HEADLINETANAH PAPUA

Dua Tahun Menjabat Kepala Kampung, Hindarto E. Wibowo Berhasil ‘Memoles Wajah’ Arsopura Dengan Dana Desa dan ADD

Wajah kumuh dan kusam telah sirna. Bahkan Juara I Lomba Kebersihan Kampung Tingkat Kabupaten Keerom sudah di raihnya. Bagaimana kiat dan strategi Kampung Arsopura optimalisasi Dana Desa (DD) dan Alokasi Dana Desa (ADD) sehingga bisa melakukan perubahan besar hanya dalam tahun kedua ? Semua tak lepas dari kepiawaian Hindarto Edi Wibowo sebagai Kepala Kampungnya.

Dua tahun menjabat Kepala Kampung, Hindarto E. Wibowo berhasil ‘memoles wajah’ Arsopura dengan Dana Desa dan ADD, tampak areal kompleks kantor Kampung Arsopura, Distrik Skamto, Keerom. (Foto : Amri/ TIFAOnline)Dua tahun menjabat Kepala Kampung, Hindarto E. Wibowo berhasil ‘memoles wajah’ Arsopura dengan Dana Desa dan ADD, tampak areal kompleks kantor Kampung Arsopura, Distrik Skamto, Keerom. (Foto : Amri/ TIFAOnline)

Oleh    : Walhamri Wahid

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih sejam dari Kota Jayapura melalui jalur Yoka, memasuki kawasan permukiman transmigrasi di Distrik Skamto, Kabupaten Keerom kita akan disambut dengan Kampung Arsopura atau yang akrab di sebut Arso IV, sebagai pintu masuk ke Keerom.

Aura pembangunan jelas terasa begitu kita menelusuri jalan beraspal yang membelah kampung Arsopura ini, penataan jalur – jalur yang terlihat apik dan bersih, beberapa usaha dan bangunan permanen berupa rumah toko (ruko) berlantai dua dan tiga mewarnai beberapa sudut jalan poros kampung.

Memasuki pusat pemerintahan kampung, mata kita akan di paksa untuk menyaksikan salah satu icon Kampung Arsopura, sebagai symbol adanya geliat pembangunan di kampung tersebut, sebuah kompleks pemerintahan yang berisikan beberapa bangunan berwarna hijau muda dengan atap biru muda dengan halaman luas nan bersih.

Sebagai sentralnya bangunan kantor Kepala Kampung yang di apit dengan bangunan perpustakaan, gudang ketahanan pangan di sisi kiri kantor Kepala Kampung, sedangkan di sisi kanannya tampak Aula Serba Guna, Kantor PKK, Sekretariat Karang Taruna dan kantor Bamuskam yang kesemuanya berada dalam satu kompleks.

“kantor Kepala Kampung ini kami bangun dalam dua tahun, dengan menyisihkan anggaran dari Alokasi Dana Desa (ADD) dari Pemda Keerom yang peruntukan utamanya adalah untuk membayar Penghasilan Tetap (Siltap) aparat kampung, Bamuskam, dan juga sejumlah tokoh yang berperan di kampung ini, juga adanya dukungan dan sumbangsih dari warga di sini, jadi bisa meringankan juga”, kata Indarto Edi Wibowo, Kepala Kampung Arsopura yang terpilih melalui Pemilihan Kepala Kampung secara langsung dan baru menjabat sekitar 2 tahun 4 bulan saat bincang – bincang dengan TIFAOnline di ruang kerjanya, Selasa (26/2/2019).

Setelah memasuki areal kompleks perkantoran Kampung Arsopura yang luas dan bersih yang juga di lengkapi parkiran kendaraan, kita akan di sambut dengan petugas di front office yang terlihat rapi, ramah, dan sigap melayani dengan Standar Operasional Procedure (SOP) layaknya di kantor – kantor pemerintahan di kota besar.

Beberapa data – data kampung terpampang di area front office, mulai dari foto para Kepala Kampung dari masa ke masa, hingga beberapa foto kondisi Kampung Arsopura dulu dan sekarang.

“Saya pertama kali masuk ngantor sangat minim sekali, tata kelola administrasinya juga belum tertata, masih tertinggal, jadi saya ingin bagaimana staff bisa nyaman dalam memberikan pelayanan, kalau dia nyaman pasti mereka akan kerja totalitas, jadi saya coba bangun system dan SOP dalam setiap pelayanan, jadi ada desk job yang jelas, semua staff harus paham tupoksinya, dan tidak baku harap”, kata Hindarto Edi Wibowo lagi.

Ia memastikan bahwa sejak kepemimpinannya dua tahun lalu semua pelayanan kepada masyarakat tanpa pungutan biaya apapun, dan informasi soal pelayanan gratis tersebut di pasang di meja front office, sehingga dipastikan tidak ada staff kampung yang berani nakal mengutip jasa layanan.

“semua surat – menyurat bisa kita layani gratis, pengantar urusan apapun untuk ke Kabupaten kita layani sesuai jam kerja, dan tidak pake lama”, kata Kepala Kampung Arsopura sambil tersenyum.

Tampak suasana front office kantor Kepala Kampung Arsopura (foto atas), dan Hindarto Edi Wibowo, Kepala Kampung Arsopura bersama sejumlah piala yang sudah di raih Kampung Arsopura dan Sanggar Seni yang di bina dari Dana Desa. (Foto : Amri/TIFAOnline)

Ia mengaku saat ini untuk urusan pelayanan ke warga dirinya di bantu 5 orang staff yang terdiri dari 1 orang Sekretaris Kampung, 2 orang Kasie Pembangunan, 1 orang Kasie Pemerintahan dan 1 orang Kaur Keuangan.

“Kuncinya adalah bagaimana kita menej (mengatur-Red) dengan baik, ADD memang untuk biaya penghasilan tetap (Siltap) aparat kampung, Bamuskam, waktu itu saya ingin kita punya icon, atau symbol, sebagai keberadaan pemerintahan, makanya waktu saya usulkan adanya kantor kampung yang memang layak dan representative, di setujui Bamuskam dan warga, jadi kami atur sehingga dalam 2 tahun anggaran ADD bisa untuk bangun kantor dan tata kompleks ini”, jelas Hindarto Edi Wibowo.

Untuk bangunan kantor lainnya, semilsa perpustakaan kampung dapat dukungan dari Dinas Perpustakaan Kabupaten Keerom, Gudang Ketahanan Pangan dari Dinas Ketahanan Pangan Keerom, sedangkan pembangunan Aula Serba Guna bersumber dari Dana BK3.

“sengaja saya satukan semua asset dan pelayanan pemerintahan dalam satu kompleks, jadi bila ada program dari kabupaten saya arahkan untuk menjadi bagian dari asset kampung ke depannya, untuk penataan areal ini, pagar, dan lingkungannya yang bersumber dari Dana Desa dan ADD”, katanya lagi.

Menyinggung soal penggunaan Dana Desa dalam dua tahun terakhir ini, Kepala Kampung Arsopura menjelaskan bahwa lebih ia fokuskan untuk pembangunan sarana dan prasarana kampung di sector infrastruktur.

“infrastruktur kampung kita dulu masih tertinggal jauh, makanya DD sejak tahun 2017 saya fokuskan untuk infrastruktur kampung, penimbunan jalan produksi, jembatan kampung, badan jalan”, kata Hindarto Edi Wibowo.

Menurutnya masih banyak infrastruktur di Kampung Arsopura yang harus di bangun, misalnya kebutuhan akan badan jalan sekitar 80 Km, dalam dua tahun ini baru sekitar 45 Km yang terjawab, untuk jembatan baru sekitar 65 unit yang di bangun, sedangkan yang dibutuhkan sekitar 350 unit,  demikian juga penimbunan badan jalan baru mencapai 30% dari yang dibutuhkan.

“Prinsip dalam kampung ini yang saya tanamkan adalah “Apa yang bisa kita berikan untuk Kampung Arsopura bukan apa yang bisa kita dapatkan dari Kampung Arsopura, makanya tingkat partisipasi warga yang mampu juga cukup tinggi, misalnya untuk timbunan dana yang tersedia untuk 3 unit, biasa pemilik truk bantu hingga 5 unit, jadi rasa memilik ada”, katanya lagi.

Ia mengakui di awal – awal menjabat memang menghadapi sejumlah kendala, karena harus merubah mindset warganya yang di masa lalu terbiasa dengan menerima bantuan tunai dari dana – dana yang turun ke kampung.

“saya ingin stimulant yang kita berikan kepada warga melalui kelompok bisa memutar ekonomi warga di kampung, makanya saya coba membentuk semacam wadahnya dulu, fasilitasi mereka, sehingga mereka bisa menjadikan wadah tersebut sebagai ‘mesin uang” guna memenuhi kebutuhan mereka sendiri”, kata Hindarto Edi Wibowo.

Dan hal tersebut telah ia buktikan melalui pendirian Sanggar Seni Sundi Yendi yang kini selain sebagai sarana pelestarian budaya masyarakat local dan medium pembauran antara masyarakat asli Papua dengan pendatang, tetapi juga saat ini menjadi sumber pendapatan warga yang terlibat dalam Sanggar Seni dimaksud.

Kepala Kampung Arsopura, Hindarto Edi Wibowo bersama anggota Sanggar Seni Sundi Yendi Kampung Arsopura yang awal pendiriannya di biayai dari Dana Desa 2018. (Foto : Amri/ TIFAOnline)

“kami di sini multi etnis, waktu itu saya coba lihat kegiatan apa yang bisa membuat kita ada kebersamaan, masyarakat asli dengan warga Transmigrasi, saya lihat bidang seni budaya bisa jadi alatnya, makanya saya fasilitasi pendirian Sanggar Seni, waktu itu kami berikan bantuan Rp. 20 juta, jadi warga Transmigrasi membaur dengan masyarakat asli berlatih tari – tarian asli Keerom dan Papua, selain mereka sudah juara beberapa kali, sekarang bila di tanggap mereka di bayar, dan anggotanya bisa dapat penghasilan”, kata Kepala Kampung Arsopura.

Dan di tahun 2019 ini, Kepala Kampung Arsopura yang dulunya adalah Ketua Karang Taruna yang juga berhasil mengelola beberapa unit fundraising Karang Taruna itu ingin memanfaatkan Dana Desa termasuk ADD untuk menggerakkan ekonomi kerakyatan dan meningkatkan produktifitas warga Arsopura, agar ke depan Kampung Arsopura bisa mendapatkan PAD sendiri.

Beberapa program yang tengah di rancangnya adalah bagaimana menyalurkan energy dan bakat generasi muda ke saluran yang benar dan tidak merusak masa depan mereka.

“saya merencanakan kita akan membentuk Badan Usaha Milik Kampung (BUMK) tahun ini, nantinya di bawah kendali BUMK ini Karang Taruna kita buatkan lapangan futsal, yang dikelola mereka sendiri, sehingga azas manfaat untuk pembinaan generasi mudanya dapat, dari aspek ekonomi juga dapat dari hasil sewa lapangan fitsal tersebut yang di kelola Karang Taruna dan BUMK”, kata Hindarto memaparkan impiannya.

Selain itu juga ia berharap bisa melakukan revitalisasi pasar kampung, agar ada perputaran uang di dalam Kampung Arsopura, dan juga bisa di tarik retribusi pasar.

“yang sudah jalan di sector ekonomi tahun 2018 kemarin adalah bantuan bibit bawang merah sebanyak 1 ton yang diberikan bergilir kepada kelompok – kelompok tani, itu sumber dananya dari Prospek, hingga saat ini masih terus bergulir”, kata Hindarto.

Berkat sejumlah terobosannya itu, di tahun kedua kepemimpinannya, sejumlah prestasi dan penghargaan sudah di raih oleh Kampung Arsopura, diantaranya PKK Arsopura pernah jadi Juara I Cipta Menu Tingkat Kabupaten dan mewakili Keerom ke tingkat Provinsi Papua dan juga juara.

Sejumlah prestasi yang pernah di raih Sanggar Seni Sundi Yendi diantaranya Juara III di Festival Danau Sentani 2018, Juara I Festival Budaya Keerom 2018, Juara I Tari Kreasi Tunggal di Bangka Belitung, dan saat ini tengah mengikuti seleksi persiapan untuk Ceremony Opening PON XX Tahun 2020. (***)

Tinggalkan Balasan