BUDAYA & PARIWISATAHEADLINE

Expo Waena, Taman Budaya Papua Yang Terabaikan, Jelang PON 2020, Saatnya Dibangkitkan Kembali

Expo Waena, Taman Budaya Papua yang terabaikan, jelang PON 2020, saatnya dibangkitkan kembali, tampak pintu masuk Taman BUdaya Papua di Expo Waena yang tidak terurus, (inzert) John NR. Gobai, anggota DPRP Dapeng Adat Mee Pago. (Foto : Amri/TIFAOnline)Expo Waena, Taman Budaya Papua yang terabaikan, jelang PON 2020, saatnya dibangkitkan kembali, tampak pintu masuk Taman BUdaya Papua di Expo Waena yang tidak terurus, (inzert) John NR. Gobai, anggota DPRP Dapeng Adat Mee Pago. (Foto : Amri/TIFAOnline)

TIFAOnline, JAYAPURA— Meski Pemerintah Provinsi Papua sudah membuat Peraturan Daerah Khusus (Perdasus) Nomor 16 Tahun 2008 Tentang Perlindungan dan Pengembangan Kebudayaan Asli Papua, tetapi hingga kini implementasi secara kongkrit dari Perdasus tersebut dalam upaya melestarikan, melindungi, dan mempromosikan kebudayaan asli Papua sampai hari ini masih jauh dari apa yang di harapkan.

“budaya Papua ini kan banyak, dan tidak akan mungkin kita atau wisatawan datangi 29 kabupaten / kota yang ada di Papua, sebenarnya kita sudah punya asset yang bisa memberikan gambaran komprehensif tentang miniature kebudayaan Papua, tapi selama ini saya lihat di telantarkan, Taman Budaya Papua atau dulu Expo Waena yang sekarang jadi permukiman”, kata John NR. Gobai, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Papua (DPRP) dari Daerah Pengangkatan (Dapeng) Adat Mee  Pago, dalam releasenya, Jumat (1/2/2019).

Menurutnya kebutuhan akan sebuah Taman Budaya yang menjadi salah satu icon bagi Papua, jelang hajatan Pekan Olahraga Nasional (PON) Tahun 2020 sangat mendesak, dan ia berharap Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait bisa melihat momentum tersebut untuk menata kembali, dan menertibkan kawasan Expo Waena untuk di fungsikan kembali sebagai Pusat Kebudayaan Papua.

“Ada kerinduan seniman Papua agar Taman Budaya diaktifkan agar bisa menjadi lumbung seni atau Pusat Kebudayaan Papua sebagai bentuk penghargaan kita terhadap budaya, semacam Kampung Seni kalau di Ancol, di situ seniman bisa memiliki Sanggar, memajang hasil karya mereka, sehingga wisatawan ketika ke Jayapura, mau tahu tentang Wamena, atau Yahukimo tetapi tidak bisa ke lokasinya langsung bisa melihat miniaturnya di Taman Budaya Papua tersebut”, kata John NR Gobai berharap Pemerintah Provinsi Papua menyikapi hal tersebut.

Menurutnya yang jadi kendala saat ini adalah adanya warga masyarakat yang menghuni lokasi ataupun kes stand – stand kabupaten di lokasi tersebut.

“Taman Budaya Papua di Waena itu adalah asset penting Provinsi Papua, bukan Kota Jayapura, Pemprov harus mengidentifikasi mana asset Provinsi dan mana asset kabupaten/ kota, mana bagian tanah yang sudah pernah dilepas dan lunas, dan mana yang blum dilepas sehingga pemetaannya jelas. karena ada juga lahan yang pernah dilepas ke Pemprov, tetapi di lepas lagi ke pihak lain, dan di perjual belikan, jadi Pemprov harus segera tertibkan dan benahi kawasan itu sehingga bisa di pergunakan untuk mengangkat kebudayaan Papua”, katanya lagi.

Terkait adanya warga masyarakat yang menghuni lokasi tersebut menurutnya bukan masalah sepanjang ada ketegasan dan penegakan hukum yang disertai peri kemanusiaan, dengan memberikan solusi atau bantuan buat mereka mencari tempat tinggal dalam periode tertentu, atau dibangunkan semacam perumahan kerja sama dengan Pemda masing – masing, pasti penghuni yang ada mau kosongkan tempat, asal dilakukan pendekatan.

Menurutnya kedepan bila di fungsikan kembali Taman Budaya Papua bisa jadi Kampung Seni, Museum Noken, Stand Pameran, gedung pertunjukan, Pentas Seni yang di kombinasi dengan miniature dari tiap – tiap kabupaten, sehingga lokasi tersebut bisa menjadi destinasi wisata budaya, dan menjadi sumber PAD Pemprov tentunya. (walhamri wahid)

Tinggalkan Balasan