HEADLINEKRIMINAL

Kerja Siang Malam Bantu Korban Bencana, Polri Diterpa Isu Penculikan Bayi dan Bagi Makanan Beracun di Posko Pengungsian, Ini Tanggapan Polda Papua

Kerja siang malam bantu korban bencana, Polri diterpa isu penculikan bayi dan bagi makanan beracun di posko pengungsian, ini tanggapan Polda Papua, tampak Kombes (Pol) Ahmad Musthofa Kamal saat memberikan keterangan pers. (Foto : Amri/ TIFAOnline)Kerja siang malam bantu korban bencana, Polri diterpa isu penculikan bayi dan bagi makanan beracun di posko pengungsian, ini tanggapan Polda Papua, tampak Kombes (Pol) Ahmad Musthofa Kamal saat memberikan keterangan pers. (Foto : Amri/ TIFAOnline)

TIFAOnline, JAYAPURA— Sebuah rekaman wawancara berbentuk audio (suara-Red) oleh seorang laki – laki dan seorang perempuan yang berperan sebagai korban bencana di Posko pengungsian Hilcrest International School (HIS) Sentani beredar di masyarakat.

Dalam rekaman audio berdurasi kurang lebih 4 menit tersebut, perempuan di dalam rekaman menuding bahwa saat Polda Papua menggelar kegiatan trauma healing di Posko Pengungsian HIS Sentani, Sabtu (23/3/2019) saat semua lagi sibuk, seorang Polwan menurut si perempuan dalam rekaman coba membawa seorang anak ke dalam mobil, tetapi karena anak tersebut menangis akhirnya di keluarkan kembali dari dalam mobil.

Dalam rekaman tersebut, si perempuan menuding bahwa anggota Polwan di maksud berupaya menculik anak tersebut dari pengungsian.

Bahkan ia juga menuding saat anggota Polda Papua membagikan makanan siap santap kepada para korban di posko tersebut ternyata makanan di duga basi dan aroma lain, sehingga di duga mengandung racun sehingga ia meminta kepada para pengungsi lainnya membuang makanan yang di bagi oleh aparat karena takut ada racunnya.

“kami sudah mendapatkan rekaman audio tersebut dan tengah di dalami oleh Tim Forensik Digital dari Polda Papua, yang pasti kami pastikan rekaman itu tidak benar dan fitnah semua, untuk menjatuhkan TNI/Polri yang selama bencana banjir bandang kemarin sudah bekerja siang malam menolong para korban”, tegas Kombes (Pol) Ahmad Musthofa Kamal, Kabidhumas Polda Papua kepada awak media di Media Center RS Bhayangkara, Selasa (26/3/2019).

Menurut Kabidhumas rekaman tersebut nampaknya di buat oleh pihak – pihak yang memang tidak suka dengan TNI/Polri dengan tujuan menjatuhkan TNI/Polri di tengah apresiasi sejumlah pihak atas dedikasi yang tinggi dari para anggota TNI/Polri selama ini membantu korban banjir Sentani.

Dari dialek dan gaya bicaranya, Polda Papua sudah mengidentifikasi bahwa yang bersangkutan bukan masyarakat awam, tetapi kelompok aktivis terorganisir, karena saat di tanyai oleh si pewawancara menjawab dengan lancar dan tanpa terputus – putus layaknya masyarakat biasa yang bila di wawancarai pasti tersendat – sendat menjawab.

Kabidhumas juga mengingatkan kepda warga masyarakat yang mendapatkan kiriman rekaman audio dimaksud jangan ikut – ikutan latah membagikannya ke orang lain.

“karena dalam UU ITE yang memproduksi content, dan juga ikut menyebar luaskan bisa kena pidana, jadi kalau ada terima rekaman audio tersebut jangan di sebar lagi, bila perlu adukan ke kepolisian, dapat kiriman dari siapa”, kata A.M. Kamal.

TIFAOnline yang sempat mengunjungi lokasi pengungsian HIS di Sentani dan sempat mewawancarai beberapa pengungsi bahkan juga Dapur Umum dari Dinas Sosial yang ada di lokasi tersebut justru mendapatkan informasi berbeda dengan yang di sampaikan oleh si perempuan dalam rekaman tersebut.

“kami tidak pernah mendapatkan bantuan makanan basi atau beracun, kami di sini terjamin makan 3 kali sehari, ada juga bantuan dari warga dan juga organisasi dari luar, tapi tidak pernah ada yang bermasalah”, kata Yance Dallen kepada TIFAOnline, Minggu (23/3/2019).

Demikian juga petugas di Dapur Umum di Posko Pengungsian HIS, William Inggabouw menjelaskan bahwa selama ini tidak pernah ada keluhan soal makanan dari sekitar 400- an pengungsi yang ada ditempat tersebut, apalagi sampai ada yang keracunan makanan baik dari dalam maupun yang bantuan dari pihak luar.

Karena mulai dari makan minum hingga keperluan pribadi para pengungsi seperti pampers dan pembalut disediakan oleh dapur umum di lokasi pengungsian tersebut.

Di Posko Pengungsian HIS terdapat kurang lebih 400-an orang pengungsi yang menempati sebuah lapangan futsal milik sekolah anak – anak WNA yang orang tuanya bekerja di Papua. (walhamri wahid)

Tinggalkan Balasan