FEATUREHEADLINEPERISTIWA

Kisah Yance Dallen di Pengungsian, Sudah 4 Hari Tidak Mandi, Kalau Malam Tidur Tanpa Selimut

Yang dipikirkan para pengungsi saat ini bukan soal makan minum, karena di posko pengungsian tersedia, tapi bagaimana mereka membenahi rumah mereka yang rusak parah, bahkan ada yang rata dengan tanah, apakah mereka akan bertahan di pngungsian sampai pemerintah bangunkan ?

Kisah Yance Dallen di pengungsian, sudah 4 hari tidak mandi, kalau malam tidur tanpa selimut, tampak Yance Dallen, salah satu pengungsi di HIS Sentani. (Foto : Amri/ TIFAOnline)Kisah Yance Dallen di pengungsian, sudah 4 hari tidak mandi, kalau malam tidur tanpa selimut, tampak Yance Dallen, salah satu pengungsi di HIS Sentani. (Foto : Amri/ TIFAOnline)

Oleh    : Walhamri Wahid

Sudah 6 hari Yance Dallen dan keluarganya mengungsi ke Hillcrest International School (HIS), bersama 400 orang lainnya mereka menempati sebuah lapangan futsal milik sekolah bagi anak WNA yang bekerja di Jayapura dan sekitarnya.

Yance Dallen adalah salah satu keluarga terdampak korban banjir bandang Sentani, rumahnya berada di Jalan Kuburan Sentani, tidak jauh dari Kali Pos VII Sentani.

Kepada TIFAOnline di tempat pengungsian HIS, Minggu (24/3/2019) pukul 10.00 WIT, Yance Dallen menuturkan bahwa pada hari Sabtu (16/3/2019) Kota Sentani sudah hujan dari pukul 16.00 WIT, tetapi ia dan istrinya keluar rumah karena ada keperluan.

“jam 20.00 WIT, hujan memang deras, saya ada di Jalan Sosial, hujan sempat berkurang sedikit, tapi di Jalan Sosial sudah banjir, bahkan saya sempat bantu warga yang mobilnya terendam, tapi saya tidak pikir bahwa di saya punya kompleks juga kejadian yang sama terjadi”, kata Yance Dallen dengan suara lemas, karena mengaku sudah dua hari kurang enak badan.

Menurutnya sekitar pukul 21.00 WIT, istrinya dengan adik iparnya pulang duluan ke rumah dan menelpon bahwa air sudah naik juga.

“jadi waktu kejadian hanya ada istri saya dengan adik ipar saya di rumah, saya malah ada bantu warga yang kebanjiran di Jalan Sosial, jadi istri saya itu dengan adik ipar nekat berenang masuk ke rumah untuk selamatkan tas yang berisi surat – surat penting, itu saja yang mereka sempat keluarkan, lalu lari ke tempat ketinggian”, kata Yance Dallen, di damping istrinya yang hanya berdiam diri terlihat masih trauma.

Setelah sampai di ketinggian istri dan adik iparnya berdoa sambil memantau dari kejauhan bagaimana bebatuan besar dan juga kayu – kayu panjang menghantam bagian belakang rumah mereka hingga jebol.

“setelah mereka dua berdoa, di bagian depan itu ada semacam tumpukan batu dan kayu yang lindungi bagian rumah kami, jadi semacam benteng begitu, sehingga hanya air dan pasir yang masuk ke bagian depan rumah, sedangkan pohon – pohon dan bebatuan besar tertahan, kalau tidak rumah kami rata dengan tanah, tapi bagian belakang rumah, septic tank dan pipa air sudah jebol”, tuturnya.

Kondisi rumahnya saat ini masih penuh dengan pasir dan lumpur, sehingga ia memutuskan mengungsi ke HIS agar dekat dengan rumahnya dan sesekali bisa menengok.

“kami mengungsi ke sini sejak hari kedua, hari pertama mengungsi di Pos VII, sudah mulai rasa stress juga ini, dua hari ini macam badan kurang enak, karena tidak ada aktifitas, mau pergi kerja juga sampai hari ini belum bisa naik ke tempat kerja”, kata Yance Dallen yang mengaku tinggal di Lereh, sebuah Distrik di Kabupaten Jayapura yang hingga saat ini belum bisa terjangkau lewat darat, karena jembatan menuju ke sana juga terputus.

“saya (Pjs) Kepala Kampung di Lereh, jadi sering bolak – balik naik turun ke Jayapura, anak saya dua orang ada sekolah di sana, yang satu ikut neneknya ke Depapre, jadi saat kejadian di rumah hanya istri dan adik ipar saya saja”, kata Yance.

Menurutnya tempat pengungsian di HIS cukup representative hanya karena ruang semi terbuka sehingga bila malam hari terasa dingin karena berada di ketinggian bukit di Kaki Gunung Cycloop.

“kalau malam apalagi hujan, disini dingin sekali, memang ada pembagian selimut, tikar, tapi masih kurang, jadi kami lebih utamakan untuk lansia, ibu hamil dan anak – anak, sedangkan kami yang muda atau orang dewasa memilih baku tumpuk saja dalam 1 tikar, sebagian tidur di lantai, karena lantai pakai keramik juga”, kata Yance lagi.

Menurut pengakuan Yance Dallen dan beberapa pengungsi di HIS yang menjadi kesulitan mereka adalah terbatasnya air bersih di tempat pengungsian tersebut, padahal jumlah pengungsi yang ada di lokasi itu berjumlah kurang lebih 400 orang.

“kamar mandi hanya ada dua, satu untuk perempuan satu lagi untuk laki – laki, jadi kalau pagi itu kita antri panjang, makanya hanya bisa cuci muka, sikat gigi saja, saya ini sudah mau 4 hari tidak mandi dan belum ganti baju juga, karena tidak ada pakaian yang bisa kami selamatkan”, katanya.

Menurutnya selama di pengungsian HIS untuk kebutuhan makan minum mereka tidak mengalami kendala, karena dalam sehari mereka makan 3 kali, karena adanya Dapur Umum dari Dinas Sosial Provinsi Papua di lokasi tersebut.

“kalau pagi kami bangun terus berdoa bersama, lalu sarapan bikin teh atau kue – kue sambil santai – santai, ngobrol dengan pengungsi lainnya, ada juga yang pulang tengok rumah, nanti mau jam 09.00 WIT kami kumpul doa bersama lalu makan pagi, nanti jam 12.00 WIT kita makan siang, dan makan malam sudah bisa mulai sejak jam 17.00 WIT”, kata Yance Dallen.

Sudah beberapa hari ini tidak ada aktifitas berarti yang mereka lakukan, bahkan beberapa diantara para pengungsi sudah mulai stress.

“tadi barusan ada ibu yang baku rebut disini, mungkin mulai stress, yang kami pikir ini setelah dari sini bagaimana kami memperbaiki rumah kami yang sudah tidak layak ditempati, apalagi kami tidak ada simpanan”, kata Yance dengan mata berkaca – kaca.

Bagi Yance Dallen dan ratusan bahkan ribuan pengungsi lainnya di Kabupaten Jayapura saat ini tidak terlalu mengkhawatirkan soal makan minum mereka selama di pengungsian, tetapi yang membebani pikiran mereka saat ini adalah bagaimana mereka melalui hidup setelah lepas masa tanggap darurat yang ditetapkan Pemda Kabupaten Jayapura selama 14 hari, dan sisa 7 hari lagi akan berakhir.

“kalau makan minum, kesehatan kami terjamin, banyak bantuan, kami ucapkan terima kasih banyak warga yang menolong, tapi keluar dari penampungan ini dimana kami mau tinggal, apalagi kalau rumah belum di perbaiki”, katanya sambil tertunduk mencoba menutupi air matanya yang mulai menetes. (walhamri wahid)

Tinggalkan Balasan