HEADLINENUSANTARA

Pro Kontra Hari Raya Nyepi Tanpa Internet di Bali, Ini Tanggapan I Kadek Mulyawan

Pro kontra Hari Raya Nyepi tanpa internet di Bali, ini tanggapan I Kadek Mulyawan. (Foto : ist/ TIFAOnline)Pro kontra Hari Raya Nyepi tanpa internet di Bali, ini tanggapan I Kadek Mulyawan. (Foto : ist/ TIFAOnline)

TIFAOnline, BALI— Terkait usulan Majelis – Majelis Agama Hindu di Bali yang nampaknya juga di setujui oleh Menteri Agama RI, Lukman Hakim Saifuddin agar dalam perayaan Hari Raya Nyepi khususnya di Provinsi Bali pada 7 Maret 2019 mendatang agar seluruh provider menghentikan layanan internet di provinsi tersebut selama 24 jam mendapat tanggapan beragam dari warga masyarakat, termasuk salah satunya oleh I Kadek Mulyawan, politisi dan caleg asal Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Provinsi Bali.

Sebagaimana dalam release yang di kirimkan kepada TIFAOnline, Selasa (27/2/2019), I Kadek Mulyawan, SH, MH yang juga adalah pegiat anti korupsi di Provinsi Bali itu menyatakan tidak ingin melibatkan diri terlalu jauh dalam debat kusir dan pro kontra soal internet di Hari Raya Nyepi.

“saya tidak tertarik perdebatan soal itu, semua kembali ke diri kita masing – masing, sebelum kita berdebat soal itu, ada baiknya kita tanyakan dulu apa tujuan utama Hari Raya Nyepi itu sendiri, yaitu memohon ke hadapan TYME untuk menyucikan Bhuana Alit (alam manusia/microcosmos) dan Bhuana Agung/macrocosmos (alam semesta)”, kata I Kadek Agus Mulyawan, SH, MH yang juga adalah Caleg PSI untuk DPRD Provinsi Bali dari Dapil Klungkung, nomor urut 1.

Menurutnya makna terdalam perayaan Nyepi adalah sebagai sebuah dialog spiritual yang dilakukan umat Hindu agar kehidupan ini selalu seimbang dan harmonis, karena dalam hening sepi kita kembai ke jati diri (mulat sarira) dan menjaga keseimbangan hubungan antara kita dengan Tuhan, alam lingkungan (Butha) dan sesama sehingga ketenangan dan kedamaian hidup bisa terwujud.

Menurut pengacara yang lahir dan besar di Klungkung, Provinsi Bali ini menambahkan kata “sepi”, yang berarti, hening, sunyi, senyap jadi berbeda dengan perayaan Tahun Baru lainnya, dimana perayaan umumnya identik dengan gemerlapnya pesta, kemeriahan, dan euforia serta hura-hura.

“umat Hindu dimana saja dalam merayakan Nyepi malah dilaksanakan dengan Menyepi, arti menyepi yang dimaksud adalah tidak ada aktivitas seperti biasa atau sesuai catur brata penyepian yaitu amati geni atau tidak menyalakan api, amati karya atau tidak bekerja, amati lelungan yaitu tidak bepergian, dan amati lelanguan yaitu tidak bersenang-senang”, kata I Kadek Agus Mulyawan, SH, MH.

Lalu apakah internet masuk ada  kaitannya dengan itu semua ?

“jawabannya sebenarnya semua itu kan kembali kepada diri kita sendiri, Itu kan demi kententraman, kekhusukan umat beragama khususnya agama Hindu karena dalam kesenyapan hari suci Nyepi kita mengadakan mawas diri, menyatukan pikiran, serta menyatukan cipta, rasa, dan karsa, menuju penemuan hakikat keberadaan diri kita dan inti sari kehidupan semesta”, katanya.

Makanya ia tidak tertarik atas perdebatan atau pro kontra soal itu.

“lebih baik kita semua jangan masuk ranah perdebatan pro dan kontra tersebut karena hanya menimbulkan perpecahan begitu juga kepercayaan lainnya sebisanya tetap menjaga toleransi antar umat beragama, bagaimanapun jika keputusan sudah dibuat kita kembalikan kepada tujuan dan makna hari raya Nyepi itu sendiri”, tegas politisi PSI Bali itu.

Ia menambahkan bahwa belajar dari perayaan Nyepi di tahun lalu, internet yang tidak boleh digunakan adalah internet untuk masyarakat umum, sedangkan yang berkaitan untuk pelayanan public lainnya seperti yang berkaitan dengan rumah sakit, keamanan, ekonomi digital masih diaktifkan.

“jadi kalau untuk tamu yang menginap dihotel ada layanan wifi masih bisa nyambung, jadi kita juga masih tetap bisa menjaga wisatawan kita agar mereka merasa tetap nyaman selama Nyepi di negara kita, khususnya selama di Bali”,  kata I Kadek Agus Mulyawan lagi.

Terkait usulan agar selama perayaan Hari Raya Nyepi di Provinsi Bali semua internet akan dimatikan secara total 24 jam pada 7 Maret 2019, menurut Menteri Agama RI, Lukman Hakim Saifuddin meminta masyarakat Indonesia, khususnya di Provinsi Bali menghormat usulan tersebut.

Menurut Lukman Hakim Saifuddin, inti usulan itu adalah bagaimana orang yang menjalankan ibadah betul-betul mampu larut dalam perenungan, kemudian melakukan refleksi terhadap dirinya di mata Tuhannya.

“Oleh karenanya segala hal yang bisa mengganggu proses kontemplasi itu memang sebaiknya dihindari, termasuk internet,” ujar Menag saat menghadiri Rakor di Bali, pada Jumat pekan lalu (22/2/2019). (walhamri wahid)

Tinggalkan Balasan