EKBIS NASIONALHEADLINE

Ini Nasib Proyek Infrastruktur Trans Papua Pasca Insiden Pembantaian Pekerja PT. Istaka Karya di Nduga

Ini nasib proyek infrastruktur Trans Papua pasca insiden pembantaian pekerja PT. Istaka Karya di Nduga, tampak Kepala BBPJN Wilayah XVIII, Osman H. Marbun. (Foto : Titie/ TIFAOnline)

TIFAOnline, JAYAPURA— Meski ada instruksi dari Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadi Moeljono untuk menghentikan sementara sejumlah proyek Trans Papua pasca insiden pembantaian sejumlah pekerja PT. Istaka Karya pada Minggu (2/12/2018) lalu, namun menurut Kepala Balai Besar Pembangunan Jalan dan Jembatan Nasional (BBPJN) Wilayah XVIII Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Osman Haryanto Marbun tidak seluruhnya di hentikan.

“Jadi hanya di hentikan sementara di lokasi bermasalah, tidak ada pembangunan yang berhenti apalagi di lokasi lainnya, pembangunan jalan Trans Papua harus berjalan terus,” kata Osman H. Marbun ketika di konfirmasi TIFAOnline, via selularnya, Rabu (5/11/2018) pagi.

Kepala BBPJN Wilayah XVIII mengatakan pembangunan jembatan yang ditangani oleh PT Istaka Karya merupakan proyek dengan kontrak multi year, sehingga penghentian sementara tersebut, tidak menjadi masalah apalagi terkait dengan kontrak.

“Jadi inikan proyek multi year, tapi karena ada penghentian sementara maka pengganggarannya yang dipindahkan di tahun depan, jadi kalau seharusnya 11 jembatan harus beres tahun ini, maka bisa diselesaikan 8 jembatan dulu, 3 jembatan lainnya di tahun depan,” kata Osman Marbun menekankan tidak ada persoalan terkait kontrak pekerjaan tersebut.

Untuk pembangunan jembatan sendiri, Istaka Karya melaksanaan pembangunan jembatan untuk ruas jalan Trans Papua Wamena-Mamugu dengan beban pekerjaan sebanyak 14 jembatan. Dimana Istaka telah melaksanakan pekerjaan 11 jembatan, 8 diantaranya sudah dalam bentuk bangunan.

“11 jembatan ini sedang dibangun walaupun belum semuanya rampung 100 persen”, kata Kepala BBPJN Wilayah XVIII lagi.

Terkait dengan status para korban pembantaian menurut Kepala BBPJN Wilayah XVIII, bahwa tidak semua korban tewas pada insiden pembantaian pekerja jembatan di Kali Yigi-Kali Aurak, Distrik Yigi, Kabupaten Nduga, Minggu (2/12/2018) lalu merupakan karyawan tetap dari PT Istaka Karya.

“ya, pekerja-pekerjanya itu sebagian bukan karyawan tetap, dari 28 orang ini hanya dua karyawan tetap, sisanya itu pekerja yang di rekrut dari daerah setempat bahkan ada juga dari luar daerah”, kata Osman Marbun.

Meski bukan karyawan tetap PT. Istaka Karya, lanjut Osman, para pekerja yang terlibat dalam proyek pemerintah dan menjadi korban apalagi sampai meninggal dunia tetap mendapatkan asuransi keselamatan kerja sebagaimana UU Ketenaga Kerjaan.

“semua itu sudah tercover dalam perjanjian, walaupun mereka sub kontrak semuanya di jamin oleh asuransi Jamsostek”, kata Osman Marbun. (Titie Adam/ R1)

Tinggalkan Balasan