EKBIS LOKALHEADLINE

Sagu Kering Papua Nahindah Wari, Ide Kreatifnya Membuat Umur Konsumsi Sagu Jadi Lebih Lama

Ide awalnya bermula saat menjual sagu basah di Pasar Youtefa Abepura sering ditanyai pelanggan yang hendak bepergian keluar Papua, namun kesulitan karena bobot sagu basah yang lumayan berat, bermodal coba – coba, kini ingin serius mengembangkan sagu agar bisa jadi menu tetap di semua keluarga yang ada di Papua. Hingga akhirnya berdirilah PIRT. Nahindah Wary, home industry pertama yang produksi sagu kering di Papua

Sagu kering Papua Nahindah Wari, ide kreatifnya membuat umur konsumsi sagu jadi lebih lama, tampak Ondoafi Gustaf Rudolf Toto dan anaknya Magdalena Toto ketika memperlihatkan produknya dan peralatan sederhana yang digunakan beproduksi selama ini. (Foto : Amri/ TIFAOnline)Sagu kering Papua Nahindah Wari, ide kreatifnya membuat umur konsumsi sagu jadi lebih lama, tampak Ondoafi Gustaf Rudolf Toto dan anaknya Magdalena Toto ketika memperlihatkan produknya dan peralatan sederhana yang digunakan beproduksi selama ini. (Foto : Amri/ TIFAOnline)

Oleh    : Walhamri Wahid

Rumah pangung di atas laut di pesisir Kampung Nelayan Hamadi, Kota Jayapura, Papua itu terlihat bersih dan apik.

Di depan teras ala kadarnya terlihat sebuah meja panjang dengan tmpukan sagu kering dalam kemasan plastik 1 Kg.

“ini hasil produksi sebulan lalu, biasa ada yang datang kemari untuk beli langsung, biasa juga kalau ada pesanan baru kami antar, kami produksi lagi kalau produksi yang ini sudah habis, karena saat ini belum berani produksi banyak karena belum mampu terserap pasar semuanya”, kata Magdalena Toto, anak dari Ondoafi Gustaf Rudolf Toto yang menjadi penanggung jawab P.IRT Nahindah Wari, home industry yang memproduksi sagu kering Papua dengan brand Nahindah Wari ketika menerima kunjungan wartawan TIFAOnline di kediamannya yang sejuk.

“Nahindah Wary itu maknanya sagu kita punya hidup, artinya bagi kami orang Papua sagu adalah sumber kehidupan kami, jadi bukan sekedar bahan konsumsi semata, tapi bermakna lebih dalam dan luas bagi kami orang Papua”, kata Gustaf Rudolf Toto saat bincang – bincang dengan TIFAOnline, Sabtu (19/1/2019) di temani putrinya Magdalena Toto.

Untuk itu ia sangat mendukung usaha yang tengah di rintis oleh anaknya walau terseok – seok, karena baginya apa yang di lakukan oleh putrinya adalah bentuk nyata bagaimana menjadikan sagu sebagai kehidupan, di tengah arus mondernitas yang mulai menyingkirkan sagu dari keseharian hidup orang Papua.

“saya tra pernah ikut pelatihan, saya juga tra tahu apa itu tepung sagu, tepung tapioca dan lainnya, ide awalnya ini karena saya dulu biasa jualan sagu basah di pasar Youtefa, sering orang dari luar Papua itu mau beli dan bawa untuk oleh – oleh tapi mereka bilang terlalu berat, dan sering ada yang tanya tidak ada sagu yang kering kah, makanya saya coba – coba jemur dan buat seperti yang ada saat ini, rupanya ada yang minat, sampai sekarang ini”, kata Magdalena Toto sambil tersenyum.

Awal produksi sekitar bulan Juni 2018, dan ia pasarkan pertama kali di lokasi Festival Danau Sentani.

“saya tidak tahu apa itu tepung sagu, makanya saya sebut ini papeda sagu kering, jadi memang bagaimana bisa di bawa jalan jauh dan tahan lama, tapi tetap masih bisa di olah jadi papeda seperti pake sagu basah”, katanya lagi sumringah.

sagu kering Nahindah Wary kemasan 1 Kg. (Foto : Amri/ TIFAOnline)

Proses pengolahan sagu kering ala Magdalena Toto juga menggunakan peralatan sederhana, belum ada sentuhan teknologi sama sekali.

“semuanya pake peralatan di rumah yang ada saja, pake loyang, ayakan santan, sama ada yang kita buat sendiri pake kayu biar agak lebar dan bisa lebih cepat ayaknya, semua masih alami”, kata Magdalena Toto.

Untuk saat ini untuk produksi ia masih memilih membeli sagu dari pasar, ketimbang mengolah dusun sagunya sendiri.

Biasa per tumang sagu atau 1 sak terigu ia beli dari pasar seharga Rp. 200.000 – Rp. 350.000, dan bila di olah bisa jadi 25 Kg sagu kering, yang ia banderol dengan harga Rp. 25.000 / Kg kalau pembelian borongan dan eceran per Kg Rp. 30.000.

“saya belum pernah timbang satu tumang itu beratnya berapa, tapi jadinya itu bisa 25 Kg kalau sagu kering, untuk tahan lama sejauh ini sagu kering itu lebih tahan lama dibanding dengan sagu basah, tapi saya belum pernah lakukan uji berapa lama bisa bertahan”, katanya lagi.

Selama ini setiap sekali produksi ia bisa menghasilkan 200 bungkus – 500 bungkus sagu kering, yang terjual bisa 1 bulan – 3 bulan baru habis terjual.

“saya ingin produksi setiap hari, tapi kan sampai saat ini belum ada yang siap tampung setiap produksi kami, jadi masih musiman, tergantung orderan, atau setelah produksi habis barulah kami buat baru lagi”, kata Magdalena.

Untuk pemasaran saat ini ia sudah berani menitip jualakn (konsinyasi) sagu kering Nahindah wari ke beberapa toko besar dan bersaing dengan beberapa tepung lainnya buatan pabrik dari luar Jawa.

“ada beberapa toko, di Saga Abe juga ada titip, di Toko Cahaya 45, juga ada di kantin di Bandara Sentani, dan biasa ada orderan dari Wamena juga yang kami layani, tapi jumlahnya maish terbatas”, katanya lagi.

Untuk menjaga kualitas sagu kering hasil produksinya, sagu – sagu yang di beli dari pasar, selalu di lakukan proses pencucian dan pembersihan ulang oleh Magdalena Toto yang saat memproduksi di bantu juga oleh ipar dan sodara – sodara lainnya.

“jadi sagu yang di beli dari pasar itu kadang ada kotor sedikit, makanya kami cuci ulang, ada penanganan khusus sedikit yang jadi rahasia keluarga, agar sagu bisa awet dan bersih, setelah itu di peram dulu semalaman sebelum di jemur, dan setelah kering kami lakukan penyaringan sampai 3 tahap barulah di kemas”, jelas Magdalena Toto.

Sagu kering Nahindah Wari yang di produksinya sudah pernah ia uji cobakan ke Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Papua dan sudah ada hasil uji labnya.

“kalau merujuk ke standar tepung sagu, memang masih ada beberapa kekurangan misalnya kadar airnya masih cukup tinggi, yakni 14%, sedangkan sesuai standar maksimal 13 %, juga ukuran ayakannya juga masih harus lebih halus lagi, makanya untuk produksi selanjutnya akan kita benahi”, katanya lagi.

Dari pengamatan TIFAOnline beberapa pembenahan yang perlu di lakukan untuk lebih memperbaiki produk sagu kering Nahindah wari buatam Magdalena Toto ini adalah di aspek packaging (kemasan-Red), control quality, jaringan distribusi dan pemasaran.

“itu sudah, untuk kemasan ini kami masih pake print kertas HVS biasa saja, terus kami lakban pake plastic bening di bagian luar plastic kemasan, untuk mengurangi kadar air juga memang kami butuh mesin pengering, supaya ada keseragaman standar”, kata Magdalena curhat beberapa kendala yang masih menghambat kemajuan usahanya.

Ia mengaku hingga saat ini belum ada satupun perhatian ataupun bantuan yang ia terima dari Pemerintah, namun hal itu tidak membuatnya patah semangat dan tetap berproduksi walau harus berjalan terseok – seok dengan kondisi yang serba kekurangan.

“kami sangat berharap adanya pendampingan agar bisa kami benahi apa – apa yang kurang dan bisa berproduksi secara massal dan rutin”, kata Magdalena lagi.

Bincang – bincang wartawan TIFAOnline hari itu akhirnya di tutup dengan acara ‘putar papeda” menggunakan sagu kering Nahindah Wari buatan Magdalena Toto, tidak butuh waktu lama akhirnya terhidang papeda plus dengan kuah kuning ikan ekor kuning di meja dan menjadi santapan kami bersama.

Ondoafi Gustaf Rudolf Toto bersama wartawan TIFAOnline menikmati “putar papeda” dari sagu kering sambil menikmati sepoinya angin di Kampung Nelayan Hamadi. (Foto Amri /TIFAOnline)

Melihat bagaimana proses pengolahan papeda dengan sagu kering yang simpel, saya jadi ingat pengalaman pribadi ketika harus keluar Papua dan kepengen makan papeda, karena tidak ada yang jual akhirnya putar papeda menggunakan tepung kanji, tapi dengan adanya sagu kering Nahinda Wari ini, bila bepergian keluar Papua dan ingin makan papeda asli Papua, tidak perlu putar kanji lagi, cukup kita bawa sagu kering Nahindah Wari beberapa bungkusa saja. (Selesai)

Tinggalkan Balasan