMASYARAKATANWARTA POLDA

Nenek 79 Tahun Ini Harus Kerja Keras di Usia Senja, Setelah Kisahnya di Publish Polda, Dapat Bantuan Dari YBM PLN

Usianya 79 tahun, tapi semangatnya untuk tidak mengharap belas kasihan orang membuatnya tetap hidup bahagia dan mandiri di usia senja. Buruh kupas bawang adalah penopang hidupnya sehari – hari selain mencari rumput untuk menghidupi 2 ekor sapid an beberapa ekor kambing piaraannya yang dapat di jual sewaktu - waktu

Nenek 79 tahun ini harus kerja keras di usia senja, setelah kisahnya di publish Polda, dapat bantuan dari YBM PLN, tampak Nenek Surani bersama tim Polda papua dan YBM PLN usai penyerahan bantuan. (Foto : Amri/ TIFAOnline)Nenek 79 tahun ini harus kerja keras di usia senja, setelah kisahnya di publish Polda, dapat bantuan dari YBM PLN, tampak Nenek Surani bersama tim Polda papua dan YBM PLN usai penyerahan bantuan. (Foto : Amri/ TIFAOnline)

Oleh    : Walhamri Wahid

Mata Nenek Surani, kelahiran Sragen, 1 Juli 1939 tersebut berkaca – kaca namun kegembiraan terpancar di wajahnya, dengan bahasa Indonesia bercampur bahasa Jawa yang medhok ia berdiri terpaku di pintu rumahnya ketika melihat rombongan mobil dari Humas Polda Papua dan Yayasan Baitul Maal Perusahaan Listrik Negara (YBM PLN) Wilayah Papua dan Papua Barat parkir di depan rumahnya, Minggu (2/12/2018).

“saya kaget, dan tidak sangka, akan di kunjungi orang – orang penting kayak Bapak – bapak ini, mohon maaf kondisi gubuk saya berantakan, maklum Nenek tinggal sendiri”, kata Nenek Surani mempersilahkan rombongan Polda Papua dan YBM PLN untuk masuk dan duduk melantai di rumahnya.

Sebuah kasur lusuh dan kumal terlihat membentang di ruangan tengah dengan tumpukan berbagai barang yang juga menjadi tempat tidurnya sehari – hari.

Nenek Surani (79 tahun), seorang perempuan renta namun masih tetap kuat mengerjakan pekerjaan – pekerjaan berat di usia senjanya.

Nenek yang tinggal seorang diri di Kampung Dukwia, Arso VIII Kabupaten Keerom ini sempat mencuri perhatian warga social media saat kisahnya yang di bantu oleh anggota Bhabinkamtibmas Kampung Dukwia Bripda Safrullah ketika tengah mencari rumput (Ngarit-Red) padahal usianya sudah tidak muda lagi di publish oleh Bidang Humas Polda Papua melalui beberapa media online.

“kami tergerak untuk memberikan bantuan ala kadarnya, setelah membaca kisahnya yang di publish oleh Polda Papua, kami pikir usia Nenek sudah tua, semestinya memang tidak kerja berat lagi, jangan lihat nominalnya yang tidak seberapa, tapi apa yang kami lakukan hari ini semoga bisa menginspirasi saudara – saudara lainnya atau lembaga lainnya yang bisa ikut ambil bagian memberikan perhatian, dan yang terpenting kita berharap kehadiran kami hari ini bisa membuat Nenek tidak merasa sendiri, ada kami yang juga peduli dengan Nenek Surani”, kata Sutrisno, Ketua YBM PLN UP3 Jayapura melalui Halim Yudha Prasetya, Bendahara YBM PLN UP3 Jayapura usai menyerahkan bantuan kepada Nenek Surani.

Turut hadir dalam kegiatan penyerahan bantuan dari YBM PLN tersebut diantaranya Kasubag Bin Ops Binmas Polres Keerom Iptu Samsul Bahri mewakili Kapolres Keerom, Ipda Sosra mewakili Kabidhumas Polda Papua, Kombes (Pol) Ahmad Musthofa Kamal yang pada kesempatan itu mengucapkan terima kasih atas perhatian dari YBM PLN yang rupanya memantau semua kegiatan Binmas Polda Papua di masyarakat selama ini.

“ke depannya kita berharap antara YBM PLN bisa kerja sama lebih intens lagi, dan sesuai petunjuk pimpinan kami hari ini hadir di tempat ini sebagai bentuk perhatian kepolisian kepada masyarakat sekitar”, kata Iptu Samsul Bahri di dampingi Ipda Sosra dan juga Bhabinkamtibmas Bripda Safrullah.

Nenek Surani sendiri sudah hidup sendiri di rumah yang di tempatinya itu sejak 10 tahun menginjakkan kaki di Arso VIII.

“saya lupa tahun berapa ikut trans ke sini, yang pasti setelah 10 tahun di sini suami saya meninggal, anak saya hanya satu, laki – laki, tinggal di Arso sini juga hanya di jalur lain, mungkin karena sudah punya keluarga jadi jarang – jarang tengok saya, makanya saya tinggal sendiri saja, anak laki – laki beda kalau anak perempuan”, kata Nenek Surani terlihat menahan sedih.

Nenek Surani menuturkan bagaimana kehidupannya sehari – hari, meski di usia senja ia masih telaten dan kuat mencari rumput untuk ternak – ternaknya baik kambing, sapi dan juga ada beberapa ekor ayam.

“saya sudah nggak kuat garap kebun, hanya ngarit saja ala kadarnya, ada sapi 2 ekor, ada kambing juga, kalau kambingnya ada yang sudah besar biasa saya jual, uangnya itu yang saya simpan pake sedikit – sedikit untuk kebutuhan sehari hari mas”, kata Nenek Surani kepada TIFA Online, Minggu (2/12/2018).

Terkadang untuk memenuhi kebutuhan makannya sehari – hari ia berharap belas kasihan dari tetangga, atau ikut kerja buruh sebagai pengupas bawang di tetangga yang habis panen.

“Nenek Surani ini meski sudah tua, nggak mau di belas kasihani, jadi kita harus kasih kerjaan sedikit baru kita memberikan bantuan untuk memenuhi kebutuhan sehari – harinya, makanya biasa ikut bantu bersihin bawang, begitu cara warga sini menolong Nenek”, kata Ketua RT setempat.

Meski Nenek Surani tinggal seorang diri di rumahnya, akan tetapi ia mengaku tidak pernah merasa kesepian, karena para tetangga perhatian dan baik kepadanya. (TIFA Online)

Tinggalkan Balasan