HEADLINEPERISTIWA

Masih Banyak Anak Takut Hujan, WVI Buka Ruang Sahabat Anak di Pengungsian Bencana Banjir Sentani

Masih banyak anak takut hujan, WVI buka ruang sahabat anak di pengungsian bencana banjir sentani, tampak Andre Lumy Manager Respons WVI dan seorang staff usai kegiatan trauma healing di Posko Induk Sentani. (Foto : Amri/ TIFAOnline)Masih banyak anak takut hujan, WVI buka ruang sahabat anak di pengungsian bencana banjir sentani, tampak Andre Lumy Manager Respons WVI dan seorang staff usai kegiatan trauma healing di Posko Induk Sentani. (Foto : Amri/ TIFAOnline)

TIFAOnline, SENTANI— Dari kurang lebih 500 anak yang selama ini rutin di layani Wahana Visi Indonesia (WVI) di beberapa titik pengungsian bencana banjir Sentani, sebagian besar anak – anak mengaku takut apabila mendengar bunyi petir, guntur, dan bila turun hujan.

Dan untuk menghilangkan trauma terhadap anak – anak di posko pengungsian, WVI telah mengembangkan Ruang Sahabat Anak dengan harapan bisa memulihkan anak – anak di pengungsian dari traumatic pasca bencana, atau bahkan menjadi semakin trauma dan depresi selama di tempat pengungsian akibat tempat pengungsian yang tidak layak dan nyaman.

“kita focus bagaimana menghilangkan rasa takut anak – anak kalau turun hujan, baik melalui lagu – lagu tentang hujan, menyanyi termasuk juga mereka kita ajak menggambar tentang alam, jadi bayangan mereka selama ini bahwasanya karena ganasnya alam sehingga mereka berada di pengungsian” kata Andre Lumy, Manager Respons WVI Area Jayapura kepada TIFAOnline di Posko WVI di Gunung Merah Sentani, Selasa (26/3/2019)

Menurutnya sejak di buka hari kedua pasca banjir bandang, antusiasme dan respon anak – anak sangat besar, sehingga saat ini kurang lebih 500-an anak setiap harinya yang di layani oleh WVI di beberapa lokasi titik pengungsian.

“kita layani di 4 titik, jadi dari pagi jam 09.00 WIT di Posko Induk sini selama 2 jam, nanti abis makan siang kita bergerak ke beberapa posko lainnya, rutin setiap hari”, kata Andre Lumy.

Menurutnya Ruang Sahabat Anak itu sebenarnya sangat sederhana, dengan tujuan bagaimana mengembalikan keceriaan mereka sebagai anak.

“sebelum memulai kita tanyakan dahulu perasaannya, dan sesudah kegiatan juga kita tanyakan kembali, itu hal terpenting, adapun kegiatannya seperti bernyanyi, mendongeng, bercerita, baca buku, dan mewarnai”, katanya lagi.

Karena jumlah anak – anak yang senang ikut makin banyak, hingga saat ini mereka sudah mulai membagi kelas menurut umur, dan materi yang diberikan juga di sesuaikan dengan kelompok umur yang ada.

“sejak di mulainya kegiatan ini, kita belum menemukan ada anak – anak yang depresi, kalau tanda – tanda awal ada beberapa, tetapi semenjak kita gelar Ruang Sahabat Anak ini, yang dulunya diam dan tidak mau bicara, sekarang mereka sudah berani bicara, dan ceria”, kata Andre soal potensi anak – anak ini ada yang depresi selama di pengungsian.

Lebih lanjut menurutnya Ruang Sahabat Anak yang di kembangkan oleh WVI selama ini bukan sekedar bagaimana agar anak – anak menemukan keceriaan, tetapi bagaimana anak – anak juga bisa belajar disiplin, tanggung jawab dan juga kebersihan diri.

“makanya tandon – tandon psiko sosial atau tendon interaksi selama ini kita selalu dekatkan dengan Ruang Sahabat Anak yang ada”, kata Andre. (walhamri wahid)

Tinggalkan Balasan