HEADLINEPERISTIWA

Simpang Siur Jumlah Korban Pembantaian di Nduga, Ini Pengakuan Seorang Karyawan Istaka Yang Selamat

Simpang siur jumlah korban pembantaian di Nduga, ini pengakuan seorang karyawan Istaka yang selamat, tampak korban saat menuturkan apa yang di alaminya. (Foto : Pendam XVII/ Cenderawasih)Simpang siur jumlah korban pembantaian di Nduga, ini pengakuan seorang karyawan Istaka yang selamat, tampak korban saat menuturkan apa yang di alaminya. (Foto : Pendam XVII/ Cenderawasih)

TIFAOnline, JAYAPURA— Setelah berbagai informasi berseliweran terkait jumlah korban pembantaian para pekerja PT. Istaka Karya yang tengah terlibat menyelesaikan proyek pembangunan jalan dan jembatan di Kabupaten Nduga, akhirnya ada setitik terang pasca berhasil di selamatkannya Jimmi Aritonang, salah satu saksi hidup, korban selamat pembantaian kelompok sipil bersenjata di Kabupaten Nduga.

“kami semua ada 25 orang yang di jemput paksa dari lokasi camp pekerja sekitar pukul 15.00 WIT pada Minggu (2/12/2018), teman – teman saya ada yang di tembak dengan senjata dan juga ada yang mati karena tewas di gorok dengan parang dan sajam lainnya”, kata Jimmi Aritonang dengan air muka yang masih trauma dan belum bisa melupakan peristiwa tragis dan naas yang pernah di saksikannya.

Sebagaimana release yang di kirimkan Pendam XVII/ Cenderawasih, Jimi Aritonang menuturkan bahwa pada hari Minggu (2/12/2018) sebanyak 50 warga sipil bersenjata yang di duga adalah kelompok TPN/OPM yang bermarkas di wilayah setempat mendatangi camp pekerja PT. Istaka Karya, sebuah BUMN yang menangani sejumlah proyek infrastruktur di Kabupaten Nduga.

“mereka datang ke camp sekitar  pukul 07.00 WIT, seluruh karyawan sejumlah 25 orang keluar, kami di giring dengan tangan terikat menuju kali Karunggame dan dikawal sekitar 50 orang KKSB bersenjata campuran standard militer”, kata Jimi Aritonang yang saat ini telah diselamatkan dan dalam perlindungan Satuan Tugas (Satgas) Gabungan TNI/Polri, dalam release yang diterima TIFA Online, Rabu (5/12/2018) kemarin.

Jimmi menuturkan, seluruh pekerja dibawa berjalan kaki dalam keadaan tangan terikat dibawa ke bukit puncak Kabo, dimana ketika itu mereka semua jalan jongkok dan berbaris dengan formasi 5 saf.

“kami semua ketakutan, karena kami tidak tahu salah kami apa, mereka seperti sorak – sorai kegirangan, bahkan sambil mengiring kami jalan berjongkok itu ada yang melepas tembakan, teriak – teriak khas Papua, intinya mengintimidasi dan buat kami semua ketakutan, hingga akhirnya tidak tahu siapa yang memulai ada yang hambur tembakan ke arah kami”, kata Jimmi Aritonang dengan muka pucat pasi.

Menurut Jimi ketika itu ada yang tertembak pada bagian tubuh yang telak dan mematikan, namun juga ada yang tertembak di bagian yang tidak fatal namun mereka semua inisiatif untuk pura – pura tewas tertembak semua, termasuk dirinya.

“Saat itu mereka seperti berpesta sambil menembak, karena kondisi ketakutan teman-teman ada yang sudah tertembak, tapi ada 11 orang yang tidak terkena senjata termasuk saya, berpura-pura terkapar mati juga, jadi KSB pikir kami semua sudah mati, jadi kami di tinggalkan begitu saja di lokasi penembakan”, menceritakan bagaimana sehingga dirinya bisa selamat.

Setelah melakukan perbuan kejinya, lanjut Jimmy, KKSB meninggalkan para korban melanjutkan perjalanan menuju bukit Puncak Kabo.

“mereka belum terlalu jauh, rupanya beberapa teman yang sudah ketakutan dan khawatir KSB akan kembali untuk memeriksa, sehingga memberanikan diri untuk bangun dan mencoba kabur, rupanya sempat terlihat oleh beberapa anggota KSB yang sudah lumayan jauh berjalan dari lokasi pembantaian”, kata Jimi Aritonang.

Akhirnya kelompok KSB tersebut berbalik kembali dan melakukan pengejaran terhadap 11 pekerja PT. Istaka Karya yang mencoba kabur.

“saat itu kalau tidak salah kami ada 11 yang coba kabur, ada beberapa yang luka, tapi kami tidak kuasai medan dan kalah cepat, sehingga KSB bisa menangkap beberapa rekan kami, kalau saya tidak salah ingat ada 5 teman yang tertangkap dan seketika itu juga mereka langsung di bantai dengan parang hingga tewas, jadi yang meninggal di penembakan pertama itu 14 orang, di tambah yang 5 orang yang coba kabur jadi seingat saya yang sudah pasti tewas sekitar 19 orang”, kata Jimi Aritonang dalam release yang di kirimkan Pendam XVII/ Cenderawasih sesuai pengakuannya.

Sedangkan Jimi Aritonang bersama 6 pekerja lainnya terus berusaha kabur sekencang – kencangnya dengan medan yang ekstrim menuju kea rah Kampung Mbua.

“saya tidak tahu bagaimana nasib teman kami yang 2 orang, sedangkan saya dan 3 teman lainnya berhasil ditemukan oleh anggota TNI di Pos Yonif 755/ Yalet di Mbua.

Rupanya informasi keberadaan Jimi Aritonang yang di amankan oleh anggota TNI 755/ Yalet di Pos Mbua di ketahui KSB, sehingga Senin (3/12/2018) sekitar pukul 05.00 WIT, mendapat serangan dari KSB yang bersenjata api dan alat perang tradisional lainnya.

Kapendam XVII/Cenderawasih, Kolonel (Inf) Muhammad Aidi dalam releasenya mengatakan serangan diawali dengan pelemparan batu ke arah pos, saat itu seorang anggota  Yonif 755/Yalet, Serda Handoko yang mendengar adanya lemparan membuka jendela, hingga akhirnya tertembak dan meninggal dunia.

Mendapat serangan, anggota TNI 755/ Yalet Pos Mbua melakukan perlawanan, sehingga terjadi aksi baku tembak antara kedua kelompok mulai dari pukul 05.00 WIT hingga pukul 21.00 WIT.

“Karena situasi tidak berimbang dan kondisi medan yang tidak menguntungkan, maka, Selasa (4/11/2018) pukul 01.00 WIT, Danpos memutuskan untuk mundur mencari medan perlindungan,” kata Kapendam dimana saat pasukan TNI mundur, salah seorang anggotanya, Pratu Sugeng terkena tembakan kembali di lengannya.

Namun akhirnya hingga pukul 07.00 WIT Satgas Gabungan TNI-Polri telah berhasil menduduki Mbua dan melaksanakan penyelamatan serta evakuasi korban.

Sebelumnya, informasi soal jumlah korban pembantaian oleh Kelompok Sipil Bersenjata (KSB) di Kabupaten Nduga simpang siur, bahkan sempat ramai di social media bahwa sebanyak 31 orang, kemudian informasi lainnya mengabarkan sebanyak 24 orang, demikian juga terkait penyebab pembantaian tersebut belum ada informasi akurat dan valid yang bisa di jadikan referensi.

Dalam releasenya, Kabidhumas Polda Papua, Kombes (Pol) Ahmad Musthofa Kamal, Senin (4/12/2018) sempat menginformasikan bahwa korban sebnayak 30 orang yang adalah karyawan PT. Istaka Karya

“Ada 31 korban meninggal dunia, 24 orang di bunuh pada hari pertama (1 Desember-Red) dimana 7 orang lainnya berhasil melarikan diri di rumah anggota DPRD, tapi akhirnya mereka di jemput dan 6 orang dibunuh sementara 1 orang lainnya kabur dan hingga saat ini belum ditemukan”, kata Kabidhumas Polda Papua, Senin (4/12/2018) malam.

Menurut Kombes (Pol) Ahmad Musthofa Kamal, sehari sebelum tragedy pembantaian tersebut, pada pulukul 20.30 WIT, Project Managet PR Istika Karya, Cahyo mendapat telepon dari kooordinator lapangannya, Jhoni, namun isi pembicaraannya tidak dipahami oleh Cahyo.

“Jadi Cahyo dapat telepon dari nomor Jonny, tapi si penelepon bicaranya tidak jelas, sementara Jonny ini sedang mengawasi pekerja di lokasi tempat pembunuhan”, kata Kabidhumas yang juga mengaku bahwa Jonny terakhir melakukan komunikasi telepon dengan POK Satkerj PJN IV PU Binamarga, Monang Tobing hanya melalui pesan SMS pada  30 November 2018 lalu.

Terkait penyebab tragedi pembantaian oleh KSB terhadap puluhan karyawan PT. Istaka Karya itu, dari informasi yang berhasil di himpun oleh TIFA Online dipicu oleh tindakan salah seorang pekerja PT. Istaka Karya yang sempat melihat adanya kegiatan upacara bendera pada 1 Desember 2018, yang di peringati oleh KSb sebagai Hari Ulang Tahun (HUT) OPM di Distrik Yigi.

“salah satu korban pembunuhan tersebut ada yang melihat dan mengambil foto upacara HUT OPM, sehingga hal tersebut membuat KKB marah dan nembantai para-para korban tersebut,” kata sumber TIFAOnline, Senin (3/12/2018) malam.

Terkait dengan informasi yang beredar bahwa ada 8 orang yang dikabarkan sempat menyelamatkan diri di kediaman Alimi Gwijangge, Wakil Ketua DPRD Nduga, namun di jemput paksa oleh KSB dan kemudian di bunuh lagi hingga tewas semua, hingga berita ini di naikkan belum berhasil di konfirmasi oleh TIFA Online kepada Pihak Mapolda Papua maupun pihak – pihak lainnya.

Namun soal kronologis seperti itu tidak di sampaikan oleh Jhon Aritonang sebagaimana release yang di kirimkan Pendam XVII/ Cenderawasih.

“informasi tentang 8 orang yang mengungsi ke rumah anggota DPRD Nduga sebelumnya di laporkan oleh Pendeta di Yigi melalui saluran radio SSb dan sampai sekarang belum bisa di konfirmasi, sedangkan keterangan saksi korban (Jimmy Aritonang –Red) kepada kami jumlah karyawan ada 25 orang, 19 meninggal dunia, 4 orang sudah di evakuasi ke Wamena, dan 2 orang masih hilang, perihal 8 orang yang ke rumah anggota DPRD Nduga itu saksi korban mengaku tidak tahu, jadi dia hanya menceritakan apa yang di alaminya”, jawab Kolonel (Inf) Muhamad Aidi, Kapendam XVII/ Cenderawasih ketika di konfirmasi terkait hal tersebut.

Informasi terkini yang berhasil di himpun oleh TIFAOnline, Kamis (6/12/2018) selain Jimmy Aritonang, semalam seorang lagi saksi korban berhasil di temukan dalam keadaan selamat atas nama Jhoni Arrung yang ditemukan oleh Satgas Gabungan TNI/Polri pada Selasa (4/12/2018) di Distrik Mbua, Kabupaten Nduga dalam keadaan lemas dan trauma, namun hingga berita ini di naikkan belum ada keterangan resmi dari pihak keamanan terkait hal itu.

Jhonni Arung adalah seorang tokoh masyarakat suku Toraja di Timika yang juga bekerja sebagai sub kontraktor yang mengerjakan jembatan di Kali Yigi. (Titie Adam/ R1)

Tinggalkan Balasan