HEADLINEHUKUM & HAM

Terusik Dengan Suara Musik, Sekelompok Orang Geruduk Rumah Warga di Koya Barat, Polda Papua Amankan 8 Orang, Warga Desak Kelompok JUT Keluar dari Papua

“pemeriksaan masih berlangsung, dan polisi akan memproses kasus tersebut, dan ini murni kriminal”, (Irjen (Pol) Martuani Sormin, Kapolda Papua)

Terusik dengan suara musik, sekelompok orang geruduk rumah warga di Koya Barat, Polda Papua amankan 8 orang, warga desak kelompok JUT keluar dari Papua, tampak iringan mobil yang membawa 8 tahanan terduga pelaku pengrusakan di Koya barat dari Arso XIV menuju ke Mapolda Papua, Rabu (27/2/2019). (Foto : Amri / TIFAOnline)Terusik dengan suara musik, sekelompok orang geruduk rumah warga di Koya Barat, Polda Papua amankan 8 orang, warga desak kelompok JUT keluar dari Papua, tampak iringan mobil yang membawa 8 tahanan terduga pelaku pengrusakan di Koya barat dari Arso XIV menuju ke Mapolda Papua, Rabu (27/2/2019). (Foto : Amri / TIFAOnline)

TIFAOnline, KEEROM—  Polda Papua bergerak cepat untuk mengamankan beberapa orang terduga pelaku pengrusakan dan pengancaman serta penganiayaan di rumah Henock Niki, salah satu warga di Jalan Protokol Kelurahan Koya Barat, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura, Rabu (27/2/2019) pukul 05.30 WIT.

Berdasarkan informasi yang berhasil di himpun oleh TIFAOnline, Rabu (27/2/2019) sekitar pukul 12.35 WIT, sebanyak 8 orang telah di amankan Polda Papua dari Pondok Pesantren Ihya As-Sunnah Arso XIV milik Jafar Umar Thalib (JUT).

TIFAOnline yang terlambat sampai ke lokasi, hanya sempat berpapasan dengan rombongan Polda Papua di Arso X yang membawa para terduga pelaku pengrusakan dan penganiayaan bersama 1 unit minibus jenis Izusu Elf berwarna silver dengan nomor polisi PA 1466 R yang di duga yang digunakan oleh para pelaku saat melakukan pengrusakan, yang di tumpangi 7  anggota Jafar Umar Thalib.

Sedangkan Jafar Umar Thalib sendiri menyopiri mobil jenis Mitsubishi Triton dengan nomor polisi DS 8366 J di bagian depan minibus, iringan kedua mobil tersebut dikawal beberapa mobil aparat dari Polda Papua, yang sesampainya di depan Mapolres Keerom di Arso Swakarsa beberapa mobil dari Kodim maupun sejumlah perwira dari Polres Keerom mengiringi rombongan hingga ke Polda Papua.

Perjalanan dari Arso XIV hingga perbatasan antara Kota Jayapura dan Kabupaten Keerom berjalan lancar, hingga memasuki Koya Karang, Distrik Muaratami entah insiden apa yang terjadi sehingga minibus tiba – tiba berhenti di tengah jalan, dan mobil Mitsubishi Triton yang di kendarai Jafar Umar Thalib berada sisi kiri minibus.

Sontak seluruh rombongan mobil yang menyertai berhenti mendadak di tengah jalan membuat arus lalu lintas dari dua arah macet total, dan terlihat Kapolres Jayapura Kota, AKBP Gustav R. Urbinas, SH, SIK yang membuntuti di belakang minibus keluar di susul beberapa anggota yang mengawal berlarian dari truk di bagian belakang menghampiri minibus dan mobil Mitsubishi Triton.

Dari pantauan TIFAOnline terlihat Jafar Umar Thalib marah – marah dan mencoba keluar dari pintu kanan mobilnya tetapi di halangi oleh aparat dan di suruh masuk kembali ke dalam mobilnya hingga beberapa kali.

Sedangkan di dalam bus yang mengangkut terduga lainnya nampaknya ada keributan, sehingga salah seorang terduga di turunkan dari bus dalam kondisi luka di bagian pelipis dengan baju terkena percikan darah dan selanjutnya di pindahkan ke truk yang berisi aparat di iringan terbelakang dari para rombongan, terpisah dari terduga lainnya yang masih dalam bus.

Insiden di Kampung Koya Karang tersebut sempat menarik perhatian warga sekitar dan menghampiri lokasi, termasuk beberapa pengguna jalan lainnya juga penasaran apa yang terjadi, namun situasi bisa di atasi dan rombongan akhirnya bertolak melanjutkan perjalanan ke Mapolda Papua.

Hingga berita ini dimuat, berdasarkan penelusuran TIFAOnline, 8 orang terduga masih di mintai keterangan sebagai saksi oleh penyidik Polda Papua.

Adapun ke-8 terduga yang berhasil di amankan Polda Papua dari Ponpes Ihya As Sunnah Arso XIV, Kabupaten Keerom diantaranya adalah JUT, F, IJ, AR, AD, AJT, M dan AY.

Sedangkan blockade jalan yang dilakukan oleh sejumlah warga masyarakat di Kelurahan Koya Barat, Distrik Muaratami, Kota Jayapura sejak pukul 12.00 WIT sudah di buka kembali, dan aktifitas warga berjalan normal kembali setelah di lakukan pertemuan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Jayapura dengan pihak – pihak terkait.

“warga sepakat percayakan proses kepada penegak hukum, jadi sekarang pukul 12.00 WIT sudah buka akses jalan, tapi warga minta aparat keamanan bertindak tegas kepada pelaku – pelaku yang sudah melakukan dugaan pengrusakan dan pengancaman serta penganiayaan kepada keluarga Pak Henock, jadi pemblokiran jalan dengan bakar ban tadi bukan aksi anarkhis, tapi bentuk solidaritas sesama warga di Koya Barat ini agar aparat serius menangani kasus ini”, kata AKP D. Pieter Kalahatu, SH, Kapolsek Muara Tami di sela kegiatan pembersihan sisa pembakaran ban bekas di atas jalan oleh masyarakat dan aparat kepolisian, Rabu (27/2/2019) pukul 12.00 WIT.

Pdt. Anike Mirino, dari Bidang Keadilan. Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan Klasis GKI Port Numbay, kepada awak media di sela – sela pembukaan blockade jalan juga meminta agar Pemerintah Kota Jayapura termasuk kepolisian agar mengambil sikap tegas terhadap kelompok JUT yang di duga sebagai pelaku pengrusakan, pengancaman terhadap keluarga Henock Niki.

“kejadian hari ini bukan persoalan antar agama, tapi ini persoalan ulah kelompok yang di pimpin oleh Jafar Umar Thalib, kelompok ini harus di keluarkan dari Papua, tidak bisa kita biarkan, pemerintah harus ambil tindakan, karena bagi kami sudah mengganggu keamanan, persatuan NKRI yang mana kita sama – sama mengakui Pancasila sebagai perekat berbagai agama dan keyakinan yang ada hari ini”, kata Pdt. Anike Mirino.

Pdt. Anike Mirino, dari Bidang Keadilan. Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan Klasis GKI Port Numbay ketika mencoba meredam amarah warga yang melakukan blokade jalan. (Foto : ist/ TIFAOnline)

Menurutnya kelompok JUT sudah tiga kali mencoba memancing kekisruhan di Koya Barat, dan sudah beberapa kali pertemuan baik dengan Walikota juga dengan pimpinan agama bahkan dengan kepolisian untuk pindahkan kelompok ini, tapi sampai hari ini mereka masih eksis di wilayah Kota Jayapura maupun di Kabupaten Keerom.

“pertanyaan kami apakah pemerintah tunggu korban dan bentrok yang lebih besar kah, baru mereka mau ambil tindakan, dan kasih perhatian serius, kelompok ini harus segera di keluarkan dari Muaratami, dari Kota Jayapura dan dari Papua, kami sudah sekian tahun dengan sodara yang muslim jaga kedamaian, toleransi, sebagai sodara bersaudara, setelah muncul kelompok – kelompok ini barulah ada kekacauan dan gesekan seperti ini”, kata Pdt. Anike Mirino dari Bidang Keadilan. Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan Klasis GKI Port Numbay.

Ia sangat menyayangkan, dengan selalu membawa senjata tajam (sajam), mendatangi rumah warga dengan mengeluarkan sejumlah alat tajam, artinya kelompok tersebut selalu siap sedia untuk perlawanan terbuka.

“ini sudah tiga kali, yang pertama itu waktu kasus Pondok Natal yang juga memutar lagu – lagu, bagi kami warga di Koya sini tidak ada masalah selama ini, demikian juga ketika masjid mengeluarkan suara – suara, warga non muslim selama ini juga tidak masalahkan, tapi kelompok ini memicu adanya gesekan, kasus kedua waktu ada kegiatan KKR di Gereja Advent di duga mereka juga melakukan pelemparan, dan hari ini”, kata Pdt. Anike Mirino lagi.

Pdt. Betty Aruan, Ketua Jemaat GKI Kanaan Koya Barat dimana keluarga Henock Niki sebagai salah satu jemaatnya sangat menyayangkan, tindakan semena – mena yang dilakukan oleh kelompok JUT terhadap keluarga Henock Niki, Rabu (27/2/2019) dini hari.

“menurut penuturan ibu (istri Henock Niki-Red), pagi itu dia lagi buka pintu dan jendela rumah, samar – samar dia ada dengar bunyi mobil stop di pinggir jalan dan ada aba – aba serbu, karena rumahnya memang agak masuk sedikit ke dalam toh, terus ada sekelompok orang sekitar 10-an orang datangi rumahnya, katanya meminta untuk mematikan musik yang tengah di putar keluarga tersebut, karena ibu kaget dan tidak paham, apalagi melihat orang – orang tersebut membawa sajam, ibu merasa terancam, bahkan mereka sempat merangsek ke dalam rumah dan kemudian mematikan musik dengan merusak sejumlah sound system dan memutuskan kabel, yang buat keluarga ini trauma ada anaknya nama Irfan Niki yang coba melerai malah di tendang, jadi keluarga ini sangat trauma atas kejadian tersebut”, kata Pdt. Betty Aruan, Ketua Jemaat GKI Kanaan Koya Barat.

Kapolsek Muaratami, AKP D. Piter Kalahatu, SH kepada awak media di lokasi blockade jalan menjelaskan bahwa kronologis penanganan insiden Koya Barat kemarin di mulai sekitar pukul 06.35 WIT, ketika Aiptu Aswan, Ka SPKT II Polsek Abepura datang negosiasi dengan keluarga korban untuk selanjutnya ke Polsek Muaratami bersama saksi – saksi membuat laporan.

“jadi saya tiba di sini sekitar pukul 07.00 WIT, tidak lama Pak Danramil Muaratami, Kapten (Inf) Sutrisno dan anggota juga tiba di lokasi blockade jalan ini, dan sekitar dua jam kemudian komponen FKUB dan pemerintah tiba sehingga kami melakukan rapat koordinasi bersama tokoh – tokoh dan masyarakat setempat”, kata AKP D. Pieter Kalahatu, SH.

Hadir dalam rapat koordinasi FKUB tersebut adalah Drs. H. Syamsudin, MM (Kepala Departemen Agama Kota Jayapura), Supriyanto, S.Sip (Kadistrik Muara Tami), DR. Eko Susanto (FKUB Kota Jayapura), Pdt. Viktor Baransano (Ketua FKUB Distrik Muara Tami), termasuk juga Ketua FKUB Kabupaten Keerom dan juga Lurah Koya Barat Luter Sabarofek.

Terlihat hadir juga di pertemuan tersebut, Kapten (Inf) Sutrisno (Danramil Muaratami), AKP. D. Pieter Kalahatu, SH (Kapolsek Muaratami), AKP Erol Sudrajat (Kasat Sabhara Polresta), Iptu Budi Rahman (Kanit Intelkam Polresta), Ust. Hidayat, S.Pd, M.Pd (Ketua Pengurus Masjid Koya Barat), dan beberapa tokoh masyarakat diantaranya Niko Paay, Olof Fingkreuw dan pemilik rumah Henock Niki serta tokoh agama lainnya diantaranya Pdt. Abraham Mayor dan Pdt. Anike Mirino dari GKI.

“kami harap warga tidak terprovokasi, apalagi sampai membesar – besarkan kasus ini, karena ini kasus kriminal murni, bukan SARA, kita jangan mau terhasut dan terprovokasi dengan pihak – pihak yang ingin menunggangi kasus ini untuk adu domba kita, ini adalah criminal murni yang di picu oleh kesalah pahaman, saya paham pasti kita semua kecewa karena ini insiden yang ketiga oleh kelompok yang sama, kasih aparat waktu untuk memburu pelaku dan proses hukum”, kata AKP D. Pieter Kalahatu dalam rapat koordinasi FKUB kemarin.

Niko Paay, perwakilan tokoh masyarakat Koya Barat pada kesempatan itu mendesak agar pemerintah ambil tindakan tegas untuk mengeluarkan kelompok JUT beraktifitas di Muaratami.

“ini sudah kali ketiga, kami sudah cukup sabar, bagaimana bisa orang yang pergi ibadah  kok bawa senjata tajam, mereka ini kan bukan warga Koya Barat sini, mereka harus di keluarkan dari Papua, karena bisa memecah belah keruknan umat beragama yang sudah bagus selama ini”, kata Niko Paay dengan nada tinggi.

Kadistrik Muara Tami, Supriyanto, S.Sip, dalam penyampaiannya meminta agar warga Muara Tami tidak terprovokasi dan pihaknya meminta agar kepada pengurus masjid Koya Barat bisa lebih mensortir kelompok dari luar Muara Tami yang melakukan kegiatan di masjid, sehingga bila kegiatan dakwah yang mereka lakukan berpotensi mengadu domba mungkin perlu di sikapi dengan tegas.

“jangan sampai berkembang opini di masyarakat pengurus masjid memberikan perlindungan dan ruang kepada kelompok – kelompok dari luar, jadi semua pihak saya harap harus netralisir situasi yang ada dan kita jangan mau di adu domba”, tegas Kadistrik Muaratami.

Sekitar pukul 11.20 WIT ada informasi dari Kapolsek Skamto, Kabupaten Keerom bahwasanya aparat kepolisian sudah mengamankan terduga pelaku, kelompok JUT di Arso XIV, dan selanjutnya akan di bawa ke Mapolda Papua untuk di proses lanjut, akhirnya rapat koordinasi FKUB bersama warga sepakat untuk membuka blokade jalan dan aktifitas normal kembali sekitar pukul 12.00 WIT.

Penelusuran TIFAOnline, insiden dugaan pengrusakan dan  penganiayaan di duga dilakukan oleh JUT dan anggota kelompoknya di Jalan Protokol, samping Masjid Al Muhajirin, Kelurahan Koya Barat, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura, Papua, Rabu (27/2/2019) terjadi sekitar pukul 05.30 WIT.

Menurut penuturan sejumlah warga masyarakat yang berhasil di jumpai TIFAOnline di sekitar lokasi kejadian, sejumlah orang yang di duga adalah JUT dan anggotanya usai menunaikan shalat subuh di Masjid Al Muhajirin Koya Barat yang di lanjutkan dengan kegiatan kajian Al Quran, sekitar pukul 05.30 WIT mendatangi kediaman Henock Niki (41 tahun) yang rumahnya berjarak sekitar 5 bangunan dari masjid.

“jadi terduga pelaku usai shalat subuh melanjutkan kajian bersama santri dan beberapa warga sekitar, karena di pikir kegiatan shalat subuh sudah usai di masjid, Henock Niki memutar lagu – lagu di rumahnya menggunakan sejumlah loudspeaker dengan suara yang agak keras, mungkin JUT dan kelompoknya merasa terganggu, sehingga mereka mendatangi rumah korban bersama anak buahnya dan langsung melakukan pengrusakan terhadap sejumlah alat sound system yang ada di rumah korban, bahkan juga megancam dan sempat menganiaya seorang remaja”, kata AKP D. Pieter Kalahatu, SH, Kapolsek Muara Tami kepada sejumlah wartawan di lokasi kejadian.

Menurut penuturan warga sekitar, memang selama ini keluarga Henock Niki biasa memutar lagu – lagu di pagi hari, selain menggunakan sejumlah sound system ukuran besar juga menggunakan sebuah TOA yang di letakkan di tower bak penampungan air yang ada di belakang rumahnya.

Namun warga sekitar selama ini tidak mempersoalkannya, karena apabila tiba panggilan adzan misalnya yang bersangkutan juga mematikan sound systemnya.

“Pak Henock itu baik sekali mas sama kami disini, kalau ada orang mabuk, dia selalu lindungi kami, kalau Natalan saya yang biasa masak di rumahnya untuk tamu – tamunya yang muslim, karena banyak tamunya yang muslim, kalau soal putar lagu – lagu sih memang biasa mutar, tapi tidak sering juga, tapi bagi kami disini tidak masalah sih, kalau ada adzan juga dia berhenti kok”, kata sepasang suami istri yang mengelola cucian motor dan kios pas di depan Masjid Al Muhajirin Koya Barat.

Seorang jamaah masjid lainnya yang di temui TIFAOnline usai shalat Dhuhur di Masjid Al Muhajirin juga sangat menyayangkan tindakan main hakim sendiri yang dilakukan oleh anggota JUT.

“dulu juga pernah ada warga yang biasa mutar lagu pake TOA, karena kami merasa terganggu apalagi bila masih ada ibadah atau pengajian di masjid, tapi warga sini tidak main hakim sendiri, kami adukan ke RT dan RW, dan RW yang datang komunikasi, akhirnya warga tersebut juga memahami kok, nggak pake ribut kayak begini”, kata seorang jamaah masjid Al Muhajirin Koya Barat.

Soal lagu – lagu yang sering di putar warga sekitar menggunakan pengeras suara keluar (TOA) bagi warga sekitar terkadang memang agak mengganggu kalau ada kegiatan di masjid, tetapi itu hal yang biasa bagi warga setempat sebenarnya.

“yahh, kalau mau jujur memang sih agak terganggu, apalagi biasa kalau abis shalat ada pengajian singkat di dalam masjid dan tidak pake pengeras suara dalam, jadi suara musik terdengar keras ke dalam masjid, sehingga kami tidak dengar baik ceramah, tapi kami tidak pernah persoalkan, makanya kami kaget kalau ada anggota JUT yang main geruduk tanpa koordinasi dengan kami warga disini, karena mereka itu kan mukimnya di Arso XIV sana, bukan warga disini, kami tidak setuju juga cara itu”, katanya menyayangkan aksi main hakim sendiri dan pake kekerasan dari para pelaku.

Beberapa warga sekitar masjid yang ditemui TIFAOnline sangat menyayangkan aksi geruduk yang di lakukan oleh anggota kelompok JUT, karena menurut mereka persoalan begitu kalau di bicarakan baik – baik, silaturahmi dan datangi warga di maksud pasti mengerti kok.

“sejauh ini kalau kami ada kegiatan di masjid, dan ada suara lagu yang mengganggu, cukup kami silaturami dan beritahukan, pasti warga disini paham kok, karena kami hidup rukun selama bertahun – tahun, baru setelah ada kelompok ini hadir di sini baru sering ada ribut begini sih”, kata seorang ibu lainnya.

Hingga berita ini di naikkan, Jafar Umar Thalib dan 7 (tujuh) anggotanya masih di tahan dan menjalani pemeriksaan di Mapolda Papua, dan belum ada penjelasan resmi terkait aksi mereka terhadap keluarga Henock Niki, hingga berita ini di publish, TIFAOnline juga belum berhasil mengkonfirmasi Jafar Umar Thalib.

“pemeriksaan masih berlangsung, dan polisi akan memproses kasus tersebut, dan ini murni kriminal”, kata Irjen (Pol) Martuani Sormin, Kapolda Papua sebagaimana di kutip dari Kantor Berita Antara. (walhamri wahid)

Tinggalkan Balasan