HEADLINEPERISTIWA

Ini Tiga Faktor Penyebab Banjir Bandang Sentani Menurut Kepala BNPB

Ini tiga faktor penyebab banjir bandang Sentani menurut Kepala BNPB, tampak Letjen (TNI) Doni Monardo, Kepala BNPB ketika meninjau kondisi jembatan Kampung Harapan yang rusak di salah satu sisinya. (Foto : Amri/ TIFAOnline)Ini tiga faktor penyebab banjir bandang Sentani menurut Kepala BNPB, tampak Letjen (TNI) Doni Monardo, Kepala BNPB ketika meninjau kondisi jembatan Kampung Harapan yang rusak di salah satu sisinya. (Foto : Amri/ TIFAOnline)

TIFAOnlin, SENTANI— Setelah meninjau langsung beberapa titik meluapnya air bah dari kawasan Cagar Alam Gunung Cycloop yang tumpah ruah ke Kota Sentani dan sekitarnya, kesimpulan sementara Pemerintah Kabupaten Jayapura dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) ada 3 faktor yang menyebabkan terjadinya banjir bandang yang telah menelan korban jiwa hingga 72 orang.

“ada 3 faktor sementara menurut kami yang jadi pemicu, yang pertama topografi Cagar Alam Gunung Cycloop, intensitas hujan yang cukup tinggi sejak sehari lalu, dan faktot ketiga adalah faktor manusia, dimana kaki Gunung Cycloop sebagai kawasan Cagar Alam sudah di alih fungsikan, dimana ada penebangan hutan untuk pembukaan kebun”, kata Doni Monardo, Kepala BNPB saat memberikan keterangan pers di damping Mathias Awaitou, Bupati Kabupaten Jayapura di media center RS Bhayangkara Kotaraja, Senin (18/3/2019).

Menurutnya kemiringan Cagar Alam Cycloop sangat terjal, lapisan tanahnya sangat tipis, bahkan di bawahnya langsung ada bebatuan yang juga sudah di tumbuhi tanaman, sehingga begitu ada sedikit saja tanaman yang terkupas, akan akibatkan longsor, karena gaya gravitasi, sehingga dengan kemiringan lebih dari 40 derajat menyebabkan limpasan air dan endapan material diatasnya  dengan cepat meluncur ke daerah yang lebih rendah.

“Intensitas hujan juga cukup tinggi, mulai dari Sabtu (16/3/2019) pukul 20.00 WIT hingga pukul 23.30 WIT, kurang lebih 5 jam 30 menit, sehingga volume air sangat besar, ditambah hilangnya daya tampung Cagar Alam Cycloop akibat pengundulan hutan, sehingga dengan cepat air meluap ke daerah yang lebih rendah di kawasan permukiman dengan membawa berbagai macam material diatasnya”, kata Doni Monardo lagi.

Sedangkan faktor manusia menurutnya karena tidak adanya kesadaran dan pemahaman masyarakat yang menebang pohon – pohon untuk membuat kebun.

“saya mendapatkan banyak laporan dari masyarakat dan teman – teman di Jakarta dari Papua, sebagian besar kawasan Cycloop ini sudah dijadikan kawasan kebun oleh warga, butuh komitmen dari semua pihak, agar bisa mengingatkan masyarakat untuk sukarela mengosongkan kawasan Cycloop, dan di fungsikan sesuai peruntukkannya, dan agar bencana yang sama tidak terulang lagi dan makan korban”, kata Kepala BNPB.

Solusi yang di tawarkan adalah bagaimana masyarakat harus di biasakan untuk membudi dayakan pohon yang memiliki dampak ekologis tetapi juga ada dampak ekonomisnya untuk menopang penghidupan masyarakat.

“Cagar Alam Cycloop harus dikembalikan fungsinya, mungkin di tanami dengan tanaman kopi, atau pohon matoa, karena akar pohon matoa punya akar yang kuat untuk menahan air, sehingga fungsi hutan di kawasan Cycloop kembali normal, tetapi masyarakat juga tetap mendapatkan manfaatnya secara ekonomis”, kata Doni Monardo. (walhamri wahid)

1 Komentar

  • Solusi selanjutnya pak aturan pemerintah daerah ketat biar tidak terjadi hal ini.apabila masyarakat yang kerja kebun sampai pohon juga ditebang tpi.itu bukan penyebab saja rasa daerah lain aman tidak terjadi longsor pak.

Tinggalkan Balasan