HEADLINEHUKUM & HAM

Menurut Eks Tapol Ini, Pemerintah Berlebihan Sikapi “Tantangan” TPN-OPM, Harusnya Begini Cara Menyikapinya !

Menurut Eks Tapol Ini, Pemerintah Berlebihan Sikapi “Tantangan” TPN-OPM, Harusnya Begini Cara Menyikapinya !, tampak Yusak Pakage, eks tahanan politik TPN-OPM. (Foto : Amri/ TIFAOnline)Menurut Eks Tapol Ini, Pemerintah Berlebihan Sikapi “Tantangan” TPN-OPM, Harusnya Begini Cara Menyikapinya !, tampak Yusak Pakage, eks tahanan politik TPN-OPM. (Foto : Amri/ TIFAOnline)

TIFAOnline, JAYAPURA— Bagi masyarakat di kampung – kampung yang ada di Nduga saat ini yang terjadi di kampung mereka adalah “perang” antara Tentara Pembebasan Nasional – Organisasi Papua Merdeka (TPN-OPM) dengan aparat TNI/Polri.

Apalagi beberapa waktu lalu, pasca insiden pembantaian karyawan PT. Istaka Karya di Nduga, pimpinan Komando Daerah Papua (Kodap) III, Egianus Kogoya lewat sosial media menyatakan bahkan menantang TNI/Polri untuk melakukan perang.

Dan rupanya di sikapi oleh aparat TNI/Polri dengan melakukan dropping pasukan untuk mengejar para pelaku yang biasa disebut sebagai Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) dalam operasi penegakan hukum, yang berbuntut adanya arus pengungsian dan bencana kemanusiaan di Nduga.

“menurut saya sebagai eks tahanan politik / narapidana politik TPN-OPM, pemerintah saat ini terlalu berlebihan menyikapi tantangan dari TPN-OPM itu, semestinya pemerintah harus melihat, bahwa ibaratnya mereka itu (TPN-OPM-Red) adalah anak, dan pemerintah adalah orang tua, sehingga ‘tantangan’ itu harusnya di sikapi dengan tindakan yang lebih bijaksana, dengan menjawab apa yang menjadi permintaan TPN-OPM, tidak perlu di sikapi dengan baku tembak, menebar terror ke warga yang tidak tahu apa – apa sehingga terjadi bencana kemanusiaan lagi di Nduga”, kata Yusak Pakage saat jumpa pers di kantor Perhimpunan Advokasi Kebijakan dan Hak Asasi Manusia (PAK-HAM) Papua di Padang Bulan, Kamis (14/3/2019) kemarin.

Terlepas dari upaya penegakan hukum yang dilakukan oleh pemerintah terhadap pelaku penembakan karyawan PT. Istaka Karya beberapa waktu lalu, menurutnya untuk menyelesaikan masalah di Nduga dan Papua, tidak bisa sekedar pendekatan penegakan hukum saja, karena ini persoalan politik yg jadi akar masalahnya.

Masalah Papua maupun Nduga menurut Yusak Pakage saat ini sudah sangat terbuka sekali, bahkan pihak internasional juga sudah menyikapi, salah satunya oleh persatuan gereja – gereja dunia beberapa waktu lalu, bahkan juga sudah jadi pembahasan di PBB.

Ia merasa prihatin dengan kondisi masyarakat di Nduga, tapi juga prihatin dengan sikap pemerintah yang masa bodoh dengan kondisi HAM di Papua, apalagi sampai menempatkan pasukan dalam jumlah besar di Nduga.

“kita tidak bisa menutupi atau berusaha mengaburkan keberadaan TPN-OPM dengan istilah – istilah KKB, KKSB, dan lain – lain, karena faktanya TPN- OPM itu ada, dan sudah berdiri sejak tahun 60-an, dan mereka ada memang untuk perang merebut kemerdekaan Papua Barat, tetapi bukan berarti pemerintah harus menanggapi sebagai musuh negara”, kata Yusak Pakage lagi.

Sebgai eks tahanana politik TPN-OPM, selama ini pihaknya tidak menyangkal kebaikan NKRI.

“sebenarnya negara Indonesia itu baik, kalau mau berpikir bahwa mereka itu adalah oang tua dari Papua, kita terima kasih, karena negara selama ini sudah didik OAP jadi pilot, dokter, dan lain – lain, negara sudah buat banyak hal untuk Papua sampai hari ini, jadi kami anggap Indonesia itu sebagai orang tua, dan sebagai orang tua mestinya harus berpikir bagaimana menyelesaikan masalah ini dengan baik dan damai, jadi bukan dengan menempatkan aparat yang banyak, karena yang di inginkan oleh TPN-OPM itu adalah bagaimana ada upaya – upaya dialog dengan melibatkan negara – negara netral”, kata Yusak.

Ia berharap pemerintah menyikapi sikap perlawanan dari TPN-OPM dengan mencoba melakukan komunikasi, dialog dengan melibatkan pihak ketiga yang di anggap netral bagi kedua belah pihak.

“jadi harusnya ada upaya memfasilitasi dialog dengan pihak netral yang melakukan mediasi antara TPN-OPM dengan pemerintah, itu sebenarnya pesan dari tantangan yang di sampaikan oleh kelompok Egianus Kogoya, cara menyikapinya seperti itu”

Menurutnya tantangan yang di sampaikan Kodap III pimpinan Egianus Kogoya bukan bermakna perang dalam artian sesungguhnya, kalau benar TPN-OPM ingin perang pasti bukan hanya Kodap III saja yang bergerak, Kodap – Kodap lainnya juga pasti akan melakukan yang sama,

“jadi harusnya negara dan pemerintah ini harus lakukan pendekatan sebagai orang tua membuka diri dan menjawab apa yang di inginkan oleh TPN-OPM ini, dan biar dalam forum itu ada tarik ulur, saling membuka diri, sehingga di dapat solusi yang terbaik bagi masing – masing pihak”, kata Yusak Pakage. (walhamri wahid)

Tinggalkan Balasan