HEADLINEHUKUM & HAM

Didemo Wartawan Manokwari, Menteri Yasona H. Laoly Kabur Pake Mobil Rental ?

Didemo wartawan Manokwari, Menteri Yasona H. Laoly kabur pake mobil rental ?, tampak para wartawan yang tergabung dalam Solidaritas Jurnalis Manokwari saat melakukan demo. (Foto : Adrian/ TIFAOnline)Didemo wartawan Manokwari, Menteri Yasona H. Laoly kabur pake mobil rental ?, tampak para wartawan yang tergabung dalam Solidaritas Jurnalis Manokwari saat melakukan demo. (Foto : Adrian/ TIFAOnline)

TIFAOnline, MANOKWARI— Dalam kunjungan kerjanya ke Manokwari, Provinsi Papua Barat, Menteri Hukum & HAM, Yasonna Hamonangan Laoly disambut aksi demo sejumlah wartawan di Manokwari, mempertanyakan sikap Menteri Kumham yang mempertahankan remisi atas actor intelektual pembunuh wartawan Radar Bali pada tahun 2009 lalu, padahal Presiden RI, Joko Widodo mengatakan bahwa akan meninjau kembali keputusan tersebut.

Puluhan wartawan berbagai media di Manokwari yang tergabung dalam Solidaritas Jurnalist Manokwari, Rabu (30/1/2019) sekitar pukul 9.35 WIT menggelar aksi demo damai di lapangan Kanwil Kemenkumham Papua Barat, dimana rombongan Menteri Yasona Laoly tengah kunjungan kerja.

Dalam aksi demo damai itu beberapa wartawan memajang berbagai pamflet yang menyatakan sikap penolakan atas pemberian remisi terhadap I Nyoman Susrama yang telah di vonis seumur hidup oleh Pengadilan Negeri Denpasar pada tahun 2010 karena terbukti sebagai otak di balik pembunuhan berencana terhadap jurnalis Radar Bali, A A. Narendra Prabangsa pada Februari 2009.

Solidaritas Jurnalis Manokwari menilai ada keistimewaan yang diberikan kepada N Nyoman Susrama dalam pemberian remisi dimaksud, sehingga dari hukuman seumur hidup di ringankan menjadi hukuman sementara.

Para wartawan memegang berbagai macam pamflet bertuliskan pernyataan sikap mereka masing – masing, diantaranya, “Pak Menteri Mengapa Kau Pertahankan Remisi Pembunuh Jurnalis Ko’ sehat Kah?? “, ada juga pamflet lainnya, “Presiden Bilang Akan Tinjau Remisi Menteri Tolak Peninjauan Remisi Yasonna, Ko’ Jangan Bikin Diri Inti Sudah”.

Alih – alih menemui para wartawan dan memberikan penjelasan atas keputusannya, Menteri Hukum & HAM, Yasona H. Laoly memilih kabur dari Kantor Wilayah Kementerian Hukum & HAM Provinsi Papua Barat menggunakan kendaraan lain, yang di duga adalah mobil rental untuk mengelabui wartawan dan menuju ke Kantor Gubernur Papua Barat untuk mengikuti kegiatan lainnya, karena mobil dinasnya RI 25 masih tetap terparkir di kantor Kanwil Kumham.

Aksi damai Solidaritas Jurnalis Manokwari tersebut menuntut sikap kepada Menteri Hukum dan HAM Yasonna Hamonangan Laoly agar meninjau ulang Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 29 Tahun 2018 tentang Pemberian Remisi perubahan dari penjara seumur hidup menjadi hukuman sementara.

Kris Tanjung, salah satu wartawan dari media online local di Papua Barat, mengatakan aksi yang digelar di halaman Kantor Wilayah Kemenkumham Papua Barat meminta Pemerintah mencabut remisi terpidana penjara seumur hidup yang membunuh wartawan Radar Bali itu.

Frans Weking, Redaktur Pelaksana koran lokal di Papua Barat dalam orasinya mengungkapkan, moment Proklamasi Kemerdekaan RI 45 tak akan memiliki bukti otentik jika tak ada peran jurnalis, sehingga terkait aspirasi wartawan ini, pemerintah diharapkan dapat mengkaji kembali seluruh aturan dasar pemberian remisi tersebut, dan tidak melibatkan Dewan Pers.

Ungkapan aspirasi lainnya dilontarkan Takdir salah satu kontributor televisi nasional yang bertugas di Manokwari, ia mengharapkan agar peran jurnalis mendapatkan posisi yang seimbang dalam penegakan hukum.

“Bapak Menteri yang terhormat kunjungan Bapak kesini kami berharap agar Bapak dapat mentilik pernyataan kami ini. Sebab dimana saja Bapak melakukan kuniungan,  pasti jurnalis se-Indonesia akan melakukan aksi yang sama. Sebab kami menganggap kebebesan pers telah di pasung. Ini menjadi pelajaran buat Bapak Menteri yang telah memberikan remisi bagi otak pelaku utama pembunuh wartawan Radar Bali”, kata Takdir, dalam orasinya.

Meski sempat terjadi negoisasi dalam aksi selama dua jam itu, namun wartawan bersikeras untuk Menteri menemui wartawan di lapangan Kakanwil, bukan di ruangan atau di Kantor Gubernur Papua Barat, bahkan para wartawan juga mengancam akan memboikot segala pemberitaan jajaran Kementerian Hukum dan HAM.

Pada kesempatan itu juga Solidaritas Jurnalis Manokwari membacakan 4 butir pernyataan sikap mereka, diantaranya adalah :

  1. Menolak dengan tegas pemberian remisi kepada terpidana seumur hidup I Nyoman Susrama dalam perkara pembunuhan berencana terhadap wartawan Radar Bali AA Narendra Prabangsa.
  2. Mendesak Presiden Joko Widodo mencabut dan membatalkan Keputusan Presiden Nomor 29 Tahun 2018 tentang pemberian remisi berupa perubahan dari penjara seumur hidup menjadi penjara sementara kepada I Nyoman Susrama.
  3. Menolak dengan tegas kriminalisasi terhadap pers nasional.
  4. Melalui Presiden berkewajiban dan negara menjamin dan melindungi kemerdekaan pers sesuai amanat UU Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers. (adrian kauripan/ walhamri wahid)

Tinggalkan Balasan