HEADLINETANAH PAPUA

Ada Posyandu Lansia di Kampung Wiantre Arso V

Ada posyandu lansia di Kampung Wiantre Arso V, tampak Edi Tulus Setiawan, Kepala Kampung Wiantre. (Foto : Amri/ TIFAOnline)Ada posyandu lansia di Kampung Wiantre Arso V, tampak Edi Tulus Setiawan, Kepala Kampung Wiantre. (Foto : Amri/ TIFAOnline)

TIFAOnline, KEEROM— Lazimnya Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) di gelar untuk anak bawah lima tahun (balita), tetapi di Kampung Wiantre Arso V, Distrik Skamto, Kabupaten Keerom secara rutin sebulan sekali juga di gelar Posyandu Lansia, yang pelaksanaannya bersumber dari Dana Desa (DD) maupun Alokasi Dana Desa (ADD).

“di Kampung Wiantre ada sekitar 62 orang warga saya yang sudah sepuh, atau lanjut usia dengan usia di atas 60 tahun, makanya kami rutin menggelar Posyandu Lansia di Balai Kampung sebulan sekali”, kata Edi Tulus Setiawan, Kepala Kampung Wiantre kepada TIFAOnline belum lama ini.

Adapun kegiatannya berupa pemeriksaan rutin terhadap kondisi kesehatan mereka dan juga sekaligus pemberian penyuluhan bagaimana agar mereka mengatur pola makan, pola hidup dan berusaha menjaga stamina tubuh agar tetap terjaga kesehatannya.

“kita datangkan dokter, yang di periksa mulai dari gula darah, kolesterol, dan juga keluhan – keluhan apa saja yang di alami oleh orang tua kita yang lansia, juga ada pemberian vitamin, juga makanan snack – snack, dengan kegiatan ini, para lansia bisa memantau dan mengontrol kesehatan mereka secara rutin, kalau ada yang sakit bisa langsung di kasih obat”, kata Edi Tulus Setiawan ketika ditemui TIFA Online di kantornya di Kampung Wiantre.

Menurutnya seluruh kegiatan Posyandu Lansia tersebut di anggarkan dari Dana Desa dan Alokasi Dana Desa bersama – sama dengan kegiatan Posyandu untuk ibu dan anak yang juga rutin dilakukan selama ini.

Terkait penggunaan DD maupun ADD selama ini selain untuk kegiatan pelayanan juga lebih di fokuskan dalam pembangunan infrastruktur desa, khususnya jalan produksi.

Dimana Kampung Wiantre saat ini di diami sekitar 1.856 jiwa dengan jumlah 530 Kepala Keluarga (KK) yang terdiri dari 996 laki – laki dan 863 perempuan yang mayotitas berpenghasilan dari hasil pertanian.

“mayoritas warga saya petani, disini produk unggulan kita buah – buahan dan sayur mayur, atau palawija, untuk sawah memang belum ada, karena belum adanya irigasi, produk unggulan kita buah semangka, melon, dan sayuran, makanya DD dan ADD yang kami terima selama ini kai gunakan untuk bangun jalan produksi dan juga jembatan dalam kampung”, kata Edi Tulus lagi.

Dimana selama dua tahun ini dengan DD sebesar kurang lebih Rp. 1 miliar di tahun 2017 dan Rp. 1,2 miliar di 2018 mereka sudah berhasil membangun jalan produksi ke kebun – kebun kurang lebih 3 Km dan jembatan 2 unit dalam setiap tahunnya.

Ia berharap di tahun 2020 penimbunan jalan produksi di Kampung Wiantre semuanya bisa tuntas, termasuk jembatan.

“kami terima kasih dengan adanya DD dan ADD, karena kami bisa menjawab kebutuhan kampung secara langsung, kalau menunggu program dari OPD di kabupaten lewat Musrenbang, entah kapan kami bisa bangun, karena tidak ada usulan kami yang dijawab, di tahun 2019 ini kayaknya masih sama focus kami, tuntaskan jalan produksi dan jembatan, karena itu sangat menolong para petani untuk angkut hasil kebun mereka”, kata Kepala Kampung Wiantre yang masa jabatannya akan berakhir Desember 2019 ini.

Namun menurutnya ada beberapa hal yang perlu di pertimbangkan lagi terkait proses pencairan DD maupun ADD ke kampung.

“sebelumnya di tahun 2017 kan dua termin pencairan, di 2018 ini berubah jadi 3 termin, ini sangat menyulitkan kami, karena ada kegiatan yang harusnyadi selesaikan sekaligus, tetapi karena menunggu pencairan yang 3 termin, akhirnya terhambat, kalau 2 termin saja kan, pencairan dananya sekaligus, jadi kegiatanya juga tuntas, akibatnya karena tidak ingin kegiatan terbengkalai, terpaksa kami harus berhutang agar pekerjaan yang sudah berjalan separuh tidak rusak karena tunggu dana cair”, kata Kepala Kampung Wiantre.

Soal pelaporan selama ini kampungnya tidak pernah mengalami kendala dan masalah, hanya saja ia menyoroti kinerja Pendamping Kampung yang menurutnya kurang pro aktif untuk membimbing dan mendampingi kampung.

“untuk laporan kita selalu tepat waktu, bahkan untuk tahun 2017 itu LPJ sudah kita serahkan sejak Desember, kami harap tenaga Pendamping Kampung di rekrut yang lebih cakap dan pro aktif, kalau Pendamping Distrik sudah bagus, setiap kami ada kesulitan mereka selalu bombing dan kasih solusi, tapi Pendamping Kampung sama sekali tidak aktif dan membantu kami”, kata Edi Tulis Setiawan. (walhamri wahid)

Tinggalkan Balasan