HEADLINEPERISTIWA

Rencana Rabu Pemakaman Massal, Tim DVI Mabes Polri Sudah Bawa Sampel DNA Korban Belum Teridentifikasi ke Jakarta

Rencana Rabu pemakaman massal, tim DVI Mabes Polri sudah bawa sampel DNA korban belum teridentifikasi ke Jakarta, tampak Kepala RS Bhayangkara, dr. Heru Budiono dan Kompol Ampang, Kaur Pullah Infodok Bid Humas Polda Papua saat memberikan keterangan pers. Senin (25/3/2019). (Foto : Amri/ TIFAOnline)Rencana Rabu pemakaman massal, tim DVI Mabes Polri sudah bawa sampel DNA korban belum teridentifikasi ke Jakarta, tampak Kepala RS Bhayangkara, dr. Heru Budiono dan Kompol Ampang, Kaur Pullah Infodok Bid Humas Polda Papua saat memberikan keterangan pers. Senin (25/3/2019). (Foto : Amri/ TIFAOnline)

TIFAOnline, SENTANI— Wacana pemakaman massal terhadap 19 kantong jenazah yang hingga kini belum berhasil di identifikasi oleh Tim DVI Bid Dokkes Polda Papua kembali mencuat setelah beberapa hari lalu mendapat penolakan dari sejumlah masyarakat.

“wacana pemakaman massal kalau tidak ada halangan paling lambat hari Rabu, karena kami masih menunggu keputusan dari pemerintah yang masih berkoordinasi dengan beberapa tokoh agama, tokoh adat dan juga keluarga yang sampai hari ini belum menemukan keluarganya yang dilaporkan hilang”, kata dr. Heru Budiono, Kepala RS Bhayangkara Jayapua kepada sejumlah awak media di RS Bhayangkara, Senin (25/3/2019) malam.

Menurutnya juga 6 ahli forensik dari Mabes Polri yang sejak hari kedua banjir badang Sentani di perbantukan di RS Bhayangkara sudah kembali ke Jakarta sejak Minggu (24/3/2019).

“mereka kembali sejak kemarin ke Jakarta dan juga beberapa wilayah lainnya, sekalian membawa sampel tes DNA terhadap ke- 19 kantong jenazah yang belum teridentifikasi untuk di ambil hasilnya, sehingga bisa jadi bank data kami, kata dr. Heru.

Bila suatu saat, setelah dilakukan pemakaman massal, dan ada masyarakat yang mengaku kehilangan keluarganya, dan belum ketemu, kami bisa lakukan tes DNA terhadap yang bersangkutan dan tinggal di cocokkan dengan sampel ke-19 jenazah yang saat ini belum teridentifikasi atau yang sudah di makamkan secara massal.

“nanti kami bisa tetap menerbitkan sertifikat kematian kepada keluarga, karena surat kematian tersebut sangat di butuhkan nantinya, terkait dengan hak – hak korban, maupun pengurusan dokumen lainnya terhadap keluarga yang di tinggal”, kata Kepala RS Bhayangkara.

dr. Heru Budiono mengaku kesulitan untuk mengidentifikasi sisa jenazah yang tersisa karena kurangnya data ante mortem yang diberikan oleh keluarga yang mengaku kehilangan kerabatnya.

“kalau data antemortemnya lengkap, atau memadai dari awal, misalnya terakhir pakai baju apa, atau ada tanda khusus apa, seperti tattoo, itu bisa membantu kami, sedangkan ini sudah masuk ke hari delapan, tanpa data – data ante mortem memadai kita agak kesulitan, makanya upaya terakhir adalah tes DNA”, kata dr. Heru.

Menurutnya saat ini pihaknya memang mengantongi sekitar 56 data – data ante mortem dari keluarga yang melaporkan kehilangan kerabatnya sejak hari pertama, namun dari 56 data ante mortem yang mereka pegang saat ini tidak ada yang cocok dengan 19 jenazah yang ada dalam kantong mayat saat ini. (walhamri wahid)

Tinggalkan Balasan