BUDAYA & PARIWISATAHEADLINE

Misteri Cincin Merah Delima di Rongsokan Pesawat Eks Sekutu Dalam Kawasan Goa Jepang Biak

34 tahun sudah, imbal jasa yang dijanjikan kepadanya tidak pernah diterima atas usaha dan kerelaannya menyerahkan benda cagar budaya yang ia temukan di salah satu situs peninggalan Perang Dunia II, sebuah cincin emas bertahtakan batu merah delima yang jadi buruan kolektor benda – benda bertuah, hanya selembar Piagam Penghargaan dari Danrem 173/PVB Biak Numfor di era itu yang sudah mulai usang jadi saksinya hingga kini

Misteri cincin merah delima di rongsokan pesawat eks sekutu dalam kawasan Goa Jepang Biak, tampak foto cincin merah delima yang diterima Yusuf Rumaropen sebelum di serahkan ke Danrem 173/PVB Biak Numfor dengan janji akan diberikan imbalan tapi sampai hari ini tidak ada. (Foto : Amri/ TIFAOnline)Misteri cincin merah delima di rongsokan pesawat eks sekutu dalam kawasan Goa Jepang Biak, tampak foto cincin merah delima yang diterima Yusuf Rumaropen sebelum di serahkan ke Danrem 173/PVB Biak Numfor dengan janji akan diberikan imbalan tapi sampai hari ini tidak ada. (Foto : Amri/ TIFAOnline)

Oleh : Walhamri Wahid

Tiga puluh empat tahun lalu, umurnya masih 24 tahun, namun ia sudah memiliki impian besar suatu saat bisa mengelola sebuah museum mini berisi benda – benda koleksi peninggalan tentara Sekutu dan Jepang yang banyak berserakan di Kampung Sumberker dan sekitarnya yang masih dalam satu areal dengan kawasan Goa Binsari atau yang lebih dikenal dengan nama Goa Jepang.

Waktunya banyak ia habiskan dengan menelusuri setiap jengkal tanah dengan menggali dan mencungkil berharap menemukan sebuah peninggalan tentara Sekutu dan Jepang yang bisa ia kumpulkan sebagai koleksi agar suatu saat bisa di pajang dan di pamerkan ke orang banyak sebagai saksi sejarah bagaimana kerasnya pertempuran antara Jepang dan Sekutu di Pulau Biak di tahun 1942-an lalu.

“waktu itu sekitar tahun 1985, saya masih muda, saya menemukan sebuah bangkai pesawat yang dalam posisi tertancap ke dalam tanah, jadi sebagian tubuh pesawat itu masuk dalam tanah, itu di daerah Mac Makerbo, itu dulunya memang daerah rawa, tanah lembek, waktu itu saya yakin pasti di dalam ada rangka manusia, karena kockpitnya tertanam”, kata Yusuf Rumaropen, pengelola Goa Jepang di Kampung Sumberker, Distrik Samofa, Kabupaten Biak Numfor, Papua, menuturkan kisahnya kepada TIFAOnline di depan museum mininya yang berlokasi di pintu masuk ke Goa Jepang, Selasa (1/1/2018).

Beberapa hari kemudian Yusuf Rumaropen mengajak beberapa orang rekannya untuk ikut menggali dengan peralatan seadanya, harapannya menemukan sesuatu yang berharga dan bisa menjadi salah satu benda koleksi museum mininya kelak.

“pada saat saya sibuk menggali,  agak dalam juga, tiba – tiba saya melihat semacan cahaya dari dalam tanah, berpendar warna pelangi, merah, kuning, bikin silau mata”, kata Yusuf mengenang peristiwa 34 tahun lalu itu.

Ia terus menggali kemudian menemukan sebuah cincin berbalut tanah lumpur, dalam keadaan kotor ia kantongi cincin tersebut dan terus menggali, hingga pulang ke rumah pada sore harinya barulah ia bersihkan.

“setelah saya bersihkan baru kelihatan bentuk aslinya sebuah cincin warna emas, terus ada hiasan batu warna merah maroon bercahaya, sebesar kelereng di mata cincin, di bagian dalam cincin ada tertulis Institute Polieknik Virginia, 1944, dan nama orang EW. Frankurt, jadi saya simpan cincin itu di tempat khusus”, kata Yusuf Rumaropen yang ketika itu tidak mengetahui bahwa cincin tersebut sangat berharga, apalagi mata cincinnya.

Penemuan mereka tentang sebuah pesawat tempur yang di duga milik Sekutu yang tertembak jatuh oleh Jepang ketika Perang Dunia II ramai menjadi pembicaraan orang banyak, bahkan sempat di liput oleh wartawan dan informasi itu tersebar luas ke beberapa media lainnya di luar negeri.

“jadi informasi menyebar cepat, sampai ke Kedutaan Amerika di Jakarta terus ke pihak keluarga pilot pesawat tersebut, sehingga ada perintah dari aparat setempat kami di larang lakukan penggalian terus, menanti ada tim dari Amerika yang akan datang untuk lakukan penggalian dan pengangkatan kerangka pilot pesawat tersebut sesuai permintaan keluarganya di Amerika”, kata Yusuf Rumaropen.

Selama proses menunggu tersebut, sesekali Yusuf memakai cincin tersebut di tangannya dan memamerkan ke beberapa orang, dan banyak yang meragukan bahwa itu cincin emas dari bangkai pesawat dimaksud.

“cincin dia agak longgar jadi sy ikat benang, baru pake, waktu itu saya iseng saja ke Pasar Lama Biak, ada toko emas satu, saya minta tolong tes apakah ini emas atau bukan, jadi dia garis cincin pake paku begitu, terus dia teteskan sebuah cairan, katanya kalau ini emas murni garisnya tidak akan hilang, tapi kalau ini bukan emas, garisnya pasti hilang, dan ternyata garis tidak hilang, jadi saya yakin emas”, kata Yusuf Rumaropen.

Rupanya si tukang emas tersebut penasaran dengan batu atau permata di mata cincin itu, beberapa saat pemilik toko emas mengambil empat gelas kaca lalu di isi air mineral dan di jejerkan di meja.

“kemudian dia pinjam saya pu’ cincin dan celupkan di gelas pertama, saya kaget, ada cahaya merah pendar tembus ke empat gelas lainnya, waktu itu saya lihat dia punya muka agak kaget, tapi dia berusaha tenang dan diam – diam saja, tidak kasih tahu saya kalau itu batu merah delima, hanya bilang bagus permata cincinnya ini, terus kembalikan cincin ke saya, dan sempat tanya nama serta alamat saya, dan saya jelaskan saya penjaga Goa Jepang”, kata Yusuf Rumaropen.

Dua hari kemudian si pemilik toko emas tiba di rumahnya di Kampung Sumberker, Distrik Samofa dengan seorang rekannya.

“jadi mereka mau lihat saya punya cincin lagi,  mereka bilang kalau saya mau kasih cincin tersebut ke mereka ikhlas, dia akan bangunkan saya rumah besar keramik luar dalam, full perabotan, pokonya lengkap, kebetulan memang waktu itu mereka ada lihat saya ada cicil – cicil pondasi rumah, tapi saya tolak

Dan pada waktu itulah Yusuf Rumaropen baru mengetahui bahwa batu merah yang jadi mata cincin temuannya adalah batu merah delima namanya.

Yusuf Rumaropen, memperlihatkan beberapa koleksi benda bersejarah hasil temuannya selama beberapa tahun ini di kawasan Goa Jepang, Biak, andai saja cincin merah delima yang ia temukan itu tidak di minta oleh Danrem 173/PVB, mungkin cincin itu ada menghiasi etalase museum mini yang ia dirikan di pintu masuk ke areal Goa Jepang. (Foto : Amri/ TIFAOnline)

“disitulah baru saya tahu bahwa yang berharga itu batunya, namanya merah delima, bukan cincinnya, katanya bertuah, banyak manfaatnya, saya tolak permintaan mereka waktu itu karena memang tujuan saya dari awal ambil ini untuk koleksi museum saya nanti, bukan untuk saya pake sendiri, perkaya diri atau tujuan lain, makanya saya tidak mau jual, dari situ saya jaga baik cincin itu”, kata Yusuf Rumaropen.

Selama kurang lebih 2 tahun menanti, akhirnya rombongan dari Pemerintah Amerika tiba di Biak untuk melakukan penggalian dan pengangkatan kerangka pilot pesawat yang ditemukan oleh Yusuf Rimaropen.

“kalau tidak salah itu tahun 1987, ada tim datang dari Amerika langsung, mereka gali dan ambil semua kerangka pilotnya yang masih utuh, ada upacara militer waktu itu, jadi penyerahan dari pemerintah Indonesia ke pemerintah Amerika di Markas Korem waktu itu, dan soal cincin baik keluarga, tim dari Amerika, dan pemerintah Indonesia tidak ada yang tahu”, kata Yusuf menuturkan.

Beberapa waktu kemudian, cerita tentang dirinya memiliki batu merah delima mulai tersebar dari mulut ke mulut, dan rupanya sampai juga ke beberapa intel Korem.

“sempat beberapa kali itu ada anggota Intel dari Korem datangi saya di rumah, mau lihat, awalnya bujuk  secara halus mau beli, bahkan ada yang sempat sedikit mengancam, karena saya bisa di tuduh mencuri barang cagar budaya, tapi semua saya tidak kasih, karena dari awal niat saya memang mau saya jadikan koleksi di museum mini saya, kalau saya tidak di tekan serahkan ke Danrem waktu itu, mungkin batu itu ada di sini sekarang dalam etalase kaca ini”, kata Yusuf Rumaropen menunjuk sebuah etalase kaca dekatnya.

Menurutnya setelah beberapa intel Korem mendatanginya ke rumah dan ia tidak mau menyerahkan, akhirnya ia di panggil menghadap Danrem 173/ PVB Biak Numfor langsung dan di minta untuk menyerahkan cincin di maksud.

“memang sempat ada tekanan buat saya, tapi saya bilang, saya akan serahkan kalau ke Pemerintah, dan menurut UU sebagai penemu benda cagar budaya, saya berhak dapat kompensasi, jadi saya akan serahkan kalau ke pemerintah dan saya minta kompensasi karena saya penemu, kalau memang saya tidak boleh memiliki benda ini karena termasuk benda cagar budaya dan di lindungi UU seperti kata mereka”, kata Yusuf Rumaropen lagi.

Namun ketika dirinya di panggil langsung menghadap Danrem, dan di minta menyerahkan karena pihak keluarga pilot Amerika melalui Kedutaannya menanyakan cincin dimakasud, saya mau tidak mau harus menyerahkan cincin tersebut.

Tampak Piagam Penghargaan dari Danrem 173/PVB Biak Numfor yang diterima oleh Yusuf Rumaropen atasa jasanya mau menyerahkan cincin merah delima hasil temuannya di eks reruntuhan pesawat tempur milik tentara Sekutu, sedangkan imbalan jasa sebagaimana di atur dalam UU Cagar Budaya yang di janjikan ketika itu, sudah memasuki 34 tahun tidak pernah kunjung diterima. (Foto : Repro. Amri/TIFAOnline)

“waktu itu Danrem nya Pak Nainggolan namanya, saya di suruh serahkan saja, dan duduk tunggu, biar nanti antara pemerintah Indonesia dan Pemerintah Amerika yang berurusan, dan pasti akan ada imbalan untuk saya, karena Danrem yang bicara, saya percaya dan saya serahkan cincin itu ke Danrem 173/PVB, tapi sampai hari ini saya tidak pernah terima imbalan apapun, hanya sempat di kasih Surat Piagam Penghargaan dari Danrem beberapa waktu kemudian”, kata Yusuf Rumaropen sambil tersenyum kecut.

Ia juga mengaku tidak pernah di beri tahu pihak manapun, apakah cincin merah delima tersebut sudah di serahkan ke Pemerintah Amerika atau keluarga pilot yang tewas tersebut.

“sampai detik ini saya juga tidak tahu, apakah benar cincin itu di serahkan ke keluarga pilot di Amerika ataukah tidak”, kata Yusuf Rumaropen penuh penyesalan, mestinya ketika itu dirinya menyerahkan kepada Pemda Biak dahulu, tidak langusng ke Danrem.

Menurutnya selain cincin merah delima yang ia dapatkan selama berburu benda – benda bersejarah untuk mengisi koleksi museum mininya, ia juga sempat menemukan beberapa benda berharga yang juga memiliki nilai jual tinggi, seperti samurai, peneng – peneng asli, dan sejumlah koin mata uang lam yang langka.

“sering sekali ada pengunjung yang datang ke sini mau membeli beberapa koleksi yang saya pajang, katanya sebagai benda kolektor, tapi saya tolak semua, karena memang dari dulu impian saya bisa punya dan mengelola museum mini kayak saat ini, walau sederhana tapi semua yang ada di sini nilainya sejarah”, katanya lagi.

Bahkan saat ini menurutnya bila masyarakat Biak ada yang menyimpan benda – benda bersejarah yang berasal dari Goa Jepang baik yang di dapatkan waktu jaman dahulu ataupun beli dari masyarakat, Yusuf Rumaropen bersedia membeli kembali dari masyarakat.

“seandainya pemerintah bergerak lebih dulu, banyak benda – benda bersejarah yang bisa kita selamatkan dari tangan – tangan jahil dari dulu, tapi semua sudah terlambat, untung selama beberapa tahun ini saya terus menggali dan mengumpulkan semua koleksi yang ada saat ini, masih ada lainnya yang belum sempat saya bersihkan dan masih tersimpan di gudang, karena untuk merawat koleksi ini juga buth tenaga, biaya dan waktu”, katanya lagi mengeluhkan bahwa selama ini tidak ada perhatian dari Pemerintah Biak Numfor maupun Provinsi untuk upayanya mengumpulkan, menjaga dan merawat benda – benda sejarah dimaksud.

Batu merah delima sendiri menurut beberapa orang yang percaya dengan benda – benda mistis dan memiliki kekuatan supranatural, merah delima diyakini memiliki banyak kesaktian.

Konon, barang siapa yang bisa memilikinya, maka ia bakal mendapatkan apa pun yang diinginkannya. Harta, wanita, kekebalan, semuanya seolah mudah ketika seseorang punya batu ini.

Bahkan, katanya lagi, batu merah delima juga membuat seseorang mampu mendapatkan kekuasaan yang luas. Nah, dengan khasiat-khasiat ini, sepertinya wajar kalau merah delima dipatok sangat mahal.

Saat ini di pasar gelap benda – benda antik dan benda – benda bertuah ada yang berani merogoh kocek mulai dari 5 Miliar – 50 Miliar untuk sebuah batu merah delima yanag asli setelah melalui serangkaian ritual dan percobaan untuk menguji keasliannya.

Di kalangan masyarakat khususnya para penggemar batu, yang bukan abal-abal, mereka sangat percaya jika batu merah delima memanglah bertuah. Sejak dulu batu ini selalu dikaitkan dengan banyak manfaat gaib seperti kebal senjata, bisa bikin usaha laris, bahkan bisa membuat si penggunanya menghilang.

Tak hanya itu, untuk fisik si pemiliknya sendiri batu ini juga memberikan manfaat. Barang siapa yang memakainya, maka seketika nampak sangat berwibawa, tampan, dan juga menjadi begitu menarik di mata wanita. Intinya, secara tidak langsung batu ini membuat pemiliknya memiliki kehidupan yang lebih baik.

Dan konon katanya salah satu cara untuk menguji keaslian sebuah batu merah delima adalah dengan mencelupkannya ke dalam segelas air, apabila seluruh air berubah warna jadi merah dan mampu menembus mewarnai beberapa gelas lainnya, biasa mulai dari 4 gelas hingga 10 gelas, maka semakin mahal dan bagus kualitas batu merah delima dimaksud.  (TIFAOnline)

Tinggalkan Balasan