HEADLINEPERISTIWA

Ratusan Anak Pengungsi Nduga Traumatis, Butuh Layanan Trauma Healing

Ratusan anak pengungsi Nduga traumatis, butuh layanan trauma healing, tampak beberapa siswa - siswi pengungsi Nduga yang mengikuti proses belajar - mengajar di sekolah darurat di Wamena, Jayawijaya. (Foto : Marius Frisson Yewun / AntaraPapua)Ratusan anak pengungsi Nduga traumatis, butuh layanan trauma healing, tampak beberapa siswa - siswi pengungsi Nduga yang mengikuti proses belajar - mengajar di sekolah darurat di Wamena, Jayawijaya. (Foto : Marius Frisson Yewun / AntaraPapua)

TIFAOnline, WAMENA— Sekitar 600-an lebih anak – anak usia sekolah mulai dari tingkat SD – SMA dari Kabupaten Nduga yang saat ini tengah mengungsi ke Wamena, Kabupaten Jayawijaya mengalami tekanan psikologis sehingga sangat membutuhkan pemulihan dari traumatic (trauma healing).

Belum hilang rasa takut dan tekanan atas konflik yang tengah berkecamuk di Nduga yang membuat mereka harus keluar dari kampung halamannya, kondisi mereka di tempat pengungsian juga kian memprihatinkan, sehingga akan makin memperparah kondisi anak – anak tersebut secara psikologis kalau tidak segera dilakukan pemulihan.

“beberapa anak hampir setiap hari ada yang lemas dan jatuh pingsan, karena mereka kurang makan, sehari mereka hanya makan sekali saat di sekolah darurat yang kami bentuk, dari rumah mereka tidak pernah makan, karena kondisi kerabat yang di tumpangi juga jauh dari berkecukupan”, kata Ence Geoh, Sekretaris Eksekutif, Yayasan Teratai Hati Papua (YTHP) Papua yang sudah 3 bulan ini melakukan advokasi dan pendampingan kepada anak – anak pengungsian Nduga di Wamena, Selasa (12/3/2019).

Menurutnya hingga kini kurang ada perhatian serius dari Pemerintah baik pusat, provinsi maupun kabupaten, padahal bila merujuk dari jumlah anak – anak pengungsian Nduga yang mengikuti pendidikan di sekolah darurat yang di gelar oleh YTHP bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Pengakaran Kabupaten Nduga di halaman Gereja ….. saat ini berjumlah 627 anak, artinya jumlah pengungsi Nduga di Wamena sudah berjumlah lebih dari 1.000 jiwa bahkan mungkin 2.000 jiwa.

“setiap hari jumlah anak – anak sekolah yang datang ke sekolah darurat ini bertambah, awalnya hanya 200 orang, awal berdiri kami target hanya untuk 400 orang, ternyata saat ini sudah bertambah terus menjadi 627 orang, dan sebagian besar dari mereka ini mengalami trauma psikis yang lumayan berat, sehingga membutuhkan trauma healing pasca konflik, apalagi kondisi mereka saat ini sebagai pengungsi”, kata Ence Geoh, Sekretaris Yayasan Teratai Hati Papua (YTHP), Selasa (12/3/2019).

Menurutnya anak – anak yang berusia sekolah mulai dari SD hingga SMA yang saat ini ikut proses belajar – mengajar di sekolah darurat yang di dirikan YTHP bersama dengan Dinas Pendidikan dan Pengakaran Kabupaten Nduga masih agak tertutup  apabila bersua dengan orang baru, bahkan beberapa diantaranya langsung lari ketakutan bila melihat aparat berpakaian seragam lengkap.

“menurut pengakuan beberapa anak SMA yang sudah kami konseling, mereka trauma pernah melihat teman mereka sesama kelas 3 SMA yang kena tembak terus mati, makanya dengan keterbatasan kami dan relawan ada sekitar 18 orang kami mencoba melakukan trauma healing setiap hari Sabtu”, kata Ence Geoh lagi.

Ia menyadari bahwasanya kegiatan setiap hari Sabtu yang ia lakukan bersama dengan anak – anak pengungsi selama ini belum bisa di katakana sebagai trauma healing, karena saat ini YTHP tidak di dukung oleh psikologis yang memahami metode trauma healing yang benar.

“bagi kami adalah bagaimana mengajak anak – anak ini gembira, bebas dari stress dan melupakan sesaat kesulitan hidup mereka sebagai pengungsi, kegiatannya biasa yang perempuan menganyam noken sambil bercerita, kadang olahraga atau bermain bersama”, katanya.

Menurutnya anak – anak pengungsi tersebut saat ini mengalami trauma yang mendalam sehingga butuh penanganan khusus, apalagi bila selama mengungsi ini kebutuhan mereka tidak tercukupi dengan baik hal tersebut bisa kian memperparah psikis mereka. (walhamri wahid)

Tinggalkan Balasan