HEADLINESOSIAL KEMASYARAKATAN

WVI Perkenalkan Tandon Air Psiko Sosial Anak di Posko Pengungsian Banjir Sentani

WVI perkenalkan tandon air psiko sosial anak di posko pengungsian banjir sentani, tampak desain tandon air yang dikembangkan WVI untuk anak di pengungsian. (Foto : Amri/ TIFAOnline)WVI perkenalkan tandon air psiko sosial anak di posko pengungsian banjir sentani, tampak desain tandon air yang dikembangkan WVI untuk anak di pengungsian. (Foto : Amri/ TIFAOnline)

TIFAOnline, SENTANI— Beberapa anak – anak terlihat bercanda ria dengan teman di sampingnya sambil tangan membilas tangan mereka yang penuh dengan busa sabun dengan  air bersih dari sebuah tendon air bersih berlogo WVI yang memiliki sekitar 13 kran pancuran air.

“belajar dari beberapa kali pengalaman kami dalam menangani anak – anak di pengungsian, bahwasanya penanganan psikososial harus secara integrative, selain anka – anak di ajak bernyanyi, bermain, menggambar, juga mereka kita arahkan untuk membersihkan diri”, kata Andre Lumy, Manager Respons Wahana Visi Indonesia (WVI) Area Jayapura saat di temui TIFAOnline di Posko WVI di Gunung Merah Sentani, Selasa (26/3/2019)

Untuk itu dalam kegiatan tanggap darurat di Kabupaten Jayapura, WVI Papua telah mengembangkan sebuah tandon air yang berbeda dengan tendon – tendon airnya yang telah di siapkan pemerintah di posko – posko pengungsian yang ada saat ini.

“sengaja satu tendon itu kami buatkan banyak kran, sekitar 15 kran, kami melihat pada saat saya sendiri saya butuh teman, saat saya cuci tangan, sikat gigi, ada teman di samping saya, setidaknya saya merasa tidak sendiri, itu tujuan dari tandon interaksi atau tendon psikososial yang kai rancang ini”, kata Andre Lumy.

Menurutnya tendon interaksi psiko sosial yang mereka rancang tersebut merupakan bagian dari pemulihan bagi orang – orang terdampak bencana, khususnya lagi untuk anak – anak.

Sejak kami perkenalkan di beberapa lokasi banjir bandang saat kami menggelar kegiatan trauma healing, bukan hanya anak – anak saja yang tertarik, bahkan beberapa orang dewasa juga merasa terbantu, karena katanya tendon air yang disediakan oleh pemerintah hanya dengan satu kran, sehingga membuat mereka tambah kesal harus mengantri lama.

“jadi Ruang Sahabat Anak (RSA) yang kami kembangkan di posko pengungsian di banjir Sentani ini bukan sekedar ruang bermain bagi anak – anak tetapi juga anak – anak bisa belajar bersama”, kata Andre.

Menurutnya dalam tahapan penanganan trauma healing kepada para korban bencana selain penyediaan kebutuhan makan minum, tempat tinggal yang layak dan nyaman, layanan kesehatan, juga diperlukan pendekatan psikologis.

“minimal kita mau mendengar apa yang jadi keluhan atau kesulitan mereka, kita harus buat mereka senyaman mungkin sehingga mereka merasa tidak berada di sebuah kamp pengungsian”, katanya lagi. (walhamri wahid)

Tinggalkan Balasan