HEADLINEOPINI

Surat Terbuka Untuk Presiden RI dari Warga BTN Gadjah Mada, Penghuni Program 1 Juta Rumah Murah Yang Langganan Banjir

ilustrasi

Pak Presiden… saya Kristianus Payong Kuma, ‎

Ijinkanlah kami menulis sedikit keluhan hati dan rasa gundah kami yang selama ini salalu memuji dan mengidolakan seluruh gebrakan pembangunan hingga kami di ujung timur matahari terbit Tanah Papua. Kinerja yang benar-benar pro rakyat.

Kami tinggal di Papua, sudah 10 kali Pak Presiden kunjungi, tepatnya di Kabupaten Jayapura ibu kota Sentani, kemarin baru saja Bapak membagikan sertifikat.

Kami sudah berusaha menjumpai Bapak Presiden namun apalah daya kami tidak mampu dengan pengawalan yang sangat ketat dengan senjata lengkap Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres).

Kami hanya memandangi Bapak dari kejauhan. Kami ingin sekali berjumpa mengutarakan isi hati kami, namun Bapak dikawal sangat ketat, karena itu melalui surat ini kami goreskan isi hati kami…

Pak Jokowi…

Kami sangat senang dengan program 1 juta rumah untuk kami. Rumah bersubsidi yang mampu kami beli. Kami sangat senang mempunyai rumah baru. Anak-anak kami bermain dan belajar, tidak sama ketika kami masih kontrak/kos  begitu sempit.

Kami beli dengan hasil keringat kami, kami bangga dengan usaha bisa punya rumah sendiri. Kami sangat berterima kasih atas kebaikan dan program Pak Presiden yang langsung menyentuh kami di ujung Timur Indonesia Tanah Papua tepatnya Kampung Yahim-Kabupaten Sentani

Pak Jokowi…

Rasa senang dan kepuasan kami hanya sesaat, lantaran rumah kami setiap kali turun hujan pasti banjir.

Tadinya anak-anak kami senang bermain dan belajar, kini mereka harus murung buku-bukunya direndam air. Alat-alat bermainnya di bawa pergi dalam sekejap oleh air. Anak-anak kami trauma.

Setiap kali turun hujan, mereka sudah tidak bisa tidur, takut mainannya kembali di bawa banjir televisi yang selalu mereka tonton pun ikut pergi tak ada yang tersisah.

Pak Presiden…

Kami tidak marah dengan Bapak, kami hanya sedih kenapa rumah kami dibangun di atas lahan yang merupakan daerah resapan air, daerah permukiman sagu.

Dibangun dengan izin yang tidak jelas. Rumah kami dibangun oleh PT Agung Kusuma Jaya (AKJ). Kami tidak tau developer ketika membangun rumah kami mengantongi analisis dampak lingkungan (Amdal) atau tidak, yang menjadi salah satu syarat untuk mendapat izin dari Pemerintah Kabupaten Jayapura untuk membangun. Kami tidak menyalahkan Bapak.

Pak Jokowi…

Sejak PT. Agung Kusuma Jaya memasarkan perumahan bersubsidi dari Program Bapak melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia yang berlokasi di kebun sagu Kampung Yahim Distrik Sentani Kabupaten Jayapura.

Dalam pemasaran tersebut, developer PT. Agung Kusuma Jaya bersama Bank BTN dan Bank Papua memaparkan berbagai kemudahan yang menjadi daya tarik warga yakni: bebas banjir, sumur bor, listrik PLN, type bangunan 36/99m2, IMB, DP bisa dicicil, bangunan layak huni, perumahann bersubsidi.

Pak Presiden…

Pada tahun 2014 pembangunan tahap I telah selesai dibangun dan satu persatu mulai dihuni oleh kami rakyatmu yang sudah akad kredit di Bank BTN Cabang Jayapura dan Bank Papua.

Namun, saat kami masuk ke rumah dan hendak tinggal di rumah yang telah diakad ternyata bangunan belum rampung atau belum 100% selesai dikerjakan karena saat itu belum terpasang daun pintu, daun jendela, listrik belum ada, sumur bor pun belum dikerjakan dan juga belum dilantai. Keadaan awal di rumah kami seperti itu Bapak.

Pak Jokowi…

Kami kecewa dengan kondisi bangunan yang sudah akad kredit tetapi belum rampung.

Kami mendatangi kantor pemasaran yang lokasinya di perumahan Gajah Mada untuk mengadu ke pihak developer tentang keterlambatan penyelesaian pekerjaan yang dilakukan oleh developer, tetapi semua keluhan kami tidak dihiraukan sehingga ada beberapa dari kami langsung menghubungi Bank BTN Cabang Jayapura untuk melaporkan kondisi rumah yang sudah akad kredit.

Pak Presiden…

Kami pada penghujung Desember 2014 mengalami banjir besar menggenangi perumahan kami Gajah Mada dengan ketinggian rata-rata 150 cm hingga dada orang dewasa.

Kami kembali menyampaikan kejadian tersebut ke pihak developer yang bertanggungjawab tetapi jawaban dari pihak developer “Itu hanya air lewat”.

Kami pun tidak berbuat banyak karena jumlah kami yang tinggal di perumahan Gajah Mada saat itu masih sedikit.

Kami terus kebanjiran jika hujan dengan intensitas tinggi dan tergantung permukaan kali yang mengalir dari Doyo Baru, sehingga sampai pada awal tahun 2015, tahun 2016 dan tahun 2018 masih terjadi banjir. kami terus melaporkan kejadian tersebut ke pihak developer tentang banjir

“Itu hanya air lewat”jawab mereka.

Pak Jokowi…

Kami sedih, kami tidak marah tetapi kami sangat menyayangkan kenapa bisa. Tidak adakah lokasi lain yang lebih baik lagi untuk kami.

Kami terpedaya dengan brosur bebas banjirnya. Rumah kami juga diduga tidak mengantongi Ijin Mendirikan Bangunan (IMB).

Harusnya Pemerintah Kabupaten Jayapura marah, karena salah satu Pendapatan Asli Daerah (PAD) yaitu Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) dasarnya dari IMB. Bagaimana kami bayar pajak sementara IMB kami saja diduga dipalsukan oknum pengembang.

Jika berkenan relokasi kami pada tempat yang layak, bebas dari banjir. Kami dicela rekan-rekan kami kenapa cari rumah murah di daerah resapan air. Sio, ….. Pak Presiden  siapa yang salah sebenarnya…

Pak Presiden…

Kami sudah mengadu kepada institusi kepolisian terlapor Direktur PT Agung Kusuma Jaya (AKJ) sejak Tahun 19 Desember 2016 tentang penipuan dan pemalsuan IMB namun sampai hari ini developer belum didudukan di meja pengadilan guna bertanggungjawab atas perbuatannya.

Kami terus kedinginan Pak Presiden. Bagaimana kami bekerja dengan baik jika kami selalu ketakutan karena banjir senantiasa mengintai jika hujan mulai turun.

Negara ini menganut hukum positif tetapi kami rakyat kecil bisa apa Bapak Presiden. (Hukum tumpul ke atas tajam ke bawah)

Pak Jokowi…

Kami kecewa juga dengan Pihak Bank Tabungan Negara (BTN) bank yang berpelat merah, BUMN di mana tim analisisnya harus menyelidiki terlebih dahulu keadaan di mana tempat pembangunan perumahan kami.

Jelas sekali nomor rumah tertera lebel Bank BTN, KemenPUPERA, tapi rumah kami tidak layak.

Kami pertanyakan fungsi pengawasan KemenPUPERA di Wilayah Provinsi Papua, dengan kondisi rumah dan bangunan yang sangat tidak layak.

Kami bingung dengan Bank BTN kasih keluar uang sebanyak itu tanpa melalui sebuah analisis yang akurat. Tolong Pak Menteri PUPERA bertanggungjawab.

Pak Presiden ….

Kemarin Tanggal 16-19 Maret 2019 Pak Bupati Jayapura sudah mengeluarkan surat Tanggap Darurat Bencana Banjir Bandang yang melanda kota tercinta kami Sentani.

Kami di perumahan Gajah Mada hanya pasrah karena tempat tinggal kami tadah semua air yang turun dari gunung Cyclop. Kami benar-benar tenggelam, harta benda kami habis diterjang banjir yang mengepung dari segala penjuru.

Jika Bapak Presiden dalam waktu dekat mau ke Jayapura lihat duka kami, bisa kah hanya beberapa menit saja lihat perumahan kami di BTN Gadjah Mada.

Pak Jokowi…

Ini dulu yang bisa kami sampaikan, Terima kasih telah membaca curahan hati kami Pak. Kami sangat berharap Bapak bisa menegur bawahan-bawahan Bapak ditingkat bawah yang tidak bertanggungjawab.

Kami tidak marah Bapak, kami sayang Bapak Presiden, Tuhan Yang Maha Esa selalu melindungi Bapak dalam tugas dan pengabdianmu bagi Negara tercinta Republik Indonesia. Salam kami dari tanah Papua, negeri ujung Timur matahari terbit.

Jika Bapak balik lagi ke Papua, mampirlah dan kita minum teh bersama  di Perumahan Subsidi program Bapak buat kami. Salam kerja, kerja dan kerja lebih keras lagi. Burung Cenderawasih Burung Papua, Sekian dan Terima Kasih.

8 Komentar

  • Program hrs trus berjln kehendak sang pencipta mrpkan yg teratas dri segalah sesuatu pasra bukan hal yg lunrah bgi org papua tp usaha menjadi baik adalah karya org jypr utk maju sukses

  • Kontraktor kurang ajar pu kerja – itu Daerah Resapan Air – atas dasar apa dia bangun perumahan disitu

    Kalau aman harusnya dia juga ikut tinggal disitu – dasar orang jahat serakah kerjanya hanya menyusahkan orang

  • Ini bukti adanya oknum bank btn yg bermai main di tingkat kebijaksanaannya. Ini koruptor… kpk garus segera turun.

  • Kasihanilah kami pak, entah kami harus minta keadilan ke siapa lagi kalau bukan ke bapak Presiden yang terhormat .. developer tak bertanggung jawab beserta jajarannya tu sudah lari ke tanah jawa pak, yang kami dengar pulang ke Yogya .. Harus bagaimana lagi ini ak, kami mohon dengan sangat ya bapak Presiden kami yang tercinta

  • Perumahan KPR kmi pun gak jauh dr crita di atas. Gak ada peninjauan dr pihak Bank ataupun pejabat trkait tentang bagaimana kondisi rumah. Janji yg ditawarkan oleh developer hanya tinggal janji, tp tidak sesuai knyataannya. Melaporpun kurang ada tanggapan. Akhirnya kmi yg tinggal d komplek prumahan ini hrus kluar uang lagi tuk renov rumah. Miiriiis…

  • Saya jujur membaca curhatan bapak sampe merinding,bukan takut ataw marah,,,saya kagum bahsa Bapak ini karena menyampaikannya begitu halus tutur tulisnya,meski ada rasa kecewa begitu tinggi atas apa yg telah menimpa mereka,tapi aesikitpun tidak ada menyalahkan Bapak DjokoWi.beda aeperti saudara saudaraku yg hobbynya demo dan suka nyinyir,siapa yg berbuat,presiden yg di suruh tanggung jawab…..semangat terus bapak,semoga Tuhan melindungi bapak dan warga lainnya,aammiin yra.

  • Terima kasihku untuk Tifa on line yang bersedia menaikan surat terbuka yang saya tulis. Sesungguhnya itu merupakan ungkapan rasa.sedih menahun yang kami alami. Terima kasihku juga untuk saudara dan saudariku yang terus memberikan doa.dan dukungan kepada kami. TUHAN menolong kita sekalian.

Tinggalkan Balasan