EDITORIALHEADLINE

Pengungsi Nduga, Pemerintah Kemana ?

Bencana di daerah lain pemerintah dan rakyat Papua getol menggalang dana lalu menyumbang, ribuan pengungsi Nduga saat ini terancam kelaparan di Wamena, kita diam saja. Pemerintah bukannya peduli dengan pengungsi, malah sibuk dengan penambahan pasukan untuk mengamankan kelanjutan proyek infrastruktur di Nduga.

Pengungsi Nduga, Pemerintah kemana ?, foto karikatur ilustrasi anak korban konflik Foto : ist/TIFAOnline)Pengungsi Nduga, Pemerintah kemana ?, foto karikatur ilustrasi anak korban konflik Foto : ist/TIFAOnline)

Sejak awal Januari 2019, rombongan demi rombongan pengungsi mengalir keluar dari Kabupaten Nduga, ada yang terpaksa berjalan kaki, ada yang menggunakan speedboat menuju ke Asmat, ada juga yang masih bisa naik pesawat Hercules maupun komersil.

Mereka terpencar – pencar, ada yang tiba di Wamena, Mimika, Asmat, Lanny Jaya bahkan mungkin juga ada yang mengungsi ke Kabupaten Puncak, dan tidak menutup kemungkinan ke Kota Jayapura dan sekitarnya.

Bagi beberapa warga masyarakat yang memiliki keluarga sebagai pejabat, dipastikan mereka tidak terlalu mengalami kesulitan dalam hidup, tapi bagi warga masyarakat yang tidak mampu dan menumpang pula di kerabatnya yang kondisinya tidak jauh beda, maka dipastikan akan menimbulkan masalah baru, apalagi bila sampai berbulan – bulan.

Dan hal tersebut bisa kita saksikan terhadap para pengungsi Nduga yang ada di Kota Wamena saat ini, sesuai laporan Yayasan Teratai Hati Papua yang bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Pengajaran Kabupaten Nduga dan telah membuka ‘sekolah darurat” di halaman Gereja Weneroma, Kampung Sapalek Ilema, Distrik Napua, Kabupaten Jayawijaya, Papua, di pinggiran Kota Wamena, jumlah anak – anak pengungsi terus bertambah setiap hari.

Dimana saat ini sudah tercatat 627 anak dengan usia sekolah SD, SMP, dan SMA, mereka tidak mungkin datang sendiri ke Kota Wamena, bila seorang anak memiliki keluarga lengkap Ayah, Ibu dan plus 1 sodara lagi, maka kurang lebih jumlah pengungsi Nduga di Kota Wamena saat ini kurang lebih 2.508 jiwa, bahkan bisa jadi lebih.

Dan saat ini, kondisi anak – anak tersebut banyak yang jatuh pingsan saat mengikuti proses belajar – mengajar di ‘sekolah darurat” dimaksud, penyebabnya mereka dari rumah tidak makan, satu – satunya tempat makan yang mereka harapkan adalah di “sekolah darurat” yang menyediakan makan siang gratis bagi anak – anak sekolah tersebut, pulang sekolah mereka mengaku tidak makan lagi hingga keesokan harinya kembali makan siang gratis di “sekolah darurat”.

Dari banyak laporan juga di sebutkan, para pengungsi Nduga saat ini terpencar – pencar di sekitar 23 titik, mereka bukan tinggal di sebuah tempat penampungan yang di sediakan oleh pemerintah, tetapi mereka menumpang di rumah kerabat dan saudara yang masih memiliki hati, sehingga dalam satu rumah bisa menampung hingga 20 orang.

Satu dua hari mungkin mereka masih bisa bertahan, demikian juga kerabat yang di tumpangi, tetapi sampai hari ini sudah memasuki 2 bulan lebih, dan bila tidak segera ada campur tangan pemerintah segera, dengan makin tidak jelasnya kondisi keamanan di Kabupaten Nduga, masih bisakah para pengungsi ini bertahan menumpang di rumah kerabatnya lebih dari 3 bulan ???

Mungkin karena saat ini tahun politik, sehingga semua energy dan perhatian pemerintah dan masyarakat tersedot ke urusan politik, alih – alih pemerintah peduli dengan bencana kemanusiaan saat ini, pemerintah malah mendorong penambahan pasukan untuk mengamankan kelanjutan proyek infrastruktur di Nduga.

Pemerintah tidak bisa tinggal diam, harus ada upaya – upaya strategis dan segera untuk memberikan penguatan dan penanganan yang lebih layak bagi para pengungsi Nduga di Kota Wamena dan sekitarnya.

Yang harus segera di lakukan adalah melakukan pendataan dan menyediakan posko – posko pengungsian yang layak lengkap dengan dapur umum, pos kesehatan, dan sejumlah layanan lainnya, termasuk layanan trauma healing bagi anak – anak dan perempuan pasca konflik.

Karena hingga kini belum ada satupun upaya – upaya kongkrit baik dari pemerintah pusat, provinsi maupun Kabupaten Nduga sendiri untuk melihat membludaknya arus pengungsian Nduga ini sebagai isu bersama.

Meski sudah ada beberapa kali kunjungan “tim – tim kecil” dari pemerintah, namun semua masih bersifat ceremonial belaka, bahkan kepada para pengungsi Nduga yang sedang berada di Wamena, sama sekali belum ada sentuhan kemanusiaan yang dilakukan, kecuali apa yang sudah dilakukan oleh Dinas Pendidikan dan Pengajaran Kabupaten Nduga dan bantuan ala kadarnya dari Dinas Sosial Kabupaten Nduga yang di rasa jauh dari kata cukup.

Bencana di daerah lain di luar Papua pemerintah dan rakyat Papua rajin dan getol menyumbang dan menggalang dana lalu mengirimkan ke luar Papua, ribuan pengungsi Nduga saat ini terancam kelaparan di Wamena, kenapa kita hanya diam saja ???

Apakah pemerintah masih menunggu ada korban jiwa yang berjatuhan dulu, baru tersadar dan menganggap ada musibah kemanusiaan di Nduga ??? (Redaksi)

Tinggalkan Balasan