EKBIS LOKALHEADLINE

Sponsored Sambut PON XX, Perindagkop Keerom Genjot Home Industry Hasilkan Oleh – Oleh Khas Keerom

Drs. Marthen Simbong, Kadinas Perindagkop Keerom, (Foto : Amri/ TIFAOnline)

TIFAOnline, KEEROM—Menyambut pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional (PON) XX tahun 2020 dimana Papua menjadi tuan rumah, sudah pasti akan banyak tamu – tamu dari luar Papua yang datang, dan kondisi tersebut adalah salah satu peluang pasar yang harus bisa di tangkap oleh masyarakat Papua, termasuk yang berdomisili di Kabupaten Keerom, Provinsi Papua.

Menyikapi hal tersebut, Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi (Perindagkop) Kabupaten Keerom, Drs. Marthen Simbong mengatakan bahwa pihaknya telah menginventarisir sejumlah potensi industry olahan skala rumahan di beberapa distrik yang bisa menjadi salah satu oleh – oleh khas Papua, khususnya dari Kabupaten Keerom pada hajatan PON XX mendatang.

“sejak tahun kemarin, di 2018 kita sudah dorong pengembangan home industry dengan membangun 3 unit rumah produksi, yang pertama di Kampung Bate untuk pengembangan batik khas Keerom, terus di Kampung Jaifuri Distrik Skamto ada home insutri selai pisang, dan satu rumah produksi lagi di Kampung Wasley Distrik Senggi”, kata Drs. Marthen Simbong, Kadinas Perindagkop Keerom saat di temui TIFAOnline di ruang kerjanya di Arso II Keerom, Kamis (24/1/2019).

Ia berharap di tahun 2019 rumah – rumah produksi tersebut sudah bisa berproduksi optimal dan berkelanjutan sehingga produk yang di hasilkan juga sudah bisa di pasarkan secara bebas minimal di pasar local Keerom dan Kota Jayapura dahulu.

Lebih lanjut untuk pengrajin batik khas Keerom di Bate saat ini sudah berproduksi, demikian juga dengan pisang selai di Kampung Jaifuri Distrik Skamto, hanya untuk yang di Distrik Senggi masih tahap pelatihan warga dan pendampingan untuk mengembangkan industry sesuai potensi di sana.

“saya belum terima laporan lengkap dari Kabid soal industry apa yang akan di kembangkan di Senggi, karena masih ada tahap pelatihan dulu nantinya, karena adanya permintaan dari warga Kampung Wosley makanya kami bangunkan rumah produksi, jadi ini satu paket mulai dari rumah produksi, peralatan produksi dan pelatihannya”, kata Marthen Simbong lagi.

Menurutnya selain rumah produksi, Perindagkop Keerom di tahun 2018 juga telah memberikan dukungan kepada beberapa industry pengolahan lainnya yang di kelola secara swadaya oleh warga masyarakat.

“untuk di Workwana itu kita ada memberikan dukungan untuk pengolahan sagu dengan memberikan bantuan peralatan pengolahan, dan hasilnya sagu – sagu dari Workwana itu sudah di pasarkan sampai ke PNG loh, katanya ada pelanggan tetapnya yang sering ambil, selain di Workwana untuk sagu ini di tahun 2019 akan kita kembangkan di Arso Timur dan Arso Barat karena potensinya juga melimpah”, kata Kadinas Perindagkop Keerom.

Selain sagu di Arso XIV juga selama ini Perindagkop Kabupaten Keerom mendorong pengembangan produk olahan buah naga menjadi beberapa makanan olahan seperti dodol, ice cream, selei bahkan juice buah naga dalam bentuk serbuk di sachet juga tengah di jajaki.

“di Arso XIV itu ada industry rumahan yang di kelola  pak Sobikhan, karena pengamatan kami ketika itu bila buah naga panen bersamaan itu harga agak turun karena buah naga banyak, sehingga kadang petani patah semangat, makanya kami arahkan untuk diversifikasi produk, dengan di olah jadi beberapa produk bisa punya nilai tambah dan harganya juga bisa lebih tinggi”, kata Marthen Simbong.

Hanya saja memang pihaknya maupun si pengelola belum berani terlalu lempar ke pasar karena merasa produk yang di hasilkan belum memenuhi beberapa persyaratan sebagai makana konsumsi yang layak edar.

Menurutnya beberapa produk – produk yang sudah di hasilkan oleh beberapa home industry di Kabupaten Keerom juga sudah pernah di bawa dan ikut pameran Dekranasda di luar Papua dan mendapat respon positif dari pengunjung pameran Dekranasda ketika itu.

Di Kampung Kun, Distrik Waris juga ada potensi pengembangan coklat bubuk dari buah kakao yang juga sudah pernah di pamerkan di Dekranasda.

“kalau di Kampung Kun di Waris mereka juga sudah kembangkan pengolahan coklat bubuk, sempat kita bawa ke Dekranasda, tapi memang belum siap untuk di lempar ke pasar karena belum di bawa ke Balai POM dan sejumlah syarat produksi lainnya”, kata Kadinas Perindagkop Keerom lagi. (walhamri wahid)

Tinggalkan Balasan