EKBIS LOKALHEADLINE

Industri dan Proyek Tidak Boleh Beli BBM Subsidi di POM Bensin, Konsumsi Premium di Keerom Tahun 2018 Lewati Kuota

Industri dan proyek tidak boleh beli BBM subsidi di POM Bensin, konsumsi premium di Keerom tahun 2018 lewati kuota, tampak satu - satunya SPBU di Kabupaten Keerom yang berlokasi di Arso II (kiri) dan Donny Prasetya, Sales Executive Retail PT. Pertamina MOR VIII Maluku - Papua (kanan). (Foto : Amri/ TIFAOnline)Industri dan proyek tidak boleh beli BBM subsidi di POM Bensin, konsumsi premium di Keerom tahun 2018 lewati kuota, tampak satu - satunya SPBU di Kabupaten Keerom yang berlokasi di Arso II (kiri) dan Donny Prasetya, Sales Executive Retail PT. Pertamina MOR VIII Maluku - Papua (kanan). (Foto : Amri/ TIFAOnline)

TIFAOnline, JAYAPURA— Konsumsi premium (bersubsidi) di Kabupaten Keerom pada tahun 2018, berdasarkan data penjualan dari PT. Pertamina (Persero) Marketing Operational Regional (MOR) VIII yang membawahi Maluku – Papua melampaui kuota tahunan yang sudah di tetapkan.

Namun menurutnya bila dibanding dengan tahun – tahun sebelumnya konsumsi premium di Kabupaten Keerom kian menurun, bisa jadi di sebabkan tingkat konsumsi Pertalite (non subsidi) yang kian meningkat.

Hal tersebut dijelaskan Donny Prasetya, Sales Executive Retail (SER) MOR VIII Pertamina saat bincang – bincang dengan TIFAOnline di ruang kerjanya, Jumat (25/1/2019) kemarin.

“realisasi di tahun 2018 di Kabupaten Keerom, penjualan premium mencapai 3.585 Kiloliter (KL) atau mencapai 113%%, melebihi kuota 100% yang sudah ditetapkan, untuk minyak tanah (kerosene) sebesar 2.060 Kiloliter atau baru 81,4% masih di bawa kuota untuk Keerom, sedagkan konsumsi solar (biosolar) sebanyak 120 Kiloliter (98,4%), juga masih di bawah kuota”, kata Donny Prasetya.

Bila 1 KL sama dengan 1.000 liter, berarti konsumsi premium di Kabupaten Keerom pada tahun 2018 lalu sebanyak 3.585.000 liter, atau rata – rata per bulan sebanyak 298.570 liter, sedangkan konsumsi minyak tanah sebesar 2.060.000 liter atau rata – rata per bulan sebesar 171.666 liter, dan solar sebesar 120.000 liter atau rata – rata 10.000 liter per bulannya.

“itu untuk BBM yang bersubsidi yah, kalau untuk BBM yang non subsidi atau industry itu datanya di bagian lain, kuota itu untuk dua tempat, APMS yang di Koya Swakarsa depan sekolah, yang khusus jual solar subsdi, dengan SPBU yang di Arso II, yang tidak jual solar subsidi, jadi kuota untuk Keerom itu untuk dua tempat, kan itu satu orang pemilik agennya, Pak Haji Markum”, kata Donny Prasetya.

Sales Executive Retail PT. Pertamina (Persero) MOR VIII Maluku – Papua itu juga menegaskan bahwa untuk kebutuhan industry maupun kegiatan proyek – proyek tidak boleh membeli BBM subsidi dari SPBU maupun APMS, karena prosedur pembeliannya tersendiri.

“di Keerom kan ada beberapa industry dan perkebunan, termasuk juga kalau ada proyek tidak boleh beli BBM subsidi, bahkan untuk beli BBM non subsidi juga ada batasannya, sehari tidak boleh lebih dari 5 drum, jadi industry bisa beli langsung ke Pertamina, ada bagiannya sendiri”, kata Donny Prasetya lagi.

Ketika di tanya berapa kuota BBM subsidi untuk Kabupaten Keerom, ia mengaku tidak mengetahui pasti, karena dirinya lebih kepada BBM subsidi sedangkan BBM yang non subsidi divisinya lain lagi.

Sedangkan soal kuota BBM subsidi di Kabupaten Keerom pada tahun 2019, menurutnya hingga kini belum ada penetapan kuota BBM subsidi untuk Kabupaten Keerom.

“untuk 2019 belum ditetapkan, tapi bisa jadi sama dengan kuota tahun sebelumnya, tapi bisa juga terjadi kenaikan ataupun penurunan, dari pusat yang tetapkan, tapi belum ada sampai hari ini”, kata Donny Prasetya lagi. (walhamri wahid)

Tinggalkan Balasan