HEADLINEPERISTIWA

Ratusan Pengungsi Nduga di Wamena Butuh Penanganan Khusus Segera

Ratusan pengungsi Nduga di Wamena butuh penanganan khusus segera, tampak beberapa pengungsi Nduga ketika tiba di Bandara Wamena, dan Pastor Jhon Djonga, pendiri Yayasan Teratai Hati Papua (Foto : dok. rri.co.id & floresa.co)Ratusan pengungsi Nduga di Wamena butuh penanganan khusus segera, tampak beberapa pengungsi Nduga ketika tiba di Bandara Wamena, dan Pastor Jhon Djonga, pendiri Yayasan Teratai Hati Papua (Foto : dok. rri.co.id & floresa.co)

TIFAOnline, JAYAPURA— Ratusan pengungsi dari Kabupaten Nduga yang saat ini menumpang di rumah – rumah kerabat mereka di Wamena, Kabupaten Jayawijaya membutuhkan perhatian dan penangan khusus dari pemerintah segera.

Hal tersebut di sampaikan oleh Pater Jhon Djonga, pendiri Yayasan Teratai Hati Papua yang sudah beberapa bulan ini menyelenggarakan pendidikan darurat bagi anak – anak pengungsi Nduga bersama dengan Dinas Pendidikan dan Pengajaran Kabupaten Nduga di Wamena, Jayawijaya.

Menurutnya saat ini, ratusan keluarga pengungsi Nduga tersebar di kurang lebih 23 titik, mereka mendiami rumah kerabat mereka yang bermukim di Wamena, sehingga dalam satu rumah ada yang di huni oleh 10 sampai 20 kepala keluarga.

Dan kondisi ini bila di biarkan bisa menimbulkan masalah baru lagi, mengingat kerabat yang mereka tumpangi tersebut kondisinya juga jauh dari berkecukupan, sehingga dikhawatirkan mereka bisa alami kelaparan, di dera beberapa penyakit, dan bisa timbulkan persoalan sosial lainnya.

“pemerintah harus segera membuka semacam posko penanganan pengungsi, jadi tidak bisa sekedar kirim tim lagi untuk memantau, yang dibutuhkan saat ini adalah aksi nyata, supaya bisa dilakukan pendataan, sehingga di ketahui pasti berapa jumlah pengungsi dari Nduga yang terpencar ke bebrapa kabupaten, khususnya yang ada di Wamena sini”, kata Pater Jhon Djonga melalui saluran telpon, Senin (11/3/2019).

Ia mengaku tidak memiliki data pasti berapa jumlah pengungsi Nduga yang saat ini bertebaran di Wamena dan sekitarnya, namun kalau anak – anak usia sekolah mulai dari SD, SMP hingga SMA yang mengikuti sekolah sementara yang di gagas oleh Yayasan Teratai Hati Papua bersama dengan Dinas P & P Kabupaten Nduga, jumlahnya kurang lebih 610 orang.

“Tiap hari ada saja tambahan siswa yang ikut bergabung, beberapa waktu lalu dari 610 anak sekolah yang ada, sekitar 30-an di antaranya sempat pingsan dan lemas, setelah kami selidiki ternyata mereka dari rumah tidak sempat makan, karena memang tidak semua kerabat bisa memenuhi kebutuhan mereka secara layak, jadi mereka hanya makan sekali saat siang di sekolah”, kata Pater Jhon Djonga lagi.

Menurutnya ada 4 hal yang harus di tangani segera oleh pemerintah, mulai dari ketersediaan tempat tinggal yang layak, pelayanan kesehatan, ketersediaan pangan yang cukup dan therapis untuk menghilangkan traumatic atau “trauma healing”.

“khusus trauma healing ini sangat di butuhkan oleh anak – anak, termasuk juga pengungsi perempuan, karena ada beberapa anak yang kami dapati cukup kronis, bila melihat rombongan aparat berseragam mereka larti ketakutan, kondisi ini tidak bisa di biarkan, karena berdampak pada psikis mereka di kemudian hari”, kata Jhon Djonga lagi.

Menurutnya beberapa keluarga yang di tumpangi oleh para pengungsi kondisinya jauh dari kecukupan, apalagi dengan adanya beban keluarga yang mengungsi, maka kondisi ekonomi mereka makin morat – marit tentunya, sehingga pemerintah harus ambil alih tugas mengurusi kebutuhan sehari – hari para pengungsi Nduga dimaksud.

Pater Jhon Djonga juga menyebutkan bahwa hingga saat ini belum ada perhatian khusus dari pemerintah baik dari Provinsi maupun dari Kabupaten Nduga terhadap para pengungsi yang ada di Wamena saat ini, meski beberapa waktu lalu ada tim kemanusiaaan maupun kunjungan beberapa pejabat yang menengok tapi sifatnya parsial dan setelah itu tidak ada lagi yang melihat kondisi mereka, sehingga para pengungsi berharap bantuan dari kerabat yang ada kepedulian.

Sejak peristiwa berdarah di Nduga yang dilanjutkan dengan upaya penegakan hukum oleh aparat TNI/Polri, arus pengungsi yang keluar dari Nduga terus mengalir ke beberapa daerah, rata – rata para pengungsi menempuh jalur darat dengan berjalan kaki menuju ke Batas Batu di perbatasan dengan Kabupaten Asmat, kemudian mereka menggunakan speedboat hingga ke Kota Agats, Kabupaten Asmat dan selanjutnya menumpang kapal laut menuju ke Merauke dan Timika, dan selnajutnya menumpang pesawat komersil maupun Hercules menuju ke Wamena maupun daerah lainnya dimana ada kerabat mereka bisa di tumpangi mengungsi. (walhamri wahid)

Tinggalkan Balasan