EKBIS NASIONALFEATUREHEADLINE

Pasar Avidjan Keerom, Habiskan Puluhan Miliar, Kini Jadi ‘Kebun Jagung” yang Tak Terurus

Dari sisi konsep sebagai Pasar Distribusi cukup strategis, namun dari pemilihan lokasi mungkin masih membutuhkan waktu untuk bisa hidup sehat dan berjalan normal, namun bukan berarti di biarkan terbengkalai, harus ada cara untuk mengaktifkan pasar yang sudah habiskan puluhan miliar uang rakyat itu, sehingga benar – benar bisa menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar

Pasar Avidjan Keerom, habiskan puluhan miliar, kini jadi ‘kebun jagung” yang tak terurus, tampak salah satu sudut pasar yang di tanami jagung yang tumbuh subur. (Foto : Amri/ TIFAOnline)Pasar Avidjan Keerom, habiskan puluhan miliar, kini jadi ‘kebun jagung” yang tak terurus, tampak salah satu sudut pasar yang di tanami jagung yang tumbuh subur. (Foto : Amri/ TIFAOnline)

Oleh    : Walhamri Wahid

Setiap kita melintasi Jalan Raya Arso beberapa menit sebelum sampai di mata jalan Arso Swakarsa, di sisi kanan jalan pasti mata kita akan tertuju pada sebuah bangunan megah berwarna hijau lumut dengan pintu – pintu harmoni berwarna biru tua.

Bagi orang yang tidak mengetahui pasti bertanya – tanya ini bangunan apa, kok ada bangunan megah begini di tengah hutan yang sekelilingnya kini sudah dipenuhi dengan rerumputan yang berlomba – lomba menghalangi pandangan setiap orang yang lewat ke arah bangunan tersebut.

Tampak bagian depan Pasar Avdjan Keerom di lihat dari sisi jalan raya, dan pos jaga di jalan masuk pasar yang ditumbuhi rumput. (Foto : Amri/ TIFAOnline)

Di bagian tengah terlihat dari tepi jalan raya papan nama nama lengkap dengan taman mininya tertulis kalimat “Pasar Distribusi Barang Kabupaten Keerom”, yang juga nyaris di kerumuni rumput yang merambat, bahkan beberapa bagian dari lantai papan nama yang keren itu sudah mulai retak – retak di makan cuaca, meski belum pernah di gunakan.

Memasuki areal Pasar Avidjan kita akan di sambut dengan ‘pos monyet’ yang juga sudah mulai rapuh dan tak terurus karena areal sekitarnya di tumbuhi rerumputan dan ilalang yang subur.

Pandangan mata kita pasti langsung tertuju pada sebuah terminal yang secara kasat mata bila di lihat desain dan bentuknya mendekati Terminal Tipe B, karena sudah tersedia sebuah peron kedatangan bus, ada beberapa ruang tungu penumpang dan sejumlah fasilitas publik lainnya.

Tampak peron bus di terminal Pasar Avidjan yang sudah di tumbuhi rumput karena sudah berapa tahun tidak di fungsikan. (Foto : Amri/ TIFAOnline)

Kondisi Terminal sangat memprihatinkan, selain rumput tumbuh dimana – mana beberapa bagian peron dan ruang tunggu terbuka yang tersedia saat ini kondisinya juga sudah mulai rusak, terkhusus di bagian plafon, terlihat tripleks plafon menganga lebar dan bergelantungan serta terkelupas di makan rembesan air hujan.

Tampak ruang tunggu terminal Pasar Avidjan yang sudah ditumbuhi rumput dan juga bagian plafon yang rusak. (Foto : Amri/ TIFAOnline)

Sebelum menuju ke terminal di bagian depannya terlihat beberapa bangunan yang rencananya untuk kantor SKPD yang akan menangani dan mengurusi Pasar Avidjan kalau berjalan, di bagian ujung deretan bangunan yang juga sudah di tumbuhi rumput itu ada satu bangunan yang dijadikan semacam UPTD Dinas Kehutanan Provinsi Papua sehingga terlihat agak bersih dan ada aktifitas di dalamnya.

Di sisi kanan Terminal kita akan melihat deretan bangunan ruko dengan beberapa kaca – kaca yang sudah pecah, dan rumput yang setinggi orang dewasa, untungnya deretan ruko di kompleks Pasar Avidjan di bangun di atas pondasi yang lumayan tinggi, sehingga tidak terhalang pandangan oleh rumput yang tumbuh tinggi di sekitarnya.

Tampak beberapa sudut ruko yang beberapa diantaranya sudah pecah kaca jendelanya, dan semuanya dipenuhi semak belukar. (Foto : Amri/ TIFAOnline)

Mengelingi kompleks Pasar Avidjan, di bagian depan pasar yang menghadap ke jalan raya, di bagian depan ruko – ruko, di bagian rabat-nya yang membatasi dengan areal parkiran tumbuh subur tanaman jagung yang siap panen.

“iya memang itu sengaja di tanami jagung biar rumput – rumput tidak tumbuh di situ”, kata Drs. Marthen Simbong, Kadinas Perindagkop Keerom ketika di konfirmasi TIFAOnline beberapa waktu lalu di ruang kerjanya.

Tanaman jagung dan talas juga memenuhi bagian depan Pasar Avidjan yang membatasi areal parkiran dengan sebuah saluran drainase di depan dekat dengan jalan raya.

Memasuki areal dalam Pasar Avidjan, di bagian tengahnya terlihat jejeran beberapa los yang masih sangat bagus, hanya sayangnya dipenuhi dengan rerumputan di seluruh bagian los – los di maksud kecuali di bagian lantai yang sudah di cor semen, terlihat pecahan botol, nampaknya sesekali los – los dimaksud dijadikan tempat mabuk bagi warga.

Beberapa los Pasar Avidjan yang sudah di tumbuhi semabk belukar karena lama tidak digunakan. (Foto : Amri/ TIFAOnline)

Di bagian belakang los dan bangunan ruko – ruko di pasar tersebut terlihat beberapa bangunan lagi, namun susah untuk di jangkau karena tingginya rerumputan dan padang ilalang yang mengerubuti bangunan di maksud, sehingga tidak ada jejak jalan setapak yang bisa di telusuri ke bangunan yang katanya adalah Rumah Potong Hewan (RPH) dan pergudangan.

Bila melihat letak dan lokasi Pasar Avidjan ini bisa di pastikan ada kekeliruan dalam tahap perencanaan sebuah lokasi pasar, karena lokasinya yang jauh dari permukiman, dan ada beberapa pasar masyarakat lainnya yang sudah lebih dulu muncul seperti Pasar Arso II dan Pasar Swakarsa, sehingga memang di butuhkan kiat dan strategis khusus agar bisa menghidupkan operasionalisasi Pasar Avidjan tersebut.

Karena idealnya sebuah pasar dibangun di sebuah lokasi yang sudah ada embrio pasarnya, maksudnya idealnya sebuah pembangunan pasar besar dibangun di lokasi yang memang sudah ada aktifitas pasar kecil sebagai dasarnya, dan mudah di jangkau dari permukiman penduduk, tidak sebaliknya.

Dari penelusuran TIFAOnline, Pasar Avidjan ini mulai di bangun sejak tahun 2009 dengan sumber dana dari APBN, yang sudah habiskan puluhan miliar, penelusuran TIFAOnline ke beberapa SKPD terkait di Kabupaten Keerom, tidak ada yang mengetahui pasti berapa sudah uang negara habis untuk membangun Pasar Avidjan, Pasar Distribusi Barang Kabupaten Keerom, yang berlokasi di Jalan Raya Arso Swakarsa.

Karena sumber dananya dari APBN, baru di tahun 2018 lalu Dinas Perindagkop Keerom mengalokasikan sekitar kurang lebih Rp. 2 miliar dari APBD Kabupaten Keerom untuk merehabilitasi pasar megah tersebut yang hingga kini belum bisa di fungsikan secara maksimal, termasuk terminalnya.

“Pasar Avidjan kalau tidak salah mulai di bangun dari tahun 2009, sumber dananya dari APBN semua, saya jadi Kadinas Perindagkop sejak tahun 2017, jadi saya tidak tahu pasti berapa nilai proyeknya dulu, tapi di tahun 2018 ini karena saya lihat ada beberapa bagian yang rusak jadi saya lakukan rehab kemarin di tahun 2018, sebelum makin parah kerusakannya”, kata Drs. Marthen Simbong, Kadinas Perindagkop Keerom saat ditemui TIFAOnline di ruang kerjanya di Arso II pekan lalu.

Drs. Marthen Simbong, Kadinas Perindagkop Keerom, (Foto : Amri/ TIFAOnline)

Kadinas Perindagkop Kabupaten Keerom mengakui bahwa saat ini pihaknya sudah beberapa kali melakukan rapat koordinasi dengan instansi lainnya untuk berupaya agar Pasar Avidjan tersebut bisa di aktifkan kembali dan memutar roda perekonomian di Kabupaten Keerom.

“sesuai petunjuk Pak Bupati, di rencanakan pada Maret atau April kita operasikan, sudah ada beberapa pedagang yang mendaftar untuk menempati ruko – ruko yang ada saat ini, jumlahnya sekitar 50-an ruko kalau tidak salah, dan rencananya untuk tahap pertama agar tidak memberatkan para pedagang, kita akan gratiskan selama 1 tahun”, kata Drs. Marthen Simbong.

Menurutnya sebelumnya memang pernah di operasikan, namun karena sepi pembeli, akhirnya para pedagang menyerah dan angkat kaki dari beberapa ruko yang ada di lokasi tersebut, termasuk juga terminal-nya sempat beroperasi setahun lalu, namun kini sudah tidak beroperasi lagi.

“antara pasar dan terminal ini kan ibarat dua sisi mata uang, jadi terminalnya hidup kalau pasarnya juga aktif, untuk terminal itu kalau tidak salah tahun 2016 kah sempat beroperasi dengan memberikan subsidi kepada sopir – sopir agar masuk, tapi banyak yang mengeluh tidak efektif, karena pasar juga belum jalan, makanya sampai sekarang sedang kita cari formula baru agar bisa aktif bersamaan terminal dan pasarnya juga”, kata Marthen Simbong.

Ia berharap salah satu solusi ke depan untuk menghidupkan Pasar Avidjan adalah munculnya pembangunan perumahan dan permukiman di areal sekitar Pasar Avidjan di maksud, sehingga lambat laun aka nada pembeli.

“solusi ke depan, memang harus segera di bangun perumahan di bagian belakang Pasar kah, atau di sisi lain yang terdekat, bisa gandeng swasta, bisa juga perumahan PNS, selain itu juga perlu di buat jalan tembus ke Arso VI, agar semua kendaraan bisa langsung tembus ke Pasar Avidjan dari Arso VI dan sekitarnya”, jelas Kadinas Perindagkop Keerom lagi.

Ia juga mengaku tengah memikirkan beberapa solusi lain agar bangunan megah itu tidak terbengkalai seperti saat ini, dan kawasan Pasar Avidjan bisa jadi daerah kunjungan pembeli, karena bila pedagang menempati ruko dan los yang ada tapi tidak ada pembeli, maka dipastikan para pedagang akan kabur juga.

“Mungkin kita bangun mall kah, atau Grosir kah, tempat hiburan di situkah, nanti akan kita kaji, untuk saat ini sudah ada beberapa pedagang yang daftar dan siap tempati pasar itu sih, hanya kita tunggu dulu, sebenarnya kita rencana akhir 2018 kemarin sudah harus jalan pasar ini, tapi sesuai permintaan pak Bupati nanti kalau bisa Maret atau April pas bertepatan dengan HUT Keerom”, kata Marthen Simbong.

Soal lokasinya yang memang jauh dari lokasi ideal sebuah pasar, Kadinas Perindagkop tidak menyangkal, namun ia menolak membahas lebih lanjut.

“saya tidak ingin menyalahkan atau menilai, tapi memang ada masalah dan itu yang sedang kita carikan jalan keluarnya, sehingga asset ini bisa di fungsikan dan bermanfaat, solusinya mungkin kita akan ubah konsep dari Pasar Avidjan ini”, tegas Kadinas Perindagkop.

Upaya lainnya yang dapat dilakukan oleh Pemda lewat SKPD lainnya adalah melakukan rekayasa lalu lintas, dan trayek kendaraan.

“bagaimana caranya agar kendaraan wajib masuk ke kompleks pasar tidak lalui jalur utama yang sudah ada saat ini, atau di buat dan atur trayek baru, sehingga semua kendaraan dari Jayapura masuk ke terminal Pasar Avidjan, dan kendaraan antar kota dalam Keerom juga masuk di situ untuk penumpang berganti kendaraan”, katanya.

Bicara masalah konsep, Kadinas Perindagkop memaparkan bahwa memang awalnya Pasar Avidjan ini dijadikan sebagai Pasar Distribusi Barang, dimana beberapa komoditi yang ada dari Keerom, tidak langsung di pasarkan ke Pasar Youtefa di Abepura, tetapi semua di pusatkan di Pasar Avidjan, dan nantinya pedagang pengepul dari Kota Jayapura dan Kabupaten Jayapura yang datang berbelanja ke Pasar Avidjan.

“di belakang itu sudah ada gudangnya, jadi rencananya kita akan tampung semua hasil kebun dari petani jadi mereka tidak perlu jualan ke Pasar Youtefa, kita akan koordinasi dengan pedagang pengepul di Jayapura untuk datang membeli dari UPTD Pasar Avidjan disini, makanya di belakang los itu sudah ada semacam meja untuk lelang komoditi, jadi kita jual komoditi yang kita tampung dari masyarakat ke pedagang pengepul dengan system lelang komoditi”, kata Drs. Marthen Simbong. (selesai)

Tinggalkan Balasan