HEADLINEKRIMINAL

Kadishut Provinsi Papua Tersangka, Diduga Peras Pengusaha Kayu Rp. 2,5 Miliar

Kadishut Provinsi Papua rersangka, diduga peras pengusaha kayu Rp. 2,5 miliar, tampak Jan Jap Ormuseray yang ditetapkan tersangka. (Foto : Andi Riri, Warta Plus)Kadishut Provinsi Papua rersangka, diduga peras pengusaha kayu Rp. 2,5 miliar, tampak Jan Jap Ormuseray yang ditetapkan tersangka. (Foto : Andi Riri, Warta Plus)

TIFAOnline, JAYAPURA— Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Papua, Jan Jap Ormuseray (JJO) akhirnya di tetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan pemerasan terhadap seorang pengusaha kayu berinisial P yang tersangkut dengan dugaan kasus illegal logging yang saat ini perkaranya tengah di tangani Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Dinas Kehutanan Provinsi Papua.

Sebagaimana release yang diterima TIFAOnline dari Humas Polda Papua Senin (7/1/2019) disebutkan JJO di tetapkan sebagai tersangka sejak Jumat (4/1/2018) kemarin setelah yang bersangkutan di lakukan pemanggilan pertama sebagai saksi, namun tidak pernah hadir memenuhi panggilan penyidik Polda Papua.

“Kadinas Kehutanan Provinsi Papua dipersangkakan melanggar Pasal 55 KUHP terkait menyuruh melakukan tindak pidana pemerasan, sudah di berikan surat panggilan, mestinya Senin (7/1/2018) kemarin hadir, karena tidak datang memenuhi panggilan, rencana Kamis, (10/1/2018) dilayangkan surat panggilan kedua sekaligus surat penjemputan”, kata Kabidhumas Polda Papua, Kombes (Pol) Ahmad Musthofa Kamal dalam release yang diterima TIFAOnline, Senin (7/1/2019).

JJO ditetapkan sebagai tersangka seteleh penyidik Dit Reskrimsus Polda Papua telah memiliki bukti permulaan yang cukup atas pemeriksaan terhadap para saksi maka status JJO ditingkatkan dari saksi menjadi tersangka tentang keterlibatan dalam perkara dengan tersangka FT yang ditangkap dalam Operasi Tangkap Tangan (OTT) beserta dengan uang tunai sebesar Rp. 500 juta pada Rabu, 7 November 2018.

Kasus ini mencuat dan menyeret nama Kadinas Kehutaan Provinsi Papua, Jan Jap Ormuseray (JJO) ketika Tim Satgas Saber Pungli Polda Papua berhasil melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT) terhadap dua orang pengusaha kayu berinisial P dan FT di kantor PT. Semarak Dharma Timber (SDT) yang beralamat Jl. Asrama Haji Kotaraja, Rabu, 7 November 2018 lalu seitar pukul 14.00 WIT.

Keduanya ketika itu di duga tengah melakukan transaksi suap untuk memuluskan perkara ilegal loging di Kabupaten Jayapura yang menjerat pengusaha P yang saat ini tengah ditangani oleh Penyidik PNS Dinas Kehutanan Provinsi Papua.

“Satgas Siber Pungli menyita 2 unit HP, uang tunai Rp 500 juta yang terdiri dari 300 lembar uang Rp 100 ribuan, dan 400 lembar uang Rp 50 ribuan”, kata Direskrimsus Polda Papua kepada awak media, Kamis (8/11/2018) lalu

Menurut Direskrimsus, dari pengakuan FT uang tunai tersebut merupakan uang panjar untuk menyelesaikan kasus ilegal loging yang menjerat P yang saat ini sedang ditangani oleh Penyidik PNS Dinas Kehutanan Provinsi Papua.

“Jadi uang ini adalah panjar dari total kesepakatan mereka sebesar Rp 2,5 Miliar untuk menyelesaikan kasus ilegal loging yang saat ini sedang ditangani,” kata Kombes (Pol) Edy Swasono awal November 2018 lalu.

Pengusaha FT mengaku dekat dengan Kadinas Kehutanan Provinsi Papua dan memberikan jaminan kepada P, tersangka ilegal loging yang juga adalah rekannya sendiri bahwa dapat menyelesaikan kasus tersebut lantaran dekat dengan orang dinas Kehutanan.

“jadi selama ini pengakuan P, dia yakin memberikan dana tersebut kepada FT lantaran FT mengaku bahwa dia adalah suruhan dari  Dinas Kehutanan,” kata Direskrimsus lagi ketika itu.

Terkait penetapan dirinya sebagai tersangka, Jan Jap Ormuseray ketika coba di konfirmasi TIFAOnline beberapa kali, Selasa (8/1/2019) dari pagi hari pukul 10.00 WIT hingga pukul 22.30 WIT dan hingga berita ini di muat, handphonenya tidak bisa di hubungi, pesan singkat maupun pesan WhatsApp yang di kirimkan TIFAOnline juga tidak di balas.

Terkait namanya di kait – kaitan dengan panjar uang suap Rp. 500 juta, sejak awal juga TIFAOnline sudah berusaha mengkonfirmasi kepada Kadinas Kehutanan Provinsi Papua, Yan Jap Ormuseray, Kamis (8/11/2018) sore beberapa kali melalui SMS, namun yang bersangkutan tidak membantah ataupun membenarkan hingga berita ini di naikkan, padahal pesan yang di kirimkan oleh TIFA Online sudah ada laporan terbaca.

Dari hasil pemeriksaan awal, juga terungkap bahwa awalnya FT meminta dana penyelesaian sebesar Rp 5 Miliar, namun setelah dilakukan negosiasi sehingga kesepakatan dana penyelesaiannya hanya Rp 2,5 miliar.

“Nah yang Rp. 500 juta yang di OTT kemarin itu baru pembayaran awal saja”, kata Direskrimsus lagi dalam jumpa pers usai OTT awal November 2018 lalu.

Menurutnya pasal yang dikenakan kepada keduanya adalah pasal 368 dan 372 KUHP dan  Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi terkait masalah suap yakni pasal 5 dan 11 UU Nomor 31 Tahun 1999 Jo UU Nomor 20 Tahun 2001 dengan ancaman maksimal hukuman 5 tahun dan seumur hidup.

Sedangkan pengusaha FT yang coba di konfirmasi oleh TIFA Online Selasa (8/1/2019) pukul 21.00 WIT nampaknya hanphonenya sudah lama tidak aktif, karena pesan konfirmasi yang di kirimkan TIFAOnline sejak awal OTT melalui WhatsApp Kamis (8/11/2018) belum juga terbaca hingga berita ini di naikkan. (walhamri wahid)

Tinggalkan Balasan