HEADLINEHUKUM & HAM

Jemput Paksa Tersangka UU ITE, Oknum Penyidik Polda Papua Diduga Lakukan Penganiayaan

Jemput paksa tersangka UU ITE, oknum penyidik Polda Papua diduga lakukan penganiayaan, tampak korban penganiayaan yang juga tersangka tindak pidana UU ITE, Panji Agung Mangkunegoro di dampingi istri dan kuasa hukumnya, Yuliyanto, SH, MH saat memberikan keterangan pers. (Foto : ist/ TIFAOnline)Jemput paksa tersangka UU ITE, oknum penyidik Polda Papua diduga lakukan penganiayaan, tampak korban penganiayaan yang juga tersangka tindak pidana UU ITE, Panji Agung Mangkunegoro di dampingi istri dan kuasa hukumnya, Yuliyanto, SH, MH saat memberikan keterangan pers. (Foto : ist/ TIFAOnline)

TIFAOnline, JAYAPURA— Seorang oknum penyidik Direskrimsus Polda Papua berinisial Iptu SS di duga telah melakukan penganiayaan terhadap seorang tersangka tindak pidana Undang – Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) atas nama Panji Agung Mangkunegoro yang berdomisili di Perumnas III, Waena, Kota Jayapura, Papua, pada Jumat (25/1/2019) dini hari, ketika melakukan upaya paksa karena berkas yang bersangkutan sudah tahap II dan hendak di serahkan ke Kejaksaan.

“saya dan keluarga saya tidak di berikan Surat Penangkapan atau surat upaya paksa dimaksud, istri saya hanya di suruh baca cepat – cepat, dan langsung di ambil kembali suratnya waktu malam kejadian, itupun di lakukan setelah saya di aniaya di depan anak – anak dan keluarga saya, bahkan di depan tetangga kanan kiri, jadi saya dipermalukan seperti saya ini penjahat, pencuri atau pemerkosa kah”, kata Panji Agung saat di konfirmasi TIFAOnline, Jumat (25/1/2019), mengaku tengah melakukan visum et repertum di salah satu rumah sakit di Kota Jayapura.

Ia menuturkan bahwa Jumat (25/1/2019) sekitar pukul 12.00 WIT lewat dirinya di sms bahwa ada dua mobil dari Direskrimsus Polda Papua datang ke rumah dan mencari dirinya sambil marah – marah dan membentak istrinya dan anak – anak , sehingga istri dan anaknya menangis.

“tadi malam itu saya lagi ada rapat di salah satu rumah teman yang jaraknya satu rumah saja dari rumah saya, saya di SMS, memang saya sempat bilang sabar e sedikit lagi sudah mau selesai, tapi saya dengar kok anak dan istri saya menangis, makanya saya keluar dan pulang, dan saya sempat mempertanyakan perlakuan petugas polisi yang datang dan memperlakukan istri dan anak – anak saya sampai menangis”, kata Panji Agung.

Namun alih – alih menjelaskan maksud dan tujuannya datang ke rumahnya dini hari, penyidik berinisial Iptu SS dimaksud langsung melakukan kekerasan terhadap dirinya bahkan sampai tersungkur dan jadi bahan tontonan warga sekitar yang terbangun karena dengar ada keributan.

“kami memang sempat baku dorong, karena saya tidak terima istri dan anak saya di bentak – bentak sampai menangis, di intimidasi, Iptu SS marah dan sempat cekek, dorong, pukul, dan tendang saya, pake tangan maupun senjata, sambil memaksa saya untuk ikut naik ke mobil menuju ke Polda Papua, padahal kalau mereka datang dan sampaikan maksud dan tujuannya saya pasti akan ikut baik – baik kok, karena saya juga paham aturan”, kata Panji Agung Mangkunegoro yang mengaku sejak di jemput di rumahnya sampai ia di serahkan ke jaksa tidak pernah melihat atau menerima surat perintah dari Iptu SS untuk  melakukan upaya paksa atas dirinya.

Sesampainya di Mapolda Papua, sekitar pukul 02.00 WIT, Panji mengaku tangannya di borgol ke belakang dan di ikatkan ke kursi, sehingga setiap ia bergerak maka tangannya tertarik dan terasa sakit meningalkan bekas memar, sehingga ia tidak bisa tidur semalaman, mulai dari jam 02.00 WIT sampai jam 08.00 WIT.

“tapi sebeumnya saya juga di hujani pukulan sampai di Mapolda itu, saya di pukuli pake pentungan, di jedotkan ke dinding”, kata Panji Agung mangkunegoro dengan mata berkaca – kaca saat melakukan jumpa pers di salah satu hotel di Kota Jayapura di damping kuasa hukumnya, Yuliyanto, SH, MH, Jumat (25/1/019) sore.

Sekitar jam 08.00 WIT ada salah seorang penyidik lainnya yang iba dan kasihan melihat kondisinya, sehingga melepas borgolnya sehingga ia merasa lega dan bisa beraktifitas, bahkan menurut Panji ada salah seorang polisi OAP yang kasihan dan memberinya rokok dan memperlakukannya secara manusiawi.

“saya doakan polisi mereka dua itu selalu di lindungi TYME, mereka memahami bahwa polisi itu adalah pelindung, pengayom masyarakat, tapi ketika Iptu SS datang dan melihat saya dalam kondisi tidak terborgol, dia marah dan hantam saya lagi di kepala, di tempeleng dan mengeluarkan kata – kata yang merendahkan saya, bahkan dia sempat marah ke rekan polisi lainnya yang bebaskan saya”, kata Panji Agung tidak dapat menahan air matanya lagi dan menangis terisak di hadapan awak media.

Panji mengaku saat beberapa saat di lepaskan borgolnya oleh dua orang anggota polisi yang baik itu, dirinya sempat SMS istrinya untuk segera melaporkan ke kuasa hukumnya, agar bisa di damping dalam proses pelimpahan ke Kejaksaan.

“saya sempat curi – curi memang hubungi istri saya waktu di lepas borgol dan di kasih rokok, hape saya yang satu sudah di sita Iptu SS, sedangkan yang satu saya masih ada simpan, jadi yang bikin dia marah dan kalap  juga itu karena dia tahu saya hubungi keluarga, karena sebelumnya memang saya di larang, makanya hape di sita”, kata Panji Agung terbata – bata kepada sejumlah awak media.

Menurutnya Iptu SS memang sempat memaksa dirinya untuk ikut maunya, penyerahan ke Kejaksaan, tapi Panji Agung mengaku dirinya menolak sampai di dampingi kuasa hukum.

Setelah kuasa hukumnya Yuliyanto, SH,  MH tiba di Mapolda barulah intimidasi, cacian dan perlakuan yang tidak manusiawi atas dirinya berhenti di lakukan oleh Iptu SS.

“hari ini saya menangis, saya rasa di dzolimi, saya paham polisi punya hak untuk lakukan penangkapan, atau upaya paksa, karena ada surat penahanan, tapi saya merasa di perlakukan berlebihan karena saya diperlakukan seperti criminal, di hadapan kedua anak saya dan istri serta tetangga kanan kiri, saya malu, istri saya nangis, anak saya nangis, saya tidak tahu Iptu SS ada dendam apa sama saya, karena dari semua polisi yang ada saat itu hanya dia saja yang sentuh saya, yang lainnya tidak, bahkan mereka iba dan kasihan sama saya, apalagi dua polisi yang bebaskan borgol saya dan kasih saya rokok, saya tidak bisa lupa mereka dua, bahwa mereka dua itu symbol polisi yang baik, pelindung, pengayom masyarakat”, kata Panji Agung Mangkunegoro yang kesehariannya dikenal sebagai aktivis tersebut.

Sebelumnya, Direktur Reskrimsus Polda Papua,  Kombes (Pol) Edy Swasono kepada sejumlah awak media menyampaikan bahwa jajarannya telah melakukan upaya paksa untuk menangkap tersangka kasus dugaan tindak pidana UU ITE atas nama Panji Agung Mangkunegoro, Jumat (25/1/2019) dini hari, dimana menurut Direskrimsus menjemput paksa tersangka di rumahnya di Perumnas III Waena, Kota Jayapura, Papua.

Penjemputan paksa di lakukan lantaran yang bersangkutan tidak mengindahkan surat panggilan Polda Papua terkait kasus postingan Facebook yag menjeratnya Maret 2018 lalu.

“yang bersankutan tidak pernah kooperatif jadi kita jemput paksa, kata Direskrimsus Polda Papua kepada sejumlah awak media, Jumat (25/1/2019).

Menurutnya kasus UU ITE yang menjerat Panji Agung mangkunegoro ini sudah masuk dalam tahap II penyerahan tersangka dan barang bukti ke Kejaksaan, dan tersnagka diwajibkan hadir, mirisnya saat hendak dilakukan pemeriksaan administrasi dia sempat berulah dan coba melarikan diri.

Dengan kasus itu Panji Agung terjerat tindak pidana UU ITE pasal 45 ayat 3 jo pasal 27 ayat 3 UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang ITE dengan maksimal hukuman 5 tahun penjara, karena dia di duga menyebarluaskan ujaran kebencian melalui akun Facebook pribadinya pada 19 Maret 2018 lalu.

Terkait pengakuan Panji Agung Mangkunegoro yang di aniaya oleh Iptu SS saat upaya paksa tersebut, Kabidhumas Polda Papua, Kombes (Pol) Ahmad Musthofa Kamal yang di hubungi TIFAOnline, Jumat 925/1/2019) malam belum memberikan tanggapan hingga berita ini di publish, pesan WhatsApp yang di kirimkan TIFAOnline masih centang dua.

Kuasa hukum Panji Agung Mangkunegoro, Yuliyanto, SH, MH saat jumpa pers bersama kliennya menyayangkan insiden penganiayaan yang dilakukan oleh oknum penyidik Mapolda Papua tersebut.

“kami sangat sayangkan tindakan penganiayaan yang dilakukan aparat saat proses penangkapan, yang seharusnya sudah tidak boleh lagi terjadi cara kerja kepolisian seperti ini, kami harap Pak  Kapolda tegas untuk memeriksa oknum aparat dimaksud, kami harap Provost untuk menegakkan aturan, periksa oknum Iptu SS terseut, agar ke depan tidak muncul lagi Panji – Panji lainnya yang diperlakukan tidak manusiawi seperti itu”, kata Yuliyanto, SH, MH.

Menurutnya apabila hasil visum dan kliennya mengalami kondisi trauma yang berkelanjutan akibat tindak kekerasan yang di lakukan oleh oknum penyidik dimaksud, maka pihaknya akan memproses hukum lebih lanjut kasus dimaksud.

Terkait delik yang di sangkakan ke kliennya, menurut Yuliyanto, SH, MH sebenarnya tidak harus sampai bergulir sampai ke persidangan dan mestinya bisa di selesaikan dalam mediasi kedua belah pihak, dimana kepolisian bisa jadi mediatornya.

“maklumlah seorang Panji, anak muda, aktivis, menggebu – gebu, dan postingan tersebut dalam situasi tahun politik, dan dia sebagai Timses salah satu kandidat, jadi kalau saya lihat postingan itu lebih kepada counter attack serangan timses lainnya terhadap kandidat yang di dukung oleh Panji, kalau melihat contentnya justru kami  sudah kumpulkan postingan dari pendukung kubu sebelah lebih sadis lagi dan memenuhi unsur pidana, tapi tidak di laporkan oleh kandidat yang di dukung Panji, malah postingan klien kami yang coba mengungkap salah satu startegi politik lawan kok di perkarakan”, kata Yuliyanto kepada TIFAOnline melalui saluran telepon, Jumat (25/1/2019) malam.

Menurutnya tidaklah mungkin seorang Panji Agung mampu menjatuhkan seorang Calon Gubernur, dalam politik ada namanya kampanye negative dan kampanye hitam, kalau postingan itu masuk ranah kampanye negative, tidak di larang yang di larang itu adalah kampanye hitam, dan saat itu situasinya kampanye, sehingga mestinya di selesaikan lewat mekansime aturan kampanye.

Ini postingan Panji Agung Mangkuegoro di masa – masa kampanye Pilgub Papua tahun 2018 lalu, dimana dirinya selaku Ketua Tim Relawan salah satu pasangan calon Gubernur. (Foto : ist/ TIFAOnline)

“cukup di sayangkan barang ini harus bergulir ke ranah hukum, ini hanya berbau politik, seorang Panji tidak mungkin mejatuhkan JWW, tapi kok dia laporkan, berarti seorang Panji luar biasa dong, gara – gara Panji sampai Lukas menang, semestinya barang ini saat di sodorkan mediasi, yah sudah, ini barang ecek – ecek, toh dengan dia melaporkan dia tidak jadi Gubernur, dan kasus kayak begini biasa terjadi di politik, justru kasus penganiayaan yang dilakukan terhadap klien kami hari ini yang harus lebih dapat perhatian”,  kata Yuliyanto, SH, MH lagi.

Yuliyanto juga menyampaikan bahwa ia sudah mendampingi kliennya sampai di tahap dua ke Kejaksaan, dan sejauh ini kliennya cukup kooperatif, sehingga ia memastikan kliennya tidak akan kabur seperti yang di sampaikan oleh kepolisian, termasuk bila di butuhkan dalam persidangan nanti, setelah proses penyerahan berkas perkara, tersangka dan barang bukti ke Kejaksaan, akhirnya Panji Agung Mangkunegoro di bebaskan dan siap kapan saja bila di butuhkan oleh Kejaksaan untuk persidangan.

“setelah penyerahan ke Kejaksaan tadi, saya di perbolehkan pulang oleh kuasa hukum saya dan JPU, saya kurang paham mekanismenya, mungkin kuasa hukum saya sudah ajukan penangguhan, saya serahkan sepenuhnya ke kuasa hukum yang urus jadi”, kata Panji Agung Mangkunegoro mengaku lagi di Rumah Sakit saat di hubungi TIFAOnline melalui telepon, Jumat (25/1/2019) malam. (walhamri wahid)

Tinggalkan Balasan