BUDAYA & PARIWISATAHEADLINE

Menelusuri Jejak Dai Nippon di Goa Jepang Kota Karang Biak

Menuruni 180 anak tangga Goa Jepang membuat kita hanyut dalam berbagai sensasi secara bersamaan, ada kekaguman, eksotika, takut, bahkan juga nuansa seram yang buat bulu kuduk merinding, membayangkan betapa dahsyatnya pertempuran 76 tahun lalu yang memakan korban hingga ribuan nyawa

Menelusuri jejak Dai Nippon di Goa Jepang Kota Karang Biak, tampak wartawan TIFAOnline di mulut goa dengan pagar kayu. (Foto : Amri/ TIFAOnline)Menelusuri jejak Dai Nippon di Goa Jepang Kota Karang Biak, tampak wartawan TIFAOnline di mulut goa dengan pagar kayu. (Foto : Amri/ TIFAOnline)

Oleh : Walhamri Wahid / TIFAOnline

Awal pendaratannya di Biak pada tahun 1942, dari 10.400 serdadu Dai Nippon pimpinan Kolonel Kuzume Naoyuki dari Infanteri 222 Kekaisaran Jepang yang mendarat di 6 (enam) titik di Pulau Biak, sebanyak 3.000 serdadu Dai Nippon ditempatkan di Goa Binsari yang terletak di Kampung Sumberker, Distrik Samofa, Kabupaten Biak Numfor, yang saat ini familiar dengan sebutan Goa Jepang.

Peta pendaratan serdadu jepang di enam titik di Pulau Biak, dimana  Goa Binsari ada 3.000 pasukan yang ditempatkan. (Foto : Repro/TIFAOnline)

Namun dari sekitar 3.000 serdadu Dai Nippon yang ditempatkan di Goa Binsari ketika itu hanya tersisa 235 serdadu Dai Nippon usai di bombardir tempat persembunyian mereka di Goa Binsari, dimana kemudian Kolonel Kuzume Naoyuki memilih 109 perwira dan bawahan diantaranya guna melakukan serangan Kamikaze sebagai balasan kepada Sekutu, bahkan hingga akhirnya Kolonel Kuzume Naoyuki dan beberapa serdadunya yang tersisa melakukan harakiri (bunuh diri) ketika mereka sudah tidak bisa memberikan perlawanan lagi dari pada harus menyerahkan diri.

Dikutip dari situs Wikipedia tentang pertempuran antara Sekutu dan Jepang di Biak, pasca serdadu Dai Nippon di bumi hanguskan oleh pasukan Sekutu, pada tanggal 22 Juni, Kolonel Kuzume Naoyuki membakar panji-panji kesatuan lalu melakukan harakiri setelah berhasil menyelamtakan Letjen Takuzo Numata, Kepala Staf Komando Pasukan Area ke-2 AD yang sedang berada di pulau Biak dalam sebuah tur inspeksi, yang di evakuasi mengunakan pesawat amfibi dari Teluk Korin pada tanggal 20 Juni.

Dari 3.000 serdadu Dai Nippon yang berada di Goa Binsari ketika itu, hingga kini baru sekitar 850 hingga 1.000 jasad yang berhasil di angkat dan di pulangkan ke Jepang, sedangkan sisanya di duga masih banyak yang tertimbun di dasar Goa Binsari.

“yang terakhir itu ada sekitar 80-an tengkorak dan kerangka yang berhasil kita kumpulkan dan dilakukan pembakaran oleh pihak pemerintah Jepang di halaman sini, sampai jadi abu, kemudian abu itu mereka bawa pulang ke Jepang”, kata Yusuf Rumaropen, Penanggung Jawab dan Pengelola Goa Binsari atau yang terkenal dengan nama Goa Jepang kepada TIFAOnline saat ditemui di Museum Mini-nya di pintu masuk ke Goa Binsari, Selasa (1/1/2019).

Mengunjungi Goa Jepang yang terletak di Kampung Sumberker, Distrik Samofa Kabupaten Biak tidaklah susah, bisa menggunakan roda dua (ojek-Red) ataupun roda empat sewaan, dari pusat kota Biak untuk sampai ke lokasi hanya membutuhkan sekitar 10 – 15 menit saja.

Salah satu rongsokan mobil peninggalan tentara Sekutu di sekitar lokasi Goa Jepang Biak. (Foto : Amri/ TIFAOnline)

Memasuki areal Goa Jepang kita disambut sebuah taman kecil berisi beberapa rongsokan sisa perang yang di kumpulkan oleh pengelola dari area sekitar Goa Jepang maupun dari dalam goa.

Sebuah bangunan sederhana yang di bangun oleh Yusuf Rumaropen, pengelola situs wisata tersebut difungsikan sebagai Pusat Informasi atau Museum Mini yang menyimpan sejumlah artefak peninggalan Perang Dunia II yang pernah terjadi di tempat tersebut.

“silahkan isi buku tamu dulu yah”, kata seorang ibu bernama Mathelda Maryen yang adalah istri Yusuf Rumaropen.

Setelah kita mengisi buku tamu, maka kita di kenakan biaya masuk dengan tariff yang bervariasi.

“kalau untuk masyarakat yang kelas menengah ke bawah, atau masyarakat sekitar Biak,  turis local lah, saya biasa tarik Rp. 10.000 per kepala, tapi kalau untutk turis luar atau kelas menengah ke atas biasa saya patok tariff Rp 25.000 per kepala”, kata Yusuf Rumaropen.

Yusuf Rumaropen dan Mathelda Maryen, suami istri pengelola situs Goa Binsari atau Goa Jepang di Kampung Sumberker, Distrik Samofa, Kabupaten Biak Numfor. (Foto : Amri/ TIFAOnline)

Untuk membedakan strata pengunjung guna memberlakukan tariff ia menggunakan instingnya saja dengan memperhatikan tongkrongan dan tampilan pengunjung termasuk kendaraan yang di tumpangi saat memasuki areal parkir yang ada.

Jalan setapak menuju ke lokasi Goa Jepang yang tertata rapi dan asri. (Foto : Amri/ TIFAOnline)

Beres urusan administrasi kita akan melalui jalan setapak yang terlihat berlumut di bawah kerindangan pohon – pohon yang rimbun bahkan juga penuh dengan akar pepohonan tua yang bergelantungan menambah eksotisnya suasana menuju ke lokasi Goa Jepang.

Sebelum mendekati bibir Goa Jepang, sebuah monumen kecil dalam pagar ala kadarnya menyambut pengunjung di sisi kanan jalan setapak, sedangkan di sisi kirinya terlihat dua buah gazebo tempat pengunjung beristirahat setelah kelelahan dari dalam goa.

dua buah pondokan atau gazebo yang selain di gunakan untuk istirahat pengunjung yang lelah biasa digunakan turis dari Jepang untuk sembahyang. (Foto : Amri/ TIFAOnline)

“ini di bangun karena sering turis dari Jepang sampai di sini mereka ingin sembahyang dan tidak ada tempat yang layak, makanya kami sediakan tempat ini apa adanya”, kata Yusuf Rumaropen lagi.

Pada lempengan beton di monument tersebut terukir kalimat, “Memorial Erected in 1956 by the Japanese Government for the Japanese who fell in World War II” yang artinya “Peringatan yang didirikan oleh Pemerintah Jepang untuk orang-orang Jepang yang gugur dalam Perang Dunia II.

Menurut keterangan seorang warga Biak yang ditemui TIFAOnline di lokasi tersebut, beberapa waktu lalu ada sebuah monument lain berbentuk pilar batu granit juga ada monument tentara sekutu berupa perisai dengan gambar panah dan pedang, tapi saat ini monument dimaksud sudah hilang di di curi tangan – tangan jahil pengunjung.

Goa ketiga di foto dari atas, yang lokasinya dalam satu area situs Goa Jepang, pas sebelah kiri sebelum masuk bibir goa utama. (Foto : Amri/ TIFAOnline)

Berdasarkan pengamatan TIFAOnline dan juga penuturan Yusuf Rumaropen, sebenarnya ada 3 (tiga) buah goa di lokasi tersebut, selain goa utama yang sering di kunjungi orang, masih ada dua goa lagi di sisi kiri yang hingga kini tidak pernah di jamah manusia, meski ada beberapa anak tangga menuju ke salah satu goa dimaksud, tetapi kondisinya sangat tidak terurus dan tampaknya tidak pernah di lalui sekian lama.

Deretan anak tangga yang jumlahnya 180 mulai dari atas hingga ke lantai goa. (Foto : Amri/ TIFAOnline)

Memasuki goa utama, kita harus menuruni sekitar 180 anak tangga baik yang berpagar besi berwarna kuning maupun yang berpagar kayu yang sudah terlihat lapuk di makan usia.

Anak tangga yang ada di buat zig – zag dengan trap – trap pendek sehingga tidak terlalu membuat lelah pengunjung menitinya satu persatu, tapi cukup buat kita berkeringat apalagi bagi yang jarang berolahraga.

Mulut goa utama bagian atas di foto dari pagar tangga yang terbuat dari besi. (Foto : Amri/ TIFAOnline)

Saat TIFAOnline tiba di lokasi hari sudah tengah hari, akan tetapi cahaya mentari tidak maksimal menembus lebatnya rerimbunan dan tebalnya batu kapur sehingga anak tangga di bagian bawah yang mendekati lantai goa sedikit gelap dan licin karena tetesan air dari stalagtit – stalagtit yang menancap terbalik di langit – lagit goa yang kokoh, sehingga kita harus sedikit hati – hati, bahkan beberapa pengunjung terpaksa menyalakan senter di handphone mereka untuk menerangi anak tangga yang lembab dan basah.

Stalagtit – stalagtit terlihat kokoh menancap dalam di langit – langit goa memberikan kesan eksotis dan memancing kita untuk berhenti sejenak mengabadikan moment tersebut.

Mulai di bagian ini kita harus hati – hati, karena anak tangga dengan pagar kayu mulai terasa lembab dan licin. (Foto : Amri/ TIFAOnline)

Ada sedikit keraguan beberapa pengunjung untuk meneruskan langkah memasuki dalam goa yang terlihat gelap dan menyeramkan dari anak – anak tangga, sehingga beberapa pengunjung remaja yang ada di depan TIFAOnline terlihat saling mendorong sesama rekannya untuk masuk duluan.

Selain kontur goa yang memang memberikan kesan seram, ditambah bayangan bahwa di lokasi tersebut pernah ribuan nyawa terpanggang dan mati terkubur membuat beberapa pengunjung perempuan terlihat agak ketakutan untuk masuk pertama kali.

Tampak mulut goa yang terasa lembab dan gelap karena minim pencahayaan. (Foto : Amri/ TIFAOnline)

Memasuki lantai goa, kaki kita akan menjejak lantai tanah yang bercampur dengan bebatuan karang tajam yang tenggelam di dalam tanah dan genangan air sehingga sedikit licin, di salah satu sudut goa terlihat beberapa drum – drum karat yang terlihat lubang di beberapa bagian.

“itu drum – drum berisi BBM waktu itu tentara sekutu sengaja melemparkan puluhan bahkan ratusan drum – drum berisi BBM ke dalam goa dan kemudian menembakinya sehingga terjadi kebakaran dan memanggang hidup – hidup ribuan serdadu Dai Nippon yang bersembunyi di dalam goa tersebut.

Tampak bagian atas goa di sisi barat yang menganga lebar bekas bom dahsyat yang dilakukan pasukan Sekutu. (Foto : Amri/ TIFAOnline)

Memasuki bagian tengah goa dengan panjang sekitar 200 meter membujur dari arah timur ke barat, dimana sisi barat lebih luas ketimbang sisi timur yang arahnya menanjak dan agak terjal hingga mengecil.

Konon katanya sisi timur sebenarnya dulu adalah jalan menuju ke dua goa lainnya di kompleks yang sama dan menghubungkan lokasi tersebut ke lokasi pendaratan serdadu Dai Nippon di Pantai Paray di Mokmer.

Namun di duga karena terkena bom sehingga sisi timur tersebut tertimbun hingga kini, sedangkan sisi barat mengarah ke sebuah lubang besar yang menganga di atas kepala kita dengan diameter 100 meter.

“dulunya goa ini tertutup rapat, tetapi ketika itu pasukan sekutu menghujani serdadu Jepang dengan bom dan juga mungkin ledakan besar dari dalam goa sehingga menimbulkan bongkahan besar seperti itu”, kata Yusuf Rumaropen menuturkan ikhwal lubang menganga diatas kepala pengunjung setinggi 50 meter.

Di beberapa sudut goa masih terdapat tumpukan tanah dan batu karang dalam ukuran besar yang sudah di tumbuhi oleh tumbuhan hutan.

“itu reruntuhan dan longsoran setelah goa di bom, selama ini memang belum pernah dilakukan penggalian, bisa jadi di dalam gundukan tanah dan batu – batu besar tersebut ada sisa – sisa tengkorak dan barang peninggalan lainnya, karena selama ini kami bersihkan hanya yang berserakan di bagian atas saja, belum pernah melakukan penggalian lebih dalam”, kata Yusuf selaku pengelola situs Goa Jepang.

Salah seorang veteran tentara Sekutu, Letjend Robert L. Eichelberger dalam bukunya Jungle Road to Tokyo yang banyak di kutip oleh beberapa pihak disebutkan bagaimana tentara Sekutu menjadikan Goa Binsari yang adalah goa pertahanan terakhir Kolonel Kuzume Naoyuki dan pasukannya seperti neraka pembantaian, selain di hujani bom, granat, mintak dan PNT hingga 850 pond.

“Ketika kami memasuki goa-goa itu, aroma mayat terpanggang yang menyengat datang menyambut kami; rupanya peluru, granat, gasoline, dan TNT telah melakukan tugasnya dengan baik”, tulis Letnan Jenderal Robert L Eichelberger dalam bukunya Jungle Road to Tokyo yang banyak dijadikan rujukan.

Dengan menuruni sekitar 180 anak tangga, perkiraan TIFAOnline kedalaman goa dari atas permukaan sekitar 50 meter, bentuk gua sendiri memanjang dari barat ke timur sepanjang 200 meter dengan lebar bervariasi, di sisi timur yang lebih gelap dan sedikit lembab lebarnya sekitar 40 meter hingga mengecil sekitar 10 meter di ujungnya, sedangkan sisi barat justru makin meluas diperkirakan hingga 50 meter – 70 meter di ujungnya yang terkena bom.

Dari beberapoa literature yang berhasil di himpun TIFAOnline, gua alam Binsari ini selama di kuasai oleh serdadu Dai Nippon pimpinan Kolonel Kusume Naoyuki di gunakan sebagai tempat persembunyian serdadu, pusat logistic dan juga benteng pertahanan Jepang di Biak pada masa perang melawan Sekutu di tahun 1943 – 1945.

Dimana untuk membumi hanguskan serdadu Dai Nippon di Goa Binsari ketika itu ditugaskanlah Kolonel Harold Tiegelman, seorang perwira menengah dari pasukan Sekutu yang ahli dalam penggunaan bahan kimia untuk melakukan penyerbuan ke dalam goa.

Juga dilakukan dengan cara menuangkan drum – drum bensin secara besar-besaran ke dalam gua, lalu di lemparkan bom phosphor hingga bagian dalam goa terbakar, bahkan juga di turunkan mortir ke dalam gua dan juga di ledakkan TNT sebanyak 850 pond yang ditembakkan dengan roket serta bazooka.

Puas mengabadikan beberapa sudut goa dengan pencahayaan pas – pasan itu, TIFAOnline kembali naik ke atas meniti satu demi satu anak tangga yang ada sembari membayangkan bagaimana dahsyatnya pertempuran antara Jepang dan Sekutu ketika itu, karena meski telah di bantai, namun serdadu Dai Nippon pimpinan Kolonel Kusume Naoyuki tidak mau menyerah dan memilih hara-kiri setelah melakukan perlawanan terakhirnya dengan anak buah yang jumlahnya hanya ratusan.

Anak tangga menuju ke goa kedua yang kondisinya tidak terurus karena memang selama ini tidak di buka untuk umum. (Foto : Amri/ TIFAOnline)

Sesampai di atas, TIFAOnline mencoba menengok dua goa lainnya yang berada di sisi lain dari goa utama, ada sekitar 48 anak tangga dengan pagar terbuat dari kayu yang terlihat sangat rapuh, bahkan di beberapa bagian sudah patah, anak tangga yang di pijak juga sudah tidak terlihat dasarnya karena tertutup oleh daun – daun kering yang menumpak dan akar – akar kayu yang lintang pukang.

Di ujung anak tangga ada dua jalan setapak yang tampaknya tidak pernah di lalui orang, yang sisi barat mengarah ke sebuah mulut gua yang sedikit tertimbun dan penuh dengan semak belukar, tetapi masih bisa di jangkau hingga bibir goa.

Mulut goa kedua yang menuju ke Pantai Paray, Mokmer, tempat pendaratan serdadu Jepang ketika itu, dulunya ada jalan di goa tersebut namun semenjak di bombardir Sekutu, kabarnya tertutup hingga kini. (Foto : Amri/ TIFAOnline)

“kalau yang ini menuju ke Pantai Paray di Mokmer, tempat pendaratan serdadu Jepang dahulu, konon kabarnya goa ini tembus ke Goa Lima Kamar yang ada di dekat pantai sana, tapi karena sudah di bombardir waktu itu makanya kemungkinan di bagian tengahnya tertutup”, kata Yanus Dasim, seorang warga masyarakat yang berkenan menemani TIFAOnline mendekati bibir goa yang terlihat gelap.

Meski ada bekas – bekas anak tangga ke arah dalam goa, tapi kami tidak ada yang berani masuk.

Sedangkan goa yang ketiga di sisi timur terlihat mulut goa yang meganga besar, tetapi sama sekali tidak ada jalan setapak yang bisa di lalui untuk mendekati mulut goa yang katanya tembus ke goa utama tersebut.

Bila kita melihat dari atas, bagian tengah antara goa kedua dan ketiga adalah sebuah lubang menganga besar yang di duga adalah bekas bom yang dijatuhkan oleh pasukan sekutu sehingga goa tersebut terputus dan saat ini sudah penuh dengan rerimbunan pepohonan.

“ini dulu kan goa di dalamnya, dan terhubung, hanya ada satu ;pintu masuk saja dari yang kita lewati di pintu utama tadi, tapi karena kena bom makanya kondisinya begini, di duga banyak jenazah yang tertimbun di antara dua goa ini”, kata Yanus Dasim lagi yang mengaku sewaktu kecil ia sering bermain di lokasi tersebut.

Puas melihat tiga goa tersebut, TIFAOnline kembali ke Pos Informasi di bagian depan pintu masuk kawasan Goa Jepang yang di tunggui oleh sepasang suami istri Yusuf Rumaropen dan Mathelda Maryen dan beberapa orang anaknya sehari – hari.

Beberapa peninggalan alat kesehatan, perban, botol – botol obat yang didapatkan dari dalam goa di pajang di Museum Mini yang dikelola Yosef Rumaropen selaku pengelola situs Goa Jepang. (Foto : Amri/ TIFAOnline)

Beberapa barang peninggalan Jepang maupun Sekutu yang ditemukan keluarga ini di dalam Goa Jepang maupun di areal hutan sekitar goa terlihat di pajang rapi dalam beberapa etalase sederhana.

Mulai dari suntikan, pembalut, botol – botol obatan, koin – koin uang baik koin uang Jepang, USA maupun Australia terlihat di jejer rapi dalam etalase.

Beberapa perlengkapan makan, peralatan perang bahkan sampai seragam yang digunakan oleh tentara Jepang juga terlihat di pajang dalam sebuah lemari kaca.

“ada yang saya temukan berserakan di sekitar hutan sini, ada yang dalam goa sewaktu kami melakukan penggalian dan pembersihan, dan juga dalam peti – peti, termasuk seragam serdadu Jepang ini dalam peti kami temukan dulu”, kata Yusuf Rumaropen.

Beberapa barang peninggalan tentara Jepang maupun Sekutu, mulai dari uang koin, jam tangan, peneng dan bebatuan. (Foto : Amri/ TIFAOnline)

Menurutnya butuh waktu lama, bertahun – tahun untuk membersihkan puing – puing rongsokan dari dalam gua, termasuk juga membersihkan tulang – belulang dan kerangka para korban serdadu Jepang dari dalam goa.

“lama sekali ade, bertahun – tahun kami kerjakan pelan – pelan, sedikit – sedikit, sampai saya kecelakaan dan kaki cacat kayak sekarang ini baru saya berhenti, dan kondisi dalam goa bisa seperti sekarang ini, sehingga lebih aman di kunjungi”, kata Yusuf Rumaropen lagi. (***)

Tinggalkan Balasan