FEATUREHEADLINEPERISTIWA

“Tolong, Saya Kena Tembak !”

Rencana pulang ke Probolinggo minggu depan, guna mempersiapkan rencana pernikahannya dengan si pujaan hati yang hingga kini belum sempat dikenalkan dengan orang tuanya, Sugeng Effendi benar – benar pulang ke Probolinggo ke rumah orang tuanya, tetapi sudah tidak bernyawa lagi, ditembus peluru caliber 9 mm di dalam kiosnya sendiri di Puncak Jaya, Papua.

“Tolong, Saya Kena Tembak !” tampak Syahrowi Ayah Sugeng Effendi dan Syuhaini adik bungsunya ketika memperlihatkan foto calon kaka iparnya yang akan dinikahi Sugeng Effendi sebulan lagi. (Foto : Jatimnet.com)“Tolong, Saya Kena Tembak !” tampak Syahrowi Ayah Sugeng Effendi dan Syuhaini adik bungsunya ketika memperlihatkan foto calon kaka iparnya yang akan dinikahi Sugeng Effendi sebulan lagi. (Foto : Jatimnet.com)

Oleh    : Walhamri Wahid

Solehuddin tidak menyangka bahwa hari itu ia harus pulang ke kampung halamannya, Dusun Tengah, Desa Kramat Agung, Kecamatan Bantaran, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur mengantarkan jenazah adiknya yang sebenarnya memang sudah berencana minggu depan akan pulang ke Probolinggo setelah kurang lebih 3 tahun merantau, karena hendak menikah.

Ia tidak sendiri ikut bersamanya, Sofi istrinya, Dimas anaknya dan Alfan Musofan menemaninya di Bandara Mulia, Senin (4/2/2019), tampak Kapolres Puncak Jaya, AKBP Ary Purwanto dan Wakapolres Puncak Jaya, Kompol M. Kuswicaksono bersama mereka memberikan dukungan moril sambil menanti persiapan keberangkatan jenazah menuju Bandara Sentani menggunakan pesawat Trigana Air PK-YRU.

Sementara di Desa Kramat Agung, Kecamatan Bantaran, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, Sahrowi (56 tahun) sudah tidak sabar menanti kedatangan jenazah anak laki – lakinya, Sugeng Effendi (25 tahun), korban penembakan oleh Orang Tak di Kenal (OTK) di Kampung Wiyukwi, Distrik Mulia, Kabupaten Puncak Jaya, Papua, ketika tengah berada dalam kiosnya, Sabtu (2/2/2019) pukul 17.49 WIT.

Sugeng Effendi korban tembak mati oleh OTK di Kabupaten Puncak Jaya ketika mendapatkan perawatan di RSUD Mulia, tapi tidak tertolong lagi. (Foto : Humas Polda Papua)

“Minggu ini sebenarnya Sugeng mau pulang, tapi ya karena takdir berkata lain mau gimana lagi,” tutur Sahrowi, Senin (4/2/2019) sebagaimana di lansir Jatimnet.com.

Kepada Jatimnet.com, Sahrowi menuturkan bahwa anaknya di Papua sudah kurang lebih 3 tahun, awalnya bekerja sebagai tukang ojek, namun akhirnya Sugeng Effendi bisa membuka usah kios sendiri.

Kabar duka meninggalnya Sugeng, menurut Sahrowi ia terima dari salah satu sepupu korban yang juga bekerja di Papua.

Dilansir Jatimnet.com, menurut pihak keluarga, jenazah Sugeng Effendi diperkirakan tiba di kampung halaman Senin (4/2/2019) malam, sehingga pihak keluarga sudah melakukan sejumlah persiapan menyambut kedatangan jenazahnya, termasuk liang lahat untuk anak ke-4 dari 5 bersaudara itu.

Kepada ngopibareng.id, Sahrowi juga menuturkan bahwa anaknya itu sebenarnya punya rencana akan menikahi seorang gadis Lumajang yang juga sama – sama kerja di Papua sebulan ke depan.

“Takdir berbicara lain, anak saya keburu meninggal sebelum mewujudkan keinginannya hendak menikah”, kata Syahrowi seperti di kutip dari ngopibareng.id, Senin (4/2/2019).

Tapi Syahrowi mengaku belum mengetahui dan mengenal calon menantunya itu, karena rencananya memang baru bulan depan akan dikenalkan saat Sugeng pulang ke Probolinggo.

“Waduh, saya belum tahu, calon istrinya namanya siapa, seperti apa wajahnya. Katanya orang Lumajang,” ujar Syahrowi dengan bahasa Madura bercampur bahasa Indonesia kepada ngopibareng.id.

Sebelumnya melalui telepon, Sugeng Effendi kepada adik bungsunya, Suhaini (23 tahun) sempat menyatakan niatnya mempersunting seorang gadis Lumajang.

“katanya hendak menikah bulan Syaban”, kata Syuhaini sambil memperlihatkan foto calon kakak iparnya itu kepada ngopibareng.id

Syahrowi kepada ngopibareng.id dengan mata berkaca – kaca sempat menuturkan sejumlah kenangan tentang anak keempatnya itu, yang memutuskan merantau ke Papua setelah Sugeng Effendi gagal dalam tes TNI setamat SMA Probolinggo.

Menurutnya Sugeng memang bercita – cita menjadi prajurit, dimana ia terinspirasi salah satu kerabatnya yang menjadi Polisi Militer di Cirebon, namun sempat mengikuti tes TNI-AD, tetapi Sugeng tidak lolos sehingga memutuskan merantau mengadu nasib ke Papua menyusul kakaknya Sholehudin yang lebih dulu merantau bersama istrinya Sofi.

Namun siapa sangka, niat Sugeng Effendi memperbaiki nasib agar bisa mempersunting gadis Lumajang yang hingga kini masih misteri itu harus berakhir tragis.

Sebagaimana release yang di kirimkan Kabidhumas Polda Papua, Sugeng Effendi ditembak oleh OTK saat tengah menjaga kiosnya sambil menonton film melalui handphonenya di Kampung Wiyukwi, Distrik Mulia, Kabupaten Puncak Jaya, Sabtu (2/2/2019) pukul 17.49 WIT.

Meski sempat dibawa ke RSUD Mulia untuk mendapatkan perawatan, tetapi pukul 18.50 WIT sesampainya di RSUD Mulia guna mendapatkan penanganan medis, tetapi menurut dokter jaga korban sudah tidak bernyawa lagi, karena korban mendapatkan tembakan di bagian leher tembus ke belakang.

“saat itu saya lagi berbaring di belakangnya, Sugeng lagi duduk main hape, nonton film di hape, saya sempat dengar bunyi tembakan memang sekali, kemudian Sugeng meminta tolong, katanya, tolong saya kena tembak”, tutur Alfan Musofa, saksi mata yang juga adalah keluarga korban sebagaimana release yang diterima TIFAOnline dari Kabidhumas Polda Papua.

Setelah mengetahui kerabatnya kena tembak, Alfan Musofan lalu teriak minta tolong kepada warga yang ada di sekitar lokasi kios tersebut untuk membawa korban ke RSUD Mulia.

“sekitar pukul 18.15 WIT, saksi lainnya Nendi Telenggen menuju ke Pos TNI memberitahukan insiden penembakan sekaligus minta tolong membawa korban ke RSUD Mulia, dan setelah berkoordinasi dengan Kodim 1714/ PJ dan Polres Puncak Jaya, akhirnya korban di bawah ke RSUD pukul 18.40 WIT, tapi tidak tertolong lagi”, kata Kombes (Pol) Drs. Ahmad Musthofa Kamal, SH, Kabidhumas POlda Papua dalam releasenya.

Selain dua orang saksi sudah di mintai keterangan, polisi juga menemukan selongsong peluru caliber 9 mm di Tempat Kejadian Perkara (TKP).

Dalam catatan TIFAOnline, kasus penembakan yang merenggut korban jiwa di Kabupaten Puncak Jaya di awal tahun 2019 ini bukan yang pertama, sebelumnya juga seorang anggota TNI bernama Praka Subhan Razak dikabarkan terluka dan seorang warga sipil yang di duga bagian dari Kelompok Sipil Bersenjata (KSB) dilaporkan tewas setelah terlibat baku tembak di Sinak, Kabupaten Puncak Jaya, Rabu (9/1/2019).

Selanjutnya pada Jumat (18/1/2019) kembali terjadi kontak senjata di kawasan Longsran Baganbaga, Distrik Yambi, Kabupaten Puncak Jaya, dimana dalam insiden tersebut seorang anggota TNI dikabarkan tewas bernama Pratu Makamu. (Selesai)

Tinggalkan Balasan