HEADLINEHUKUM & HAM

Ada Praktek Judi Berkedok Pasar Malam di Seberang Jalan Markas Brimob Kotaraja

Bagi warga kota yang haus hiburan, kehadiran Pasar Malam di tengah – tengah kota tentu menjadi pelepas dahaga, apalagi pengunjung tidak harus merogoh kocek dalam – dalam ketimbang harus membawa anak – anak mereka bermain ke Supermarket dan Mall. Tapi siapa sangka, Pasar Malam dan sejumlah permainan yang ada hanyalah sebuah kedok untuk menutupi praktek perjudian yang beromzet ratusan juta rupiah setiap malamnya

Ada praktek judi berkedok pasar malam di seberang jalan markas Brimob Kotaraja, tampak salah satu stand yang mempraktekkan judi berkedok permainan bola guling yang di padati pengunjung. (Foto : Amri/ TIFAOnline)Ada praktek judi berkedok pasar malam di seberang jalan markas Brimob Kotaraja, tampak salah satu stand yang mempraktekkan judi berkedok permainan bola guling yang di padati pengunjung. (Foto : Amri/ TIFAOnline)

Oleh    : Walhamri Wahid

Seorang mama – mama Papua paruh baya terlihat tercenung beberapa saat menatap dua lembar uang lima puluh ribuan, dua lembar sepuluh ribuan, dan tiga lembar uang seribuan yang terlihat kumal dalam dompetnya.

Sesaat ia menengok ke belakang, menatap wajah TIFAOnline yang berdiri pas di belakangnya dengan air muka yang sedikit panik.

“mama masih mau main kah ? kalau masih mau pasang cepat, kalau sudah tidak main, gantian, om di belakang itu mau main mungkin !”, kata perempuan yang berada di depannya yang terpisahkan oleh sebuah meja kayu dengan papan nomor 1 – 9  warna – warni.

“ahhh, ko kenapa, mama masih mau main toh, mama su’ kalah banyak ini, kasih kembali modal dulu”, kata mama Papua yang masih duduk di kursi kayu di depan TIFAOnline lalu mengambil satu lembar uang lima puluh ribuan dari dompetnya dan membeli kertas – kertas cover berwarna merah sebanyak 5 ikat, yang tiap ikatnya berisi 10 kertas seukuran kartu nama sebagai alat untuk memasang di nomor – nomor undian yang ada meja di depannya.

Mama Papua tersebut masih bisa bertahan sekitar 30 menit, hingga selembar uang lima puluh ribuan yang terakhir dari dompetnya juga di tukarkan ke kasir penjaga meja undian dan juga ludes, barulah ia berdiri dan mengemasi beberapa kantong plastik yang tergeletak di tanah dekat kakinya.

“adoouhhh, kenapa tadi mama dari pasar jualan tra’ langsung pulang e, mama pi’ mampir sini lagi, mama pu’ modal abis ini”, kata mama Papua tersebut dengan air muka sedih dan mengaku modalnya sebesar Rp. 700.000, untuk belanja sayur di Pasar Youtefa besok pagi dan menjual kembali di Pasar Tjigombong malam harinya sudah habis hanya dalam waktu 3 jam di meja judi bola guling yang di ikutinya tadi.

Di sudut lain terlihat seorang ibu muda Papua juga terlihat serius memasang kartu berwarna merah di tangannya pada nomor – nomor yang bertebaran di meja depannya, sedangkan di sisi kirinya seorang anak balita yang tiada henti menangis dan memanggil – manggil ‘Mama, Mama, mau pulang” sambil menarik bagian ujung bajunya, sama sekali tidak di hiraukan.

Sudah beberapa malam ini, pemandangan semacam itu akan kita temui bila menyambangi arena Pasar Malam yang berlokasi di sebuah tanah kosong di seberang jalan depan Markas Komando Brimob Polda Papua Kotaraja, atau pertigaan Jalan Raya Kotaraja menuju jalan ke Pasar Baru Youtefa.

Saat TIFAOnline menyambangi arena Pasar Malam tersebut Senin (14/1/2019) sekitar pukul 22.45 WIT, pengunjung masih sangat membludak, anak kecil, laki dan perempuan memadati beberapa sudut di arena Pasar Malam tersebut.

Sebuah komidi putar, beberapa arena bermain anak semisal mandi bola, dan permainan lainnya terlihat rame di kunjungi oleh ibu – ibu yang mengawasi anak mereka bermain, di beberapa sudut arena Pasar Malam tersebut terlihat beberapa stand yang pengunjungnya berdesak – desakan.

Ada empat stand besar arena bola guling yang terlihat di sesaki pengunjung Pasar Malam, laki – laki maupun perempuan yang mencoba mengadu peruntungan, bahkan beberapa remaja juga tidak mau ketinggalan, dan bisa dikatakan pengunjung Orang Asli Papua (OAP) cukup mendominasi meja bola guling tersebut.

Bagi orang awam, sekilas permainan bola guling tersebut hanya berhadiahkan beberapa bahan kebutuhan pokok yang di pajang di dinding bagian dalam tempat bandar memainkan bola gulingnya.

Terlihat Rinso, Syrup, Gula, Beras, Setrika, dan beberapa perabotan maupun kebutuhan sembako yang di pajang dengan tulisan jumlah poin yang bisa di tukarkan untuk mendapatkan hadiah dimaksud.

“ahh itu kedok saja yah om, tapi kalau om mau tukar dengan barang itu juga bisa, tapi kartu – kartu ini uang sudah, nanti kalau sudah selesai main, atau sudah mau tutup kita bisa uangkan, satu lembar ini nilainya Rp. 1.000”, kata seorang pemuda Papua yang masih mengenakan helm ojek yang sejak kedatangan TIFAOnline di arena Pasar Malam terlihat sudah 3 kali mencabut dompet dan membeli kartu – kartu pasangan senilai Rp. 2.000.000.

Dari pantauan TIFAOnline, Senin (14/1/2019) hingga pukul 24.00 WIT empat stand bola guling tetap di padati oleh pengunjung meskipun beberapa arena bermain di bagian belakang dari stand bola guling sudah tidak berjalan lagi.

“tergantung pengunjung, kalau sudah mulai sepi, dan tidak ada yang main, tutup juga, tapi ini tidak lama lagi sudah mau tutup sih”, celetuk seorang pemain bola guling yang terlihat sumringah karena beberapa kali pasangannya selalu menang dan mendapatkan bayaran 10 kali lipatnya.

Setiap 1 lembar kartu yang di pasang bila terpasang di angka yang tepat akan di bayarkan dengan 10 lembar kartu yang sama dan bisa di gunakan untuk memasang kembali.

Bagi orang awam yang sekedar have fun biasanya memasang lembar demi lembar pada nomor yang di tebaknya akan keluar, namun bagi para pemain judi terlihat pasangannya bisa hingga1 krat berisi 10 ikatan kartu yang terdiri dari 10 lembar kertas seukuran kartu nama atau 1.000 lembar yang bila di uangkan nominalnya sama dengan Rp. 1.000.000.

“saya kemarin kalah hampir Rp. 10 juta, makanya malam ini kayaknya uang lagi mau, siapa tahu modal bisa kembali”, celetuk seorang pemasang yang ditemui TIFAOnline di meja permainan bola guling.

Menurutnya dalam sehari 1 stand bola guling omzetnya mencapai ratusan juta, namun juga pernah ada kasus dimana Bandar atau pemilik stand bola guling bangkrut dan tidak bisa membayar semua kemenangan para pemasang saat penukaran.

Selain stand bola guling, di sudut lain terlihat beberapa arena ketangkasan lainnya semisal melempar gelang – gelang kecil ke beberapa nomor yang juga berhadiah barang – barang elektronik maupun kebutuhan sembako.

Sedangkan di sisi luar arena Pasar Malam terlihat beberapa warung – warung makan dan camilan yang juga di padati pengunjung.

“katanya sih Boss sewa tempat ini Rp. 3 juta selama sebulan ini, kalau yang kecil – kecil kayak gerobak bakso dan arum manis itu Rp 1 juta katanya sebulan, biasa sih, Pasar Malam begini ini izinnya sebulan”, kata seorang perempuan paruh baya penjaga warung kepada TIFAOnline yang menyaru sebagai pedagang nasi kuning dan ingin menyewa tempat di arena Pasar Malam tersebut.

Sedikit banyak keberadaan Pasar Malam tersebut memberikan income bagi para pedagang kecil, bahkan beberapa pemuda Papua yang kebagian mengurusi arena parkir motor di sebuah tanah lapang di sisi lain dari arena Pasar Malam juga kecipratan, karena biaya parkir yang mereka kenakan untuk 1 unit motor sebesar Rp, 5.000.

Bagi warga Kota Jayapura yang haus hiburan, keberadaan arena Pasar Malam di tengah – tengah kota dan permukiman seperti itu ibarat pelepas dahaga setelah kepenatan rutinitas sehari – hari, apalagi biaya untuk menikmati sejumlah permainan di arena Pasar Malam tersebut relative leih murah ketimbang harus bermandi bola di supermarket atau mall yang ada di Kota Jayapura.

Namun siapa sangka, di balik kemasan Pasar Malam berupa hiburan rakyat dan anak – anak yang murah meriah, tersembunyi praktek perjudian terselubung yang beromzet ratusan juta setiap malamnya, dan patut di duga ada sejumlah oknum aparat yang menjadi “backing” dari praktek terselubung tersebut sehingga bisa mendapatkan izin keramaian.

“setahu kami ada izinnya kok dari kepolisian, tra’ mungkin mereka berani buka kalau tidak ada izinnya, karena rombongan Pasar Mala mini sudah pindah – pindah tempat selama ini di Kota Jayapura saja ini sudah berapa kali pindah lokasi, mulai dari di batas kota, kemudian di Kali Acai, jadi mereka sudah keliling, jadi pasti ada izinnya lah”, celetuk seorang pengunjung di sebuah warung dalam areal Pasar Malam yang mengaku kalah banyak malam itu dan mampir makan dahulu sebelum pulang.

Kalaupun benar adanya praktek perjudian berkedok Pasar Malam tersebut mendapatkan izin keramaian dari otoritas yang berwenang di Kota Jayapura ini, dipastkan mereka tidak mengakui terang – terangan ada praktek perjudian beromzet ratusan judi, tetapi hanya sekedar permainan ketangkasan berhadiah.

Sangat disayangkan, bila praktek perjudian berkedok Pasar Malam tersebut di biarkan berlangsung hingga sebulan ke depan, apalagi lokasinya tidak jauh dari Mako Brimob dan hanya beberapa meter dari kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Jayapura, jangan tambah banyak mama – mama Papua dan para pemuda Papua yang hanya tukang ojek jadi korbannya. (walhamri wahid)

Tinggalkan Balasan